Transformasi Bangunrejo Surabaya: Dari Lokalisasi ke Lokomotif Budaya

Pegiat seni di Omah Ndhuwur membangun kampung seni dan budaya di Bangunrejo, Surabaya. Mengikis deskripsi masa lalu yang kelam, ketika Bangunrejo menjadi salah satu kawasan prostitusi.

08 Jun 2025 - 17:06
Transformasi Bangunrejo Surabaya: Dari Lokalisasi ke Lokomotif Budaya
Wajah baru Bangunrejo: hentakan kaki anak-anak saat menari Remo di Sanggar Seni Omah Ndhuwur (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Suara hentakan kaki terdengar menggema dari lantai dua sebuah rumah sederhana di Jalan Dupak Bangunrejo, Surabaya, Ahad (1/6/2025) sore itu. Di antara gerak gemulai penuh semangat, puluhan anak perempuan berderet mengikuti aba-aba seorang pria berambut panjang yang diikat ke belakang. Dengan telaten, pria bernama Abdullah Soemute menuntun anak-anak menari, dengan gerakan penuh ritme dan selendang merah yang menari-nari di lengan mereka. 

Aktivitas kesenian ini kontras dengan deskripsi masa lalu yang kelam, ketika Bangunrejo menjadi salah satu kawasan prostitusi. Alih-alih musik dangdut serta wanita berpakaian minim, pemandangan yang tersaji justru aktivitas budaya: puluhan anak-anak yang berlatih tari Remo.

Di sinilah Sanggar Seni Omah Ndhuwur berada, sebuah oase budaya yang lahir dari rahim masa lalu yang kelam. Bukan sekadar tari, ragam kegiatan kebudayaan dihelat di sini, mulai dari menggambar, menulis, bercerita dan belajar aksara Jawa.

Di Omah Ndhuwur, seni bukan sekadar hobi, melainkan senjata untuk melawan stigma. "Tujuan pendiriannya adalah berusaha untuk mencabut dan menetralisir image dan stigma masyarakat terhadap orang-orang di sekitar kampung eks lokalisasi, khususnya citra terhadap anak-anak," ucap Kang Semut, Ahad (1/6/2025).

"Dipandang murahan dan gampangan bahkan dicap sebagai anak nakal, copet, maling itu sering diterima oleh anak-anak yang tinggal di sini," imbuhnya.

Begitulah. Bagi seorang anak yang tumbuh di kawasan eks lokalisasi, penutupan distrik lampu merah pada 2014 bukanlah akhir dari segalanya. Ketika bangunan wisma jadi puing-puing, ada satu hal yang tak kasat mata yang sulit dihancurkan, yakni stigma.

Di sekolah atau bahkan di jalanan, bisikan itu kerap terdengar. Label "anak Dolly" atau "anak dari kampung nakal" menempel erat, seolah menjadi dosa warisan. Mereka dikucilkan, dipandang rendah, dan dipaksa menanggung beban dari masa lalu yang bukan milik mereka.

Namun upaya penghapusan stigma itu terus digerakkan, namun apa obat penyembuh untuk luka psikologis sedalam itu?

Dari Paseduluran ke Sanggar, Perjuangan Menegakkan Omah Ndhuwur

Kang Semut melihat langsung bagaimana anak-anak di lingkungannya menjadi korban diskriminasi. Baginya, penutupan lokalisasi harus diikuti dengan "penutupan" stigma. Hatinya tergerak untuk melakukan sesuatu. 

Dia memulai sebuah gerakan untuk memberikan anak-anak sebuah identitas baru yang bisa mereka banggakan tanpa harus takut dikucilkan di lingkungan luar. Maka, Kang Semut menginisiasi gerakan kebudayaan untuk mengikis stigma.

Jauh sebelum nama Omah Ndhuwur dikenal, akarnya sudah tertanam sejak 2014 tepat setelah lokalisasi ditutup oleh Wali Kota Tri Risma Harini. Awalnya, gerakan itu lahir dalam wujud sebuah komunitas yang lebih luas.

"Dulu bentuknya itu komunitas bernama Paseduluran Djati Djoyodiningrat dan lokasinya tidak di sini. Itu fokus pada gerakan penyadaran berbasis seni budaya, pelestarian tradisi leluhur seperti ruwatan, selamatan, tirakatan, dan lain-lain," ungkap Kang Semut.

Titik baliknya terjadi pasca-pandemi COVID-19. Gerakan tersebut kemudian menemukan lokasi baru, yakni di bagian rumah Kang Semut sendiri, bertempat di Jalan Dupak Bangunrejo. 

Di situlah terjadi sebuah transformasi penting, dengan menyusun kegiatan yang berfokus pada anak-anak dan remaja, program tersebut dilembagakan secara khusus di bawah nama baru: yakni Sanggar Seni Omah Ndhuwur.

Sementara itu, Paseduluran Djati Djoyodiningrat tidak menghilang. Ia berevolusi dan memantapkan statusnya menjadi sebuah yayasan kebudayaan yang kini menaungi Omah Ndhuwur dan komunitas-komunitas budaya serupa lainnya di Surabaya.

Nama "Omah Ndhuwur" sendiri memiliki filosofi mendalam. Secara harfiah berarti "Rumah Atas" karena letaknya di lantai dua. Namun secara batin, ia menyimpan sebuah cita-cita.

"Meskipun kami bertempat tinggal di kampung pinggiran, akan tetapi kami mempunyai cita-cita yang tinggi dan mulia kepada anak-anak," jelas Kang Semut.

