Ini Penyebab Longsor di Mojokerto yang Tewaskan 10 Orang
Hal itu berdasar pada analisa Mikrotremor Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) longsor Cangar, yang telah dilakukan pengukuran sebanyak 4 titik di sekitar lokasi longsor yang tewaskan 10 orang itu.
MOJOKERTO, SJP - Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, Yoi Afrida Soesetyo Djati menyebut, tanah longsor yang terjadi di kawasan hutan Watu Umpak, Desa Pacet, Kecamatan Pacet diduga disebabkan tingginya kejenuhan air dalam tanah.
Hal itu berdasar pada analisis Mikrotremor Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) longsor Cangar, yang telah dilakukan pengukuran sebanyak 4 titik di sekitar lokasi longsor yang tewaskan 10 orang itu.
"Hasil analisis itu menyebutkan, disebabkan kejenuhan tanah karena aliran air di atas tebing," katanya, Senin (7/4/2025).
Hasil analisis Mikrometer HVSR juga menyebutkan, longsor yang terjadi di jalur Cangar-Pacet ini harus menjadi perhatian serius.
Artinya, perlu adanya penanganan perbaikan aliran sungai yang berada di atas tebing longsor.
"Analisa Mikrotremor HVSR, tebing di lokasi longsor merupakan kategori tanah keras dan sesuai dengan geologi batuan di area longsor yakni, breksi gunung api yang merupakan batuan keras tergantung dengan tingkat pelapukannya," urainya.
Menurutnya, nilai frekuensi natural tanah yang tinggi 6.86-13.04 yang masuk dalam kategori tanah cukup keras.
Sehingga adanya sungai yang mengalir secara horizontal di sepanjang lereng bukit, diduga menjadi faktor utama meningkatnya tingkat jenuh air dalam tanah.
"Di lokasi adalah jenis batu keras, cuma karena adanya sungai yang mengalir di atas akhirnya terjadi pelapukan tanah dan batu. Sehingga membuat tanah menjadi jenuh dan untuk area sekitar tanahnya aman informasinya seperti itu," tandasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

