Kisah Penjual Gorengan Tuntaskan Haji sambil Dorong Kursi Roda Suami

Dua hari jelang berangkat haji, Nurul hanya punya seribu rupiah, namun ketabahan dan doa membawanya menyelesaikan rukun Islam kelima sambil mendorong kursi roda sang suami.

19 Jun 2025 - 22:51
Kisah Penjual Gorengan Tuntaskan Haji sambil Dorong Kursi Roda Suami
Nurul Hasanah dan suaminya, Muhammad Latif, tiba di Asrama Haji Surabaya usai menunaikan ibadah haji (PPIH Surabaya for SJP)

SURABAYA, SJP—Proses pemulangan jemaah haji Debarkasi Surabaya tahun 2025 masih terus berlangsung. Di antara riuh kepulangan para jemaah, terselip banyak kisah penuh perjuangan yang tak tercatat dalam dokumen-dokumen resmi.

Salah satu kisah itu datang dari pasangan jemaah kelompok terbang (kloter) SUB 24 asal Sumenep, Madura, bernama Nurul Hasanah dan suaminya, Muhammad Latif.

Mereka tiba di Asrama Haji Surabaya pada Kamis (19/6/2025) dini hari. Tampak lelah namun bahagia. Dia baru saja menuntaskan seluruh rangkaian ibadah haji, mendampingi suaminya yang menggunakan kursi roda. Bagi Nurul, perjalanannya bukan sekadar menunaikan rukun Islam kelima, tapi juga pembuktian cinta dan ketulusan.

"Saya tidak menyangka berangkat haji dengan kondisi seperti sekarang ini. Tetapi ini adalah takdir terbaik Allah SWT untuk saya," ucap Nurul saat ditemui di Asrama Haji, Kamis (19/6/2025).

Perputaran Roda Kehidupan yang tidak Terduga

Nurul dan Latif mendaftar haji pada tahun 2012. Saat itu, Latif masih merantau dan sukses menjalankan usaha jual beli rumah di Malaysia. Hidup terasa stabil, dan rencana naik haji bersama menjadi cita-cita besar keduanya.

"Setelah mulai merantau pada 2004, saat itu suami berhasil dengan usaha jual beli rumah di Malaysia," kenang Nurul.

Namun pada 2015, nasib membawa cerita lain. Latif terserang stroke saat masih di Malaysia. Dia mengalami pecah pembuluh darah di kepala hingga koma selama 15 hari. Seluruh biaya pengobatan, termasuk operasi besar di kepala, mereka tanggung sendiri.

"Saat itu saya sempat koma selama 15 hari. Biaya untuk operasi sekitar 500 juta rupiah kalau dikurskan dari ringgit, semua kami bayar sendiri," ujar Latif yang kini menginjak usia ke-60 tahun.

Bertahan dengan Berjual Gorengan

Sekembalinya ke tanah kelahiran di Desa Banasare, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep, Latif tak lagi mampu bekerja. Nurul pun mengambil alih peran sebagai pencari nafkah. Dia berjualan gorengan keliling, menyajikan beragam jajanan seperti ote-ote, pisang goreng, hingga rujak jika ada hajatan.

"Suami tidak bisa bekerja. Saya yang bekerja. Sehari-hari saya jualan gorengan. Rata-rata keuntungan yang saya peroleh per hari sekitar 20 ribu," tutur wanita 58 tahun itu.

Tak hanya berkeliling, dia juga aktif berjualan di acara pernikahan, khitanan, atau pengajian warga. Hasilnya disisihkan sedikit demi sedikit untuk melunasi ongkos haji mereka.

Seribu Rupiah Menuju Tanah Suci

Menjelang keberangkatan, Nurul mengaku sempat berada dalam kondisi nyaris tanpa bekal. "Dua hari sebelum berangkat, kami hanya punya uang seribu rupiah," ujarnya.

Namun bantuan datang tanpa diduga. Para tetangga dan saudara ikut meringankan langkah mereka dengan memberi uang saku. Dia menyebut, itu sebagai salah satu bentuk kasih sayang Allah yang nyata.

"Alhamdulillah, Allah SWT memberikan rezeki lewat saudara-saudara dan para tetangga yang memberi uang saku sebelum kami berangkat," katanya.

Menunaikan Haji sambil Mendorong Kursi Roda

Di Tanah Suci, Nurul tidak menyewa jasa mahal untuk mendorong kursi roda suaminya. Dia memilih mendorong sendiri selama di Armuzna dan saat tawaf. Untuk mobilitas di Masjidil Haram, dia menggunakan mobil golf yang disediakan pemerintah Saudi, dengan biaya resmi.

"Ketika tawaf, saya naik mobil golf dengan biaya sekitar satu juta. Layanan ini resmi dari pemerintah Saudi. Pernah juga minta tolong ke sesama jemaah dengan membayar 500 ribu," jelasnya.

Dia mengaku keberatan jika harus menggunakan jasa dorong warga lokal yang mematok harga hingga 2 juta rupiah.

"Kalau membayar jasa dorong warga setempat, bagi saya terlalu mahal," ucapnya.

Bersyukur dalam Segala Keterbatasan

Meski melalui banyak keterbatasan fisik dan ekonomi, pasangan Nurul dan Latif mampu menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji dengan baik. Nurul bersyukur, tidak ada gangguan kesehatan berat selama di Makkah maupun Madinah.

"Meskipun dengan membawa suami berkursi roda, alhamdulillah kami tidak sakit macam-macam. Hanya batuk pilek biasa," ujar Nurul.

Selama di Tanah Suci, doa utama yang dia panjatkan adalah agar Allah SWT mengampuni dosa dirinya dan keluarganya.

"Semoga semua dosa kami diampuni. Itu yang saya minta di setiap doa," ucapnya.

Kini Nurul dan suami telah meninggalkan Asrama Haji Surabaya menuju kampung halaman mereka di Sumenep. Perjalanan panjang mereka berdua dari Malaysia ke kampung halaman, dari gorengan ke Tanah Suci, menjadi bukti bahwa ketulusan dan kesabaran akan selalu menemukan jalannya. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow