Kisah Ibu Rumah Tangga di Jombang Bangkitkan Ekonomi Kreatif Lewat Tenun

Para perempuan yang sebelumnya merupakan buruh pabrik sarung kini tidak lagi bergantung pada industri besar, melainkan berdaya di atas kaki sendiri.

23 Dec 2025 - 17:20
Kisah Ibu Rumah Tangga di Jombang Bangkitkan Ekonomi Kreatif Lewat Tenun
Kegiatan menenun ibu-ibu di Jombang usai mengalami PHK saat pendemi Covid 19. Mereka tergabung dalam kelompok sentra Tenun Wastra Sejahtera. (Fredi/SJP)

JOMBANG, SJP - Sebuah krisis besar sering kali menjadi titik balik bagi munculnya kekuatan baru. Hal inilah yang dibuktikan oleh sekelompok perempuan di Dusun Penggaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang. 

Berawal dari pahitnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal akibat pandemi COVID-19, mereka kini bertransformasi menjadi penggerak ekonomi kreatif melalui Sentra Tenun Wastra Sejahtera.

Siti Khoirul Uma (41), pionir sekaligus pengelola sentra tersebut, mengungkapkan bahwa inisiatif ini lahir dari rasa solidaritas. 

Para perempuan yang sebelumnya merupakan buruh pabrik sarung kini tidak lagi bergantung pada industri besar, melainkan berdaya di atas kaki sendiri.

"Saat pabrik tutup karena pandemi, kami tidak ingin menyerah pada keadaan. Kami memutuskan untuk memulainya sendiri dan memberdayakan para ibu rumah tangga di lingkungan ini agar tetap produktif tanpa mengabaikan peran mereka di rumah," ujar Uma saat ditemui di lokasi produksi, Selasa (23/12/2025).

Produksi di Sentra Tenun Wastra Sejahtera bukanlah pekerjaan instan. Setiap helai kain merupakan hasil dari proses panjang yang menuntut ketelitian tinggi. Dimulai dari pemintalan benang, proses midang (penghitungan benang), penggambaran motif, pengikatan, hingga pencelupan warna yang dilakukan secara manual.

Tahapan berlanjut pada proses mengurai benang, memaleti, hingga akhirnya ditenun menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). 

Untuk menghasilkan satu potong kain, para perajin membutuhkan waktu rata-rata dua hari, tergantung pada tingkat kerumitan motif dan kestabilan alat.

"Tantangan teknis seperti benang putus atau kendala pada mesin memang sering menghambat, namun semangat para ibu di sini tidak pernah luntur. Dalam seminggu, seorang penenun mampu menghasilkan hingga tiga potong kain," tambah Uma.

Saat ini, Wastra Sejahtera menaungi sedikitnya 15 pekerja yang mayoritas adalah ibu rumah tangga. Model kerjanya pun fleksibel dan inklusif, sebagian menenun di sentra, sementara proses awal seperti pencelupan warna dapat dikerjakan dari rumah masing-masing.

Produk yang dihasilkan kini semakin kompetitif dan beragam, mencakup sarung goyor, kain lurik, kain motif, kain dobi, hingga produk unggulan berupa selendang warna alam. Selain itu, mereka juga memproduksi blangket dan tirai bambu dengan rentang harga Rp250.000 hingga Rp400.000 per potong.

Sistem pengupahan dilakukan secara borongan, memberikan peluang penghasilan tambahan yang signifikan bagi warga setempat. Upah midang dipatok Rp10.000 hingga Rp15.000, sementara menenun kain dapat mencapai Rp75.000 per potong.

Meski bermodal semangat swadaya, Sentra Tenun Wastra Sejahtera kini mencatatkan omzet stabil di angka Rp5 juta hingga Rp10 juta per bulan. 

Pemasaran yang semula hanya mengandalkan pelanggan tetap kini mulai merambah jagat digital melalui media sosial. Luasnya jangkauan promosi membawa produk asli Jombang ini terbang hingga ke pasar Kalimantan.

Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa pemberdayaan perempuan berbasis komunitas mampu menjadi pilar ekonomi yang tangguh di tengah ketidakpastian global.

"Untuk para ibu, teruslah berkarya dan jangan pernah patah semangat. Kita mampu membuktikan bahwa dari sebuah kesulitan, kita bisa menciptakan peluang yang luar biasa," pungkas dia. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow