Surabaya Perkuat Sistem Antibanjir 2026, 81 Rumah Pompa Disiagakan
Syamsul mengklaim integrasi infrastruktur baru ini telah membuahkan hasil signifikan. Berdasarkan data evaluasi DSDABM, terjadi penurunan jumlah lokasi rawan genangan secara drastis di Surabaya.
SURABAYA, SJP — Mengawali tahun 2026, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mempertegas komitmennya dalam menanggulangi persoalan banjir.
Hingga pengujung 2025, kota ini tercatat telah memiliki 81 unit rumah pompa yang tersebar di titik-titik strategis menyusul tuntasnya pembangunan lima unit tambahan sepanjang tahun lalu.
Langkah ini merupakan bagian dari akselerasi infrastruktur pengendalian air untuk menghadapi puncak musim penghujan pada 2026.
Selain penguatan mekanis melalui rumah pompa, Pemkot Surabaya juga melaporkan keberhasilan pembangunan 56,36 kilometer saluran drainase baru di 233 lokasi per 31 Desember 2025.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa keberadaan rumah pompa merupakan komponen vital dalam manajemen air di wilayah metropolitan Surabaya.
Menurutnya, mengandalkan aliran gravitasi tidak lagi memadai untuk menangani debit air yang tinggi saat hujan lebat.
"Jika hanya mengandalkan gravitasi, proses penurunan permukaan air akan memakan waktu lama. Melalui sistem pompa, aliran air dari daratan langsung kita dorong menuju laut secara aktif," ujar Eri, Jumat (2/1/2026).
Eri menambahkan bahwa proyek masif ini merupakan bentuk nyata implementasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Surabaya 2021–2026.
Fokus utama pemerintah bukan sekadar mengejar target fisik, melainkan memastikan masyarakat merasakan dampak langsung berupa penurunan titik genangan.
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya, Syamsul Hariadi, memaparkan bahwa pengerjaan drainase sepanjang tahun 2025 berfokus pada modernisasi kapasitas saluran.
Penggunaan material batu kali konvensional telah dialihkan ke penggunaan box culvert berdimensi besar untuk menampung volume air yang lebih masif.
Beberapa ruas yang pembangunannya telah rampung meliputi: Kawasan Karah (Sisi Barat) dengan panjang 1.096 meter; Gayungsari Barat X 1.102 meter dan Tambak Wedi Jaya III dengan luas 940 meter.
Syamsul mengklaim integrasi infrastruktur baru ini telah membuahkan hasil signifikan. Berdasarkan data evaluasi DSDABM, terjadi penurunan jumlah lokasi rawan genangan secara drastis di Surabaya.
"Terdapat pengurangan titik genangan di 38 lokasi di seluruh wilayah kota," jelasnya.
Meski infrastruktur telah ditingkatkan, Syamsul menekankan bahwa efektivitas sistem antibanjir sangat bergantung pada kesadaran masyarakat.
Ia menyebut bahwa penyumbatan saluran akibat sampah domestik yang masih menjadi hambatan utama dalam operasional drainase.
"Persoalan klasik seperti saluran yang tersumbat sampah rumah tangga masih sering kami temukan di lapangan. Partisipasi warga dalam menjaga kebersihan saluran sangat krusial," tukas Syamsul. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

