Kadinkes Sebut Kasus Gizi Buruk di Nganjuk Bukan Luput dari Pantauan, Namun Kondisi Bawaan

Anak tersebut telah mengalami kondisi yang disebut sebagai Cerebral Palsy (CP) atau yang disebutnya sebagai Selebral Parsi (SIPI), sejak usia 0 hingga 5 tahun dan sudah mendapatkan pendampingan awal.

11 Nov 2025 - 12:20
Kadinkes Sebut Kasus Gizi Buruk di Nganjuk Bukan Luput dari Pantauan, Namun Kondisi Bawaan
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Nganjuk, dr. Tien Farida Yani (Foto: kuswanto/SJP)

NGANJUK, SJP – Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Nganjuk, dr. Tien Farida Yani, memberikan klarifikasi terkait kasus gizi buruk yang menimpa salah satu anak di Kecamatan Ngronggot. 

Kadinkes menampik anggapan bahwa kasus ini terjadi karena kelalaian atau luput dari pemantauan petugas kesehatan di wilayah tersebut.

Menurut dr. Tien, berdasarkan kronologi yang diterima dari Kepala Puskesmas Ngronggot, kondisi gizi buruk yang dialami anak yang kini berusia 7 tahun, berakar pada masalah kesehatan bawaan sejak usia dini.

Ia menjelaskan bahwa anak tersebut telah mengalami kondisi yang disebut sebagai Cerebral Palsy (CP) atau yang disebutnya sebagai Selebral Parsi (SIPI), sejak usia 0 hingga 5 tahun dan sudah mendapatkan pendampingan awal.

"Kami ingin meluruskan bahwa kasus gizi buruk ini bukan karena kami luput dalam memantau. Sebagian besar anak-anak ini memang sudah memiliki masalah kesehatan bawaan, yaitu SIPI. Kondisi ini membuat mereka sulit menyerap nutrisi otak dengan baik," ungkap dr. Tien saat ditemui suarajatimpost.com di kantornya, Selasa (11/11/2025).

Ia menguraikan kondisi anak dengan CP yang kronis, di antaranya adalah kesulitan bergerak pada tangan dan kaki, tidak bisa duduk, dan mengalami kesulitan makan. 

Meskipun saat bayi masih bisa mengonsumsi Air Susu Ibu (ASI), kesulitan makan seiring bertambahnya usia dikhawatirkan keluarga sehingga memicu kondisi kronis.

dr. Tien juga menyebutkan bahwa pasien yang bernama Aprilia tersebut memang sudah lepas dari pantauan Posyandu di usia 7 tahun, di mana seharusnya ia mendapat penanganan lanjutan di Sekolah Luar Biasa (SLB).

"Setelah saya mengetahui, anak tersebut masuk rumah sakit, konfirmasi dengan dokter perawat, ternyata anak tersebut tidak hanya sekali masuk di RSD Kertosono. Namun yang terakhir memang kondisinya parah," jelasnya.

"Pasien atas nama Aprilia ini sudah sering masuk ke RSD Kertosono, namun akhir-akhir ini kondisinya parah," sambung dia.

Mengenai kondisi terakhir Aprilia sebelum dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya, dr. Tien mengaku belum mendapatkan informasi terbaru, namun telah berupaya menghubungi pihak terkait. Ia sempat bertemu langsung dengan Aprilia dan dokter spesialis anak yang menangani.

"Kondisi anak ini berat, menurut keterangan dokter spesialis yang menangani. Kami tidak tinggal diam. Semua anak yang terindikasi gizi buruk akan mendapatkan penanganan yang komprehensif, mulai dari pemberian makanan tambahan hingga rujukan ke rumah sakit jika diperlukan," ujarnya. 

Menyinggung kasus gizi buruk secara umum di Nganjuk, dr. Tien menilai kasus yang serupa dengan Aprilia (dipicu SIPI) tergolong tidak banyak. Ia membandingkan dengan kasus-kasus lain di mana keluarga tetap aktif memberikan makanan cair yang mencukupi kebutuhan nutrisi sehingga tidak mengalami kekurangan gizi berat.

Untuk mencegah terulangnya kasus kekurangan gizi pada anak di luar pantauan usia 5 tahun dan di luar kasus stunting (kekurangan gizi kronis), dr. Tien menekankan perlunya penanganan khusus. 

Pihaknya berencana menyusun panduan khusus dan mengoptimalkan bantuan bagi keluarga kurang mampu melalui koordinasi dengan Dinas Sosial, Baznas, atau bantuan lainnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Dinkes Nganjuk terus berupaya mengatasi masalah gizi buruk dengan meningkatkan edukasi masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini dan penanganan CP.

"Kami terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang SIPI. Jika ada anak yang menunjukkan gejala seperti pertumbuhan yang lambat, segera periksakan ke dokter. Dengan deteksi dini, kita bisa memberikan penanganan yang tepat dan mencegah terjadinya gizi buruk," tutupnya. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow