MALANG, SJP - Pemerintah Kabupaten Malang berencana memperbaiki jalur menuju wisata Gunung Bromo. Selain memperbaiki jalan di kawasan Jemplang, Pemkab juga akan membuka akses jalan di Desa Ngadas, Poncokusumo dengan pembiayaan dari Program Hibah Jalan Daerah (PHJD) Pemerintah Australia yang masih dalam taraf usulan.
Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum dan Bina Marga (PUBM) Khairul Isnaidi Kusuma mengatakan, Pemkab Malang berupaya menaikkan status jalan menuju Bromo. Pendanaan pembangunan masih diajukan melalui Program Hibah Jalan Daerah (PHJD).
“Nanti kita usulkan kenaikan statusnya dari kelas jalan desa menjadi K1. Namun yang terpenting kita sudah mengusulkan pada Kementerian Pekerjaan Umum melalui program PHJD, sumber dananya dari Australia,” katanya saat peresmian Screen House di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Malang, Rabu (15/1/2025).
Menurut pria yang akrab disapa Oong ini, pemkab hendak membangun jalan dengan panjang sekitar 8,5 kilometer. Karena Bromo banyak didatangi wisatawan mancanegara, maka sangat memungkinkan mendapatkan bantuan dari Pemerintah Pusat maupun dari luar negeri.
"Mungkin nanti mekanismenya reimburse, biaya diganti setelah selesai, sama dengan yang jalan di depan (Gubuk Klakah) kita kan yang bangun dulu, setelah dilihat pekerjaannya 100 persen selesai, nanti dikembalikan, malahan bisa lebih apabila berprestasi,” jelasnya.
Perbaikan Jalan Jadi Solusi Kemacetan di Jalur Jemplang
Pada hari libur, ketika lalu lintas ke Bromo cukup padat, maka terjadi kemacetan di jalur di Jemplang, karena jalan yang sempit.
Solusinya, Kepala Desa Ngadas Mujiato meminta pada Bupati Malang agar ada pelebaran jalan di desanya yang merupakan akses menuju wisata Gunung Bromo.
“Karena cukup sempit apalagi saat musim libur sering terjadi kemacetan panjang. Dusun Jarak Ijo ini belum ada jalan tembus untuk mengarah ke daerah wisata, nantinya Dusun Jarak Ijo bisa sebagai pelaku pariwisata,” tandas Mujianto.
Kades Mujianto mengatakan, ada sekitar 1,8 km ruas jalan dari dusun Lajing menuju Jemplang, di mana akses tersebut dapat menjadi solusi kemacetan menuju Gunung Bromo Tengger Semeru.
“Saya mendengar keluh kesah dari para wisatawan,' wis males nang Bromo, macet podo karo kota (Malas ke Bromo, macet sama dengan Kota), maka harapan kami, harapan masyarakat supaya ada jalan keluar," katanya.
Menurutnya, apabila akses tersebut telah dibangun, bisa dipergunakan one way. Jalur masuk bisa melewati Jemplang kemudian keluar dari Bromo lewat sini, atau sebaliknya. "Namun, untuk jalur alternatif itu saat ini masih sempit lebarnya kurang dari 5 meter," terangnya.
Daerah di sini, lanjut Mujianto, dapat menjadi alternatif pengurai kemacetan pada waktu hari libur dan dapat mengantisipasi kendaraan yang sering nekat, tanpa menghiraukan kendaraan layak jalan atau tidak, padahal kondisi jalan sempit dan ekstrim.
"Seringnya ada kendaraan metik yang mengalami rem blong, kemacetan juga terjadi seperti libur tahun baru, sehingga kami ingin jalan di sini mobilitasnya semua lancar,” tutupnya. (*)
Editor : Danu S