Kisah Abdoel Semute, Arsitek Kultural di Balik Wajah Baru Eks Lokalisasi Bangunrejo Surabaya
Dari teater, komik independen, hingga kini sanggar tari. Tiga dekade perjalanan aktivis seni Abdoel Semute menjadi motor transformasi kultural di eks lokalisasi Surabaya.
SURABAYA, SJP— Di gang-gang Dupak Bangunrejo, Surabaya tak lagi muram. Stigma sebagai "kampung lokalisasi" perlahan terkikis. Digantikan oleh citra baru sebagai kampung seni budaya.
Bukanlah proses yang instan, di balik transformasi besar itu, ada upaya yang konsisten dari seorang motor penggerak. Sosok yang telah mendedikasikan tiga dekade hidupnya untuk aktivisme seni berbasis komunitas. Dialah Abdoel Semute, atau yang lebih akrab disapa Kang Semut. Pria inilah arsitek kultural di balik wajah baru Bangunrejo. Siapakah dia sebenarnya?
Perjalanan Panjang Seorang Aktivis Seni
Lahir di Bojonegoro pada 14 Agustus 1975, perjalanan hidup membawa Kang Semut merantau hingga akhirnya menetap di Surabaya. Meskipun mengenyam pendidikan formal di Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG), jiwanya terpaut pada dunia seni dan pergerakan.
Jauh sebelum Sanggar Omah Ndhuwur berdiri, Kang Semut adalah seorang organisator komunitas yang ulung. Rekam jejaknya terbentang selama 30 tahun melintasi berbagai medium seni.
"Aku sebenarnya sejak awal itu aku sudah bergerak di bidang seperti ini, melalui pemberdayaan anak-anak, lewat jalur kesenian dan kebudayaan," ucap Kang Semut, Minggu (1/6/2025).
Perjalanannya dimulai pada 1994 di dunia teater, bahkan sempat menjuarai Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas). Memasuki tahun 2000, ia beralih ke komik, mendirikan kelompok independen ORET 101 KOMIK dan menginisiasi Masyarakat Komik Indonesia (MKI) untuk melawan serbuan komik luar negeri.
Tak berhenti di situ, ia membentuk kolektif radikal "Milisi Fotokopi" yang menjadikan mesin fotokopi sebagai alat produksi seni. Mural jalanan hingga komunitas seni tradisi seperti PENDAKI yang fokus pada Ludruk dan Remo, semua pernah ia lakoni.
Omah Ndhuwur bukanlah proyek pertamanya. Ia adalah kulminasi dari tiga dekade pengalaman, keringat, dan keyakinan pada kekuatan seni.
Filosofi Gerakan
Di balik semangatnya yang menyala-nyala, tersembunyi sebuah filosofi mendalam yang menjadi kompas gerakannya. Hal tersebut lahir dari sebuah perbincangan dengan seorang temannya, Mbak Romodani, tentang tujuan hidup.
"Bahwa orang itu tidak pernah tahu kapan kita akan menghadap Tuhan," jelas Kang Semut.
"Sementara kalau kita mau bergerak atas nama kemanusiaan terhadap masyarakat kita, kemudian kita tidak punya target, mungkin apa yang kita anggap kebenaran bisa-bisa tidak sampai ke masyarakat karena sudah mati. Makanya kita harus melakukan satu gerakan yang taktis dan strategis," imbuhnya.
Konsep "pertanggungjawaban hidup" ini mendorongnya untuk memilih target yang paling strategis, yakni anak-anak. Baginya, anak-anak adalah generasi pewaris yang akan menentukan masa depan. Inilah yang menjadi landasan ideologis saat ia dan kawan-kawannya mendirikan cikal bakal gerakan mereka.
Evolusi di Garis Depan
Gerakan Kang Semut dimulai secara terpusat di Padepokan Seni Budaya Kampung Ilmu di Jalan Semarang, Surabaya. Dari sana, model pemberdayaan ini dicoba untuk disebarkan ke berbagai kampung. Namun, tantangan, terutama pandemi COVID-19, menggugurkan banyak cabang.
Hanya satu yang terbukti paling tangguh, yakni cabang di Bangunrejo. Karena ketahanannya, pusat kegiatan para pendiri awal padepokan itu kini justru banyak bergeser ke Sanggar Seni Omah Ndhuwur, menjadikannya pewaris spiritual dari sebuah gerakan yang lebih besar.
Sanggar tersebut sendiri berada di rumah pribadinya, yang ia renovasi seadanya bersama teman-temannya untuk menambah satu lantai. Sebuah bukti nyata dari komitmennya untuk mendedikasikan ruang personalnya bagi kepentingan komunal.
Prinsip Kerja: Konsistensi Budaya
Dalam menjalankan gerakannya, Kang Semut memegang teguh sebuah prinsip, yakni konsistensi. Menurutnya, melestarikan tradisi bukanlah tentang menciptakan inovasi yang mengubah esensi. Ia percaya pada kekuatan menjaga keaslian.
"Mempertahankan komunitas seni berbasis tradisional itu sangat berat. Karena kalau tari remo mau diganti dengan gerakan modern seperti tari koprol gitu ga mungkin, kita ingin menjaga lewat konsistensi," ujarnya.
Meski memiliki prinsip yang kuat, Kang Semut juga tidak terhindar dari berbagai tantangan, salah satunya adalah soal birokrasi yang masih membingungkan bagi dirinya.
"Sampai hari ini itu kan aku, aku gak pernah, belum pernah, gak bisa bekerja sama dengan institusi pemerintah. Aku gak pinter belajar birokrasi," akunya.
Kini, visinya tetap sama, yakni membekali anak-anak muda di Bangunrejo agar mampu bangkit dan mandiri, menggunakan seni sebagai pintu untuk membuka potensi diri. Ia tidak menutup diri, justru sebaliknya. Ia mengajak siapa pun untuk berkolaborasi membangun masa depan yang lebih baik dari sebuah kampung yang pernah dicap kelam.
"Aku akan membuka peluang, terbuka kepada siapapun yang ingin niat bareng-bareng ayo membangun, terus jaga dan lestarikan warisan leluhur ini, karena disitu mengajarkan banyak hal yang baik," pungkasnya. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

