Kasus Bullying Siswa Baru SMP di Blitar, Wagub Emil: Penanganan Harus Kedepankan Keadilan dan Efek Jera
Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) Emil Elestianto Dardak mempercayakan sepenuhnya penanganan kasus bullying terhadap siswa baru SMP di Kecamatan Doko kepada Bupati dan jajaran Forkopimda Kabupaten Blitar. Emil menekankan agar dalam penanganan kasus tersebut mengedepankan keadilan dan efek jera.
BLITAR, SJP - Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) Emil Elestianto Dardak memberikan tanggapan terkait kasus bullying yang menimpa siswa baru SMP di Kabupaten Blitar pada Jumat (18/7/2025), saat kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).
Emil mengaku Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) telah berkoordinasi dengan bupati dan jajarannya terkait dengan penanganan kasus tersebut. Ia mempercayakan sepenuhnya penanganan kasus bullying ini kepada bupati dan jajaran Forkopimda Kabupaten Blitar.
"Saya sudah berdiskusi dengan bupati, kepala dinas, dan jajaran terkait. Kami percaya dan yakin beliau sudah berkoordinasi dengan Polres Blitar terkait hal ini dan saya minta rasa keadilan," ujarnya, Rabu (23/7/2025).
Terkait dengan penanganan kasus ini, Emil menekankan harus mengedepankan keadilan kepada semua pihak dan efek jera bagi pelaku.
Dia menilai, kasus bullying yang melibatkan anak itu kompleks dari sisi hukum dan dalam hal ini melibatkan anak berusia dibawah 14 tahun, karena belum bisa diproses hingga ke pengadilan.
"Saya tidak bisa bicara detail, tapi saya sudah serahkan ke Bupati dan Forkopimda. Semua itu berbicara soal keadilan dan efek jera," kata dia.
Sebelumnya, Kasatreskrim Polres Blitar AKP Momon Suwito mengungkap kronologi peristiwa bullying atau perundungan tersebut yang terjadi pada Jumat (18/7/2025) pukul 08.00 WIB.
Peristiwa itu terjadi di area belakang kamar mandi SMP Kabupaten Blitar dan korbannya adalah WV (12) siswa kelas 7 di sekolah tersebut.
Saat itu, ia dipanggil dan diajak oleh kakak kelasnya menuju ke area belakang kamar mandi. Sesampainya di lokasi, sudah ada sekitar 20 siswa lain yang berkumpul dan melontarkan kalimat ejekan secara verbal.
Tiba-tiba, salah satu siswa kelas delapan berinisal NTN memulai kekerasan dengan memukul pipi kiri korban dan menendang bagian perutnya. Tindakan ini memicu siswa lain yang turut melakukan pengeroyokan hingga pemukulan secara bersama-sama.
"Hasil pemeriksaan sementara, motif awal karena diduga adanya tindakan saling bullying antar siswa. Kemudian berujung pada aksi balas dendam itu," ungkapnya.
Dalam menangani kasus ini, polisi juga bekerja sama dengan sejumlah OPD terkait. Seperti, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), Dinas Pendidikan, serta Dinas Sosial. Karena, kasus ini melibatkan anak-anak, baik terduga pelaku maupun korban. (*)
Editor: Rizqi ArdianĀ
What's Your Reaction?

