Jelang Lebaran, Produsen Gula Kelapa di Blitar Kebanjiran Orderan
Keberkahan bulan Ramadan dirasakan oleh Sulis Imroah (56) yang merupakan produsen gula kelapa asal Desa Gledug, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar. Menjelang lebaran, permintaan gula kelapa di tempatnya meningkat.
BLITAR, SJP - Permintaan gula kelapa di salah satu produsen wilayah Kabupaten Blitar meningkat tajam menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026. Kondisi ini membuat produsen harus meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi pesanan dari berbagai daerah.
Salah satu produsen gula kelapa asal Desa Gledug, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar Sulis Imroah (56) mengaku kewalahan melayani pesanan yang terus berdatangan.
Jika pada hari biasa produksi hanya sekitar 300 kilogram per hari, menjelang Lebaran produksinya melonjak hingga 400 sampai 500 kilogram per harinya.
"Kalau mendekati lebaran seperti saat ini, pesanan jauh lebih banyak dibandingkan hari biasa. Produksi bisa sampai 500 kilogram per hari," ujarnya saat ditemui di rumahnya, Ahad (8/3/2026).
Di halaman belakang rumahnya, aktivitas produksi gula kelapa terlihat sibuk sejak pagi hari. Sejumlah pekerja para ibu-ibu tampak duduk berhadap-hadapan sambil mencetak gula kelapa yang telah mengental.
Sementara di dapur, dua pekerja lainnya sedang mengaduk rebusan air nira di atas tungku kayu.
Proses pembuatan gula kelapa di tempat Sulis masih menggunakan cara tradisional. Air nira kelapa direbus menggunakan tungku kayu hingga mengental sebelum akhirnya dicetak menjadi gula kelapa berukuran kecil.
"Selama bulan puasa, para pekerja memulai aktivitas produksi sejak pukul 05.00 sampai pukul 15.00 WIB," kata dia.
Untuk mempercepat proses produksi, Sulis mengaku menggunakan cara khusus agar rebusan air nira lebih cepat mengental. Yakni menambahkan sedikit gula kelapa yang sudah jadi ke dalam rebusan.
Cara biasa yang sering dilakukan yaitu merebus selama enam hingga tujuh jam, sampai bisa dicetak. Menurutnya dengan cara tersebut, proses jauh lebih cepat sekitar 15 menit sudah bisa dicetak.
"Cara ini kami lakukan agar produksi tetap mampu mengejar pesanan pelanggan yang terus meningkat, terutama seperti saat ini menjelang Lebaran," ucap dia.
Permintaan gula kelapa produksi Sulis tidak hanya datang dari wilayah Blitar dan sekitarnya. Tetapi, juga dari kota besar seperti Jakarta, Malang, dan Surabaya.
Bahkan sebagian pesanan dari Malang akan dipasarkan lagi ke luar negeri, salah satunya di Hongkong.
Sulis menjual gula kelapa produksinya seharga Rp21.500 per kilogram. Dalam sehari, ia membutuhkan sedikitnya 200 liter air nira kelapa sebagai bahan baku produksi.
Air nira tersebut diperoleh dari petani di desanya serta dari desa tetangga, yakni Desa Ngoran, Kecamatan Nglegok.
Meski produksi meningkat saat menjelang hari raya, usaha gula kelapa milik Sulis sebenarnya tetap berjalan stabil sepanjang tahun. Dalam kondisi normal, ia mampu memproduksi rata-rata sekitar 8 ton gula kelapa setiap bulan.
"Kalau pesanan sebenarnya tetap ada setiap bulan. Tapi menjelang Lebaran seperti sekarang, biasanya memang lebih ramai," imbuhnya. (*)
Editor: Danu
What's Your Reaction?

