Kampung Dolanan Surabaya Wujudkan Kawasan Ramah Anak Bebas Gadget

Kampung Dolanan di Wonorejo, Rungkut, Surabaya hadirkan permainan tradisional sebagai ruang ramah anak dan solusi cegah kecanduan gadget.

19 Aug 2025 - 09:02
Kampung Dolanan Surabaya Wujudkan Kawasan Ramah Anak Bebas Gadget
Warga Surabaya menciptakan Kampung Dolanan dengan permainan tradisional agar anak terhindar dari candu gadget dan tumbuh di lingkungan ramah anak. (Foto: Beritasatu.com/Agung Dharma Putra)

SURABAYA, SJP – Semarak kemerdekaan di Wonorejo, Rungkut, Surabaya Timur, tahun ini terasa berbeda. Warga setempat tidak hanya menghias gang dengan lampu warna-warni dan ornamen merah putih, tetapi juga menghadirkan sesuatu yang lebih bermakna: sebuah kampung dolanan yang menghadirkan kembali permainan tradisional untuk anak-anak.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, kehadiran permainan seperti engklek, ular tangga, gobak sodor, hingga dakon menjadi oase bagi anak-anak yang selama ini terbiasa dengan gadget. Ide ini lahir dari keinginan warga untuk merayakan HUT ke-80 RI sekaligus menciptakan kawasan ramah anak.

“Awalnya dibuat untuk 17-an, tetapi kami ingin ini bisa dipakai seterusnya. Di perumahan sini minim tempat bermain anak, jadi kami buat permainan tradisional supaya anak tahu dan tidak hanya main hand phone,” ujar Silvia Luciana, salah satu warga, Senin (18/8/2025).

Bukan hanya orang tua, anak-anak pun menyambut gembira keberadaan kampung dolanan ini. Mereka bisa merasakan kembali serunya berinteraksi dengan teman sebaya. “Lebih seru main engklek atau gobak sodor daripada main hand phone karena bisa main sama teman-teman,” kata Fatih Al Farizky, salah satu anak.

Hal itu juga diamini oleh warga lain, Anggi Anggraini, yang menilai permainan tradisional yang beragam membuat anak-anak lebih betah keluar rumah dan menjalin kebersamaan.

Ketua RT setempat, Dodi Priyono, menegaskan bahwa keberadaan kampung dolanan tidak berhenti hanya pada momentum Agustus. “Kita akan perbaiki dan terus pertahankan kampung dolanan ini karena anak-anak di sini butuh ruang bermain. Dengan adanya permainan tradisional, mereka akhirnya mau keluar rumah dan bersosialisasi,” ujarnya.

Minimnya ruang bermain di kawasan perumahan menjadi alasan kuat mengapa kampung dolanan ini hadir. Lebih dari sekadar nostalgia, inisiatif ini diharapkan mampu menjadi contoh nyata bagaimana sebuah lingkungan bisa menciptakan ruang yang sehat, ramah anak, dan bebas dari jeratan kecanduan gadget. (**)

Sumber: Beritasatu.com
Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow