Insiden Ancaman Bom Tak Pengaruhi Jadwal Pemulangan Haji di Surabaya
Ancaman bom terhadap pesawat jemaah haji Saudia Airlines tak ganggu debarkasi Surabaya, kloter tetap mendarat tepat waktu, bahkan ada yang tiba lebih cepat dari jadwal.
SURABAYA, SJP - Ancaman bom di pesawat Saudia Airlines yang mengangkut jemaah haji dari Jeddah ke Jakarta menjadi perhatian publik pada Selasa, (17/6/2025).
Pesawat bernomor penerbangan SV5276 tersebut terpaksa mendarat darurat di Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara, setelah muncul peringatan akan adanya bahan peledak di dalam pesawat.
Kendati demikian, insiden tersebut tidak berdampak pada jalannya proses pemulangan jemaah haji di sejumlah daerah, termasuk di Debarkasi Surabaya. Tiga kelompok terbang (kloter) yang dijadwalkan tiba pada hari yang sama tetap mendarat sesuai jadwal, bahkan salah satu di antaranya lebih cepat dari perkiraan.
Jadwal Debarkasi Surabaya Berjalan Normal
Sekretaris PPIH Debarkasi Surabaya, Sugiyo, menegaskan bahwa ancaman tersebut tidak memengaruhi jadwal atau prosedur pemulangan jemaah haji melalui Bandara Juanda.
"Ancaman bom tersebut tidak mengakibatkan delay atau penundaan pemulangan jemaah haji di debarkasi Surabaya, bahkan jemaah haji kloter 19 menggunakan pesawat yang mendarat di Bandara Juanda lebih cepat 20 menit dari jadwal," kata Sugiyo, Rabu (18/6/2025).
Menurut Sugiyo, pada hari itu terdapat tiga kloter yang tiba di asrama haji Debarkasi Surabaya, yakni kloter 18, 19, dan 20. Semuanya mendarat dan menjalani proses debarkasi dengan lancar. Ia pun menghimbau agar jemaah haji dan keluarga tidak cemas atau terpengaruh oleh kabar yang beredar.
"PPIH menghimbau pada jemaah haji dan keluarga jemaah untuk tidak terlalu khawatir dan resah adanya ancaman bom di pesawat Saudia Airlines. Keselamatan dan keamanan jemaah haji menjadi prioritas utama selama pelaksanaan ibadah haji," tegasnya.
Kronologi Ancaman Bom SV5276
Ancaman terhadap pesawat SV5276 pertama kali diketahui setelah Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menerima sebuah email anonim sekitar pukul 07.30 WIB. Email berbahasa Inggris itu berisi pernyataan bahwa pesawat akan diledakkan saat mendarat di Jakarta. Email tersebut kemudian dilacak berasal dari India, tepatnya dari wilayah Bombay.
"Di situ ada ancaman bom, dijelaskan bahwa pesawat akan diledakkan ketika nanti landing di Jakarta," ungkap Kepala Kantor Otoritas Bandara Wilayah II Medan, Asri Santosa kepada awak media.
Setelah menerima informasi tersebut, maskapai Saudia Airlines dan pihak otoritas penerbangan memutuskan agar pesawat melakukan pendaratan darurat di Bandara Kualanamu. Proses penanganan melibatkan sejumlah aparat keamanan, termasuk tim penjinak bom (Jibom) Brimob Polda Sumut, personel Kodam I/BB, dan Paskhas TNI AU.
Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Wishnu Hermawan Februanto memastikan bahwa hasil pemeriksaan menyeluruh terhadap kabin dan bagasi pesawat menunjukkan tidak ditemukan bahan peledak ataupun benda mencurigakan.
"Hasil sementara dari pengecekan Jibom dan Kodam, dan Paskhas, saat ini posisi pesawat dinyatakan clear, baik dari kabin maupun barang-barang yang diangkut di pesawat," ungkapnya.
Layanan Haji Tetap Dipastikan Aman
Meski pesawat tersebut mengangkut jemaah haji asal Depok, kekhawatiran langsung merebak di berbagai daerah, termasuk Surabaya yang merupakan salah satu titik debarkasi terbesar di Indonesia. Namun pihak PPIH Debarkasi Surabaya dengan cepat memberikan klarifikasi dan menjamin bahwa seluruh proses pemulangan tetap berada dalam kendali.
Langkah cepat dan terukur dari Kemenhub, aparat keamanan, dan maskapai juga menunjukkan bahwa protokol keamanan haji telah dijalankan dengan baik, termasuk prosedur penanganan ancaman yang tidak langsung bersumber dari dalam negeri.
Sementara itu, para jemaah dalam pesawat SV5276 diinapkan sementara di hotel usai pemeriksaan, sebelum kembali melanjutkan perjalanan ke Jakarta pada Rabu (18/6/2025) pagi.
PPIH Debarkasi Surabaya menutup segala spekulasi dengan menegaskan bahwa tidak semua pesawat Saudia Airlines otomatis terdampak oleh insiden tersebut. Setiap kloter memiliki pengaturan maskapai dan jadwal tersendiri, sehingga gangguan pada satu penerbangan tidak serta merta mempengaruhi jalur penerbangan lainnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

