Ketahuan Nongkrong Saat Jam Malam, Anak-anak Surabaya Disuruh Telepon Ibunya oleh Wali Kota saat Razia

Wali Kota Surabaya turun langsung saat razia jam malam, memeriksa anak-anak yang masih nongkrong dan meminta orang tua mereka ditelepon di tempat.

04 Jul 2025 - 07:59
Ketahuan Nongkrong Saat Jam Malam, Anak-anak Surabaya Disuruh Telepon Ibunya oleh Wali Kota saat Razia
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi duduk bersama seorang remaja di Taman Nambangan sambil menelepon ibu sang anak untuk memastikan izin keluar rumah saat razia jam malam, Rabu (3/7/2025) malam (Ig: ericahyadi_)

SURABAYA, SJP - Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memimpin langsung pelaksanaan sweeping atau razia jam malam bagi anak-anak di bawah usia 18 tahun, Kamis (3/7/2025) malam.

Sweeping perdana itu diawali dengan apel di halaman Balai Kota Surabaya pada pukul 21.00 wib dengan melibatkan unsur TNI, kepolisian, Satpol PP, serta aparat Pemerintah Kota Surabaya.

“Hari ini kita melakukan pembatasan jam malam kepada anak-anak kita. Kita hari ini datang, berkeliling, bukan untuk mengekang anak muda, namun kita turun untuk memberikan perlindungan kepada anak-anak kita," ucap Eri saat memimpin apel, Kamis (3/7/2025) malam.

Usai apel, pada pukul 22.00 wib Eri bersama tim gabungan langsung diterjunkan menggunakan motor untuk menyisir sejumlah titik ruang publik yang menjadi sasaran patroli, diantaranya adalah taman kota, kawasan umum dan tempat yang biasa dibuat nongkrong anak-anak hingga larut malam seperti warung kopi (warkop).

“Ini Putranya Njenengan?”

Saat melewati Taman Nambangan, Eri mendapati sekelompok anak laki-laki sedang nongkrong di pinggir jalan. Ia langsung menghampiri mereka, bahkan ikut duduk bersama di trotoar untuk menyapa sekaligus menegur anak-anak itu.

Dalam obrolan santainya, Eri menanyakan usia dan alasan mereka masih berada di luar rumah lewat pukul 10 malam. Salah satu anak mengaku sudah berusia 18 tahun, namun tidak bisa menunjukkan KTP. Menanggapi itu, Eri meminta anak tersebut untuk menelepon ibunya di hadapan petugas.

"Telpon ibumu," ujar Eri.

Anak tersebut lantas menuruti dan menelepon ibunya di hadapan petugas. Kepada sang ibu yang terhubung lewat panggilan, Eri menyampaikan langsung:

"Ini putranya njenengan pamitan opo mboten (pamit atau engga)?" tanya Eri kepada ibu sang anak melalui sambungan telepon.

"Iya ini dipinggir jalan ketemu saya, ngopi karo konco-konco ne (sedang ngopi bersama teman-temannya),"

Sang ibu mengaku anaknya sudah berpamitan. Situasi berlangsung humanis, namun tetap memberi pesan jelas bahwa keberadaan anak di luar rumah lewat pukul 22.00 WIB akan mendapat perhatian langsung dari pemerintah kota.

Tidak hanya kepada anak-anak dan orangtuanya, Eri juga mengingatkan para pedagang kopi di sekitar lokasi agar turut menjaga situasi dengan menegur anak-anak yang belum punya kartu identitas.

"Kalau nggak bawa KTP dan masih kelihatan kecil, disuruh pulang aja ya," ujarnya kepada para pedagang.

Pesan untuk Komunitas Fotografer di Kota Lama

Selain Taman Nambangan, sebelumnya Eri juga sempat mendatangi kawasan Kota Lama Surabaya yang ramai dengan aktivitas ekonomi kreatif malam hari. Ia berdialog langsung dengan komunitas fotografer yang biasa memanfaatkan arsitektur heritage kota sebagai latar jasa foto.

Eri menitipkan pesan agar para fotografer juga turut menjaga ketertiban, terutama ketika melihat anak-anak kecil berkeliaran larut malam.

"Kalau ada anak-anak kecil yang masih keluyuran jam 10 malam ke atas, tolong ditegur. Kalau tidak ditegur, tak pateni lampune (matikan lampu) Kota Lama. Biar kalian juga nggak bisa foto-foto," ucapnya dengan gaya bercanda yang disambut tawa warga.

Selain kedua lokasi tersebut, Eri juga sempat menghampiri beberapa warung kopi yang berisikan anak-anak sedang bermain game online.

Pendekatan Edukatif, Tanggung Jawab Kolektif

Eri menegaskan bahwa patroli itu bukan ditujukan untuk menghukum, melainkan untuk mendidik dan mengingatkan. Anak-anak yang terjaring akan dikembalikan ke orang tua, disertai pembinaan selama tujuh hari. Di sisi lain, orang tua diberi tanggung jawab moral atas anak-anak mereka.

"Perubahan budaya itu dilakukan oleh orang tua, sekolah, lingkungan, juga pemerintah," tegasnya.

Sweeping jam malam itu diharapkan menjadi bagian dari upaya kolektif membentuk ruang publik yang aman, sehat, dan mendidik, tanpa menghilangkan ruang ekspresi warga kota. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow