Kekurangan Dokter Saraf di Tengah Meningkatnya Kasus Strok Nasional
Indonesia kekurangan dokter spesialis neurologi, padahal kasus strok terus meningkat. Distribusi dokter juga tidak merata, terutama di luar Jawa. UPH membuka program pendidikan neurologi untuk mengatasi masalah ini.
SUARAJATIMPOST.COM - Strok menjadi salah satu masalah kesehatan yang terus menghantui masyarakat Indonesia. Sayangnya, jumlah dokter spesialis neurologi yang menangani penyakit ini masih sangat terbatas.
Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (UPH), Yusak Siahaan, menjelaskan bahwa menurut data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) tahun 2024, Indonesia baru memiliki sekitar 2.732 dokter spesialis saraf.
Di sisi lain, hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 mencatat bahwa prevalensi penyakit strok di Indonesia mencapai 8,3 per 1.000 penduduk. Kondisi ini menjadikan strok sebagai penyakit dengan beban pembiayaan kesehatan terbesar ketiga, yaitu mencapai Rp 5,2 triliun.
“Bahkan, distribusinya sangat timpang karena banyak wilayah di luar Jawa masih kekurangan tenaga spesialis saraf,” jelas Yusak Siahaan kepada wartawan, Selasa (22/7/2025).
Yusak menekankan bahwa keberadaan dokter saraf di daerah perlu menjadi fokus utama.
“Kita bukan saja kekurangan neurolog, tetapi dihadapkan dengan tantangan meningkatnya pasien yang mengalami keluhan nyeri kronis. Salah satunya penyakit saraf,” lanjutnya.
Sebagai respons terhadap masalah tersebut, UPH mengambil inisiatif membuka program pendidikan spesialis neurologi untuk mempercepat pengadaan dokter saraf yang kompeten.
“Tren keluhan seperti nyeri neuropatik, gangguan tidur, memori, dan penyakit nerodegeneratif terus meningkat dengan seiring bertambahnya usia serta gaya hidup modern yang minim dengan aktivitas fisik,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan bahwa merujuk pada laporan Litbangkes dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), idealnya satu dokter neurologi melayani maksimal 50.000 penduduk. Namun di lapangan, ada wilayah dengan rasio 1 dokter untuk 300.000 penduduk atau lebih.
“Kami ingin menghadirkan neurolog yang bukan saja hebat di rumah sakit tetapi juga siap untuk hadir di daerah-daerah yang membutuhkan,” tutupnya. (**)
Editor: Rizqi Ardian
Sumber: Beritasatu.com
What's Your Reaction?