Meski langkahnya sudah sejauh itu, perjuangan Kang Semut penuh tantangan. Pada awal mula pembentukan Sanggar Seni Omah Ndhuwur mendapatkan penolakan. "Masalahnya, ketika wilayah eks lokalisasi ini ditutup, ini kan diakui dan menjadi perebutan ruang, ruang pengakuan banyak orang karena ada banyak kepentingan di sana. Salah satunya adalah kelompok-kelompok agama tertentu," jelas Kang Semut.

Ia memaparkan bahwa saat pihaknya menawarkan pemberdayaan masyarakat dengan kesadaran membangun dirinya dan lingkungannya atas nama seni dan budaya, banyak warga mencurigainya.

"Jadi dulu itu sering ada pergesekan, terlebih saat kita ingin mengusung tradisi leluhur Nusantara yang erat hubungannya dengan sesajenan, tumpengan, arak-arakan hingga ruwatan kampung," sebutnya.

Karena itulah, Kang Semut sangat terbuka terhadap pihak dari luar seperti mahasiswa hingga media. Ia berharap bahwa jika banyak yang berkunjung dan menyiarkan apa yang sebenarnya ia perjuangkan, maka masyarakat perlahan akan memahami dan menerima.

Ragam Kelas Kebudayaan, Tari Remo sebagai Identitas

Kang Semut merancang program dirancang untuk membangun kembali harga diri dan kebanggaan. Dia menanamkan wawasan kebudayaan sebagai pondasi yang mendasar pada anak-anak. Dulunya, gerakan berfokus pada orang-orang dewasa dalam mengajarkan tradisi-tradisi leluhur. Mulai dari selamatan, bancaan, tumpengan, sajenan dan lain sebagainya.

Lantas, tari Remo disematkan sebagai Identitas: Anak-anak diajarkan Tari Remo atau Remong versi Munali Fatah, sebuah tarian ikonik Surabaya. Tujuannya jelas, saat orang bertanya mereka dari mana, mereka tidak lagi menunduk, melainkan bisa dengan bangga menjawab, "Kami penari Remo dari Surabaya."

"Remo itu macamnya banyak, dan kenapa pilih versi Cak Munali Fatah, karena Cak Munali Fatah itu satu tokoh kesenian versi remong yang nyata, beliau benar-benar ada. Sementara remong lainnya banyak yang asalnya tidak jelas," jelas Kang Semut.

Selain Tari Remo, Sanggar Seni Omah Ndhuwur juga mengajarkan dua jenis tari lain, yakni Tari Madura dan Tari Banyuwangi. Dua tari itu dipilih karena masyarakat di Bangunrejo juga banyak yang berasal dari dua daerah tersebut.

Selain tari, Omah Ndhuwur juga membuka kelas kecil sebagai ruang aman. Untuk anak-anak usia dini, kelas ini berisi kegiatan menggambar, menulis, dan bercerita. Ini menjadi ruang aman bagi mereka untuk berekspresi tanpa takut dihakimi.

Lalu, ada kelas Aksara Jawa sebagai pelestarian. Dengan menghidupkan kembali budaya adiluhung, sanggar ini seolah berkata bahwa identitas mereka jauh lebih tua dan mulia daripada sejarah lokalisasi yang hanya seumur jagung.

Dalam menempa anak-anak berbudaya, Kang Semut tak sendiri. Sebagian anggotanya ikut membantunya melatih. Mereka menjelma menjadi pilar-pilar sanggar. Hening Elazuardi, mahasiswa jurusan tari di UNESA menjadikan aktivitas melatih anak-anak itu sebagai yang menyenangkan. “Kita melatih tari, tapi kita bukan sebagai pelatih, melainkan selayaknya teman. Jadi kita disini tidak ada-adanya senior atau junior gitu. Kita sama rata, kita belajar bareng-bareng," tutur Hening.

 

‘Bangunrejo Art Fest’, Sebuah Penegasan Transformasi 

Budaya egaliter berbasis pertemanan inilah yang menjadi pereekat di antara pegiat seni di Omah Ndhuwur. Adapun Jennifer Bella Mahardika (17), siswa SMAN 8 Surabaya yang merasa Omah Ndhuwur adalah rumah kedua. Kini, harapan ia dan temannya tidak lagi sebatas menghapus stigma, tetapi sudah terbang lebih tinggi. 

Sementara Amanda Regina Zalianti (18) yang baru saja lulus dari SMK Pawiyatan memiliki harapan dan ingin Sanggar Seni Omah Ndhuwur lebih dikenal, lebih besar, dan bahkan mampu bersaing.

"Kalau harapan saya sih usaha sanggar ini bisa tampil ke dunia lomba. Biar dapat penghargaannya lebih bagus dan lebih dikenal juga," ucap Safira Dwi Ariani (17) siswa SMKN 8 Surabaya yang juga sepantaran dengan Bella.

Hal yang istimewa, Omah Ndhuwur bersama warga Bangunrejo memiliki festival budaya tahunan ‘Bangunrejo Art Fest’, yang digelar setiap 28 Oktober. "Selain sebagai tanggung jawab, tanggal Sumpah Pemuda juga dipilih secara sadar untuk menyuarakan semangat persatuan dalam keberagaman," ungkap Kang Semut.

Even ini mempertegas upaya Bangunrejo untuk bangkit dan bertransformasi. Kini, mereka telah mengikis masa lalu yang kelam dan hadir dalam citra diri sebagai kampung seni yang menjadi lokomotif kebudayaan di Surabaya.

Kisah Sanggar Seni Omah Ndhuwur adalah bukti nyata bahwa transformasi paling kuat datang dari dalam. Di lantai dua sebuah rumah sederhana di Bangunrejo, anak-anak ini tidak hanya belajar menari, mereka sedang menari di atas stigma, menghentakkan kaki untuk mengukir masa depan yang mereka pilih sendiri. (*)

Editor : Danu S

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow