Keterbatasan Fisik Tidak Batasi Muayatur Rohmah Berangkat ke Tanah Suci

Mengandalkan lututnya untuk naik bus haji, Muayatur Rohmah, jemaah disabilitas asal Jember, buktikan bahwa keterbatasan fisik tak menghalangi panggilan sucinya ke Tanah Haram.

12 May 2025 - 21:19
Keterbatasan Fisik Tidak Batasi Muayatur Rohmah Berangkat ke Tanah Suci
Muayatur Rohmah di asrama haji sebelum berangkat menuju Tanah Suci bersama kloter 32 Embarkasi Surabaya (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Di tengah riuh rendah proses pemberangkatan jemaah haji dari Embarkasi Surabaya yang masih berlangsung hingga hari ini, tak sedikit cerita yang menyentuh hati dan inspiratif. Salah satunya datang dari seorang perempuan lanjut usia asal Jember, Jawa Timur, bernama Muayatur Rohmah.

Perempuan berusia 77 tahun itu tergabung dalam kloter 32 yang diberangkatkan menuju Madinah pada Ahad, (11/5/2025). Di antara ribuan jemaah yang datang dan pergi dengan langkah tegap, Muayatur hadir dengan caranya sendiri, mengandalkan kekuatan lututnya untuk masuk ke dalam bus menuju Bandara Internasional Juanda, karena kedua kakinya tidak sempurna.

Tabungan yang Dikumpulkan Sejak Puluhan Tahun

Kisah Muayatur bermula lebih dari satu dekade lalu, ketika ia mulai menabung sedikit demi sedikit demi mewujudkan mimpi berhaji. Bekerja sebagai penjahit rumahan di Kecamatan Mumbulsari, Jember, Muayatur hidup dalam keterbatasan, tetapi memiliki tekad baja untuk menjadi tamu Allah di tanah suci.

"Punya uang Rp 50 ribu, Rp 100 ribu atau berapapun itu, saya tabung sedikit demi sedikit, dengan niat dapat mendaftar haji," tutur Muayatur.

Ia mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji pada tahun 2012. Selain menjahit, ia juga menyewakan sepetak sawah kecil miliknya. Hasil dari sewa tersebut digunakan untuk biaya hidup sekaligus tambahan pelunasan ongkos haji.

"Suami saya sudah tiada, kebetulan juga saya ada keponakan yang sudah saya rawat dari kecil hingga sekarang sudah berumah tangga. Pendapatan dari menjahit tidak tentu. Alhamdulillah masih ada sebidang sawah yang meskipun ukurannya tidak terlalu luas tetapi sangat membantu saya," katanya.

Kondisi fisik yang serba terbatas tidak menyurutkan semangat Muayatur. Ia tetap mandiri, bahkan saat hendak menaiki bus ke bandara, ia bersikeras tidak merepotkan orang lain.

"Saya masih punya semangat walaupun kondisi saya seperti ini. Saya tidak ingin merepotkan sepupu saya yang setia menemani saya selama perjalanan ini. Semua saya niatkan untuk ibadah kepada Allah," tegasnya.

Petugas memang sempat membantunya dengan kursi roda dari kamar ke pintu masuk bus, tetapi selebihnya ia lakukan sendiri, menggunakan lututnya sebagai tumpuan.

Pendampingan untuk Jemaah Disabilitas

Plh. Sekretaris Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya, Sugiyo, menegaskan bahwa kondisi disabilitas tidak menjadi penghalang untuk menunaikan ibadah haji. Pihaknya memberikan pendampingan khusus bagi jemaah berkebutuhan khusus seperti Muayatur.

"Tuna daksa tidak menghambat untuk berangkat haji karena ada pendampingan, petugas tetap membantu. Syarat utamanya adalah sehat secara fisik dan psikologis, sehingga bisa menjalankan ibadah haji sesuai syariat," ujar Sugiyo saat dikonfirmasi pada Senin, (12/5/2025).

Ia juga memuji semangat Muayatur sebagai contoh nyata kekuatan niat dan daya juang, terutama di tengah masyarakat yang sangat memuliakan ibadah haji.

"Saya pikir ini motivasi yang luar biasa, apalagi di masyarakat Jember, ibadah haji merupakan hal yang sakral," ungkapnya.

Muayatur kini telah tiba di Madinah bersama jemaah kloter 32. Kisahnya menjadi pengingat bahwa di balik angka statistik dan data logistik pemberangkatan haji, tersimpan kisah-kisah perjuangan yang layak untuk didengar. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow