Kadernya Alami Patah Tulang Saat Aksi Demo Tolak UU TNI di Surabaya, GMNI Nilai Penggunaan Water Cannon Berlebihan

GMNI Surabaya menuntut pertanggungjawaban kepolisian atas tindakan represif dalam upaya pembubaran massa aksi tolak UU TNI di Surabaya yang lukai salah satu kadernya.

27 Mar 2025 - 12:15
Kadernya Alami Patah Tulang Saat Aksi Demo Tolak UU TNI di Surabaya, GMNI Nilai Penggunaan Water Cannon Berlebihan
Aksi Tolak UU TNI di Surabaya yang awalnya berjalan damai dengan beragam orasi dan penampilan teatrikal (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Aksi demo menolak Undang-Undang (TNI) yang berlangsung di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya pada Senin (24/3/2025) lalu, berakhir ricuh dan banyak memakan korban luka. Salah satunya dialami oleh Rizky Syahputera yang mengalami patah tulang tangan kiri dan luka robek di kaki kiri.

Rizky merupakan mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) sekaligus Ketua DPC GMNI Surabaya periode 2023-2025 yang ikut menyuarakan aspirasinya pada aksi tersebut. Cidera yang didapat oleh Rizky diduga diakibatkan oleh semprotan water cannon dari pihak kepolisian saat melakukan upaya pembubaran.

Usai kejadian, Rizky langsung dilarikan ke RS Universitas Airlangga (UNAIR) dan menjalani operasi sejak Selasa (25/3/2025) malam hingga Rabu (26/3/2025) dini hari. Ketua Cabang GMNI Surabaya, Dhipa Satwika Oey, menilai tindakan aparat berlebihan dan pihaknya menuntut pertanggungjawaban.

Kronologi Kejadian

Aksi menolak UU TNI di Surabaya awalnya berlangsung damai. GMNI Surabaya bergabung dengan elemen masyarakat sipil lainnya untuk menyuarakan penolakan UU yang mereka anggap memperluas kewenangan militer dalam urusan sipil dan berpotensi melahirkan kembali Dwifungsi TNI.

Sekira pukul 18.00 WIB, situasi mulai memanas. Sejumlah orang melempar botol, batu, hingga molotov ke arah Gedung Negara Grahadi, namun belum jelas apakah mereka bagian dari massa aksi utama atau pihak lain yang sengaja melakukan provokasi. Polisi merespons dengan menembakkan water cannon dan mengerahkan Brimob serta Dalmas untuk membubarkan massa.

Pada saat itu, GMNI Surabaya telah memutuskan mundur setelah orasi Ketua Bidang Organisasi mereka, Fajar Sholeh, terganggu oleh nyanyian provokatif yang memperkeruh suasana. Namun, di tengah proses mundur itu, water cannon tetap ditembakkan dan Rizky terkena dampaknya.

"Saudara kami justru menjadi korban salah sasaran oleh aparat," ujar Dhipa, Rabu (26/3/2025).

GMNI Surabaya: "Kami Tidak Terlibat Kericuhan"

GMNI Surabaya menegaskan bahwa kadernya tidak melakukan tindakan melawan hukum, tidak membawa senjata tajam, serta telah berupaya membubarkan diri secara tertib sebelum insiden terjadi.

"Kami sudah menaati aturan yang ada. Saat insiden bentrokan terjadi, massa aksi kami telah membubarkan diri dan tidak ikut serta dalam kericuhan," kata Dhipa.

Namun, mereka menyayangkan tindakan aparat yang tetap menyemprotkan water cannon tanpa memilah massa yang sudah mundur. GMNI Surabaya menuntut klarifikasi dan pertanggungjawaban dari kepolisian atas insiden yang menimpa kader mereka.

Situasi Demonstrasi: 25 Orang Ditangkap, Fasilitas Rusak

Ketegangan antara demonstran dan aparat dalam aksi kemarin berlangsung dalam beberapa gelombang, suasana sempat kondusif saat waktu berbuka puasa dan kembali panas pada malam hari. Polisi akhirnya membubarkan massa dengan water cannon dan pasukan anti-huru-hara, serta menangkap 25 orang yang diduga terlibat dalam bentrokan.

Beberapa fasilitas umum di sekitar wilayah Gedung Negara Grahadi, Alun-alun Kota Surabaya hingga Monumen Kapal Selam (Monkasel) rusak akibat kericuhan yang terjadi di penghujung aksi, termasuk barrier, trotoar, pot bunga, CCTV, serta kendaraan yang terparkir di sekitar lokasi.

Belum Ada Klarifikasi dari Kepolisian

Hingga berita ini ditulis, pihak kepolisian belum memberikan pernyataan terkait insiden yang menimpa Rizky Syahputera maupun mengenai prosedur penggunaan water cannon untuk membubarkan massa dalam aksi tersebut.

GMNI Surabaya menyatakan akan terus mengawal kasus yang menimpa salah satu kadernya itu dan menuntut evaluasi terhadap tindakan kepolisian dalam menangani demonstrasi. (**)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow