Grebeg Suro di Petilasan Gajah Mada, Warga Lintas Komunitas di Nganjuk Bersatu Rawat Warisan Budaya Nusantara

Ritual Grebeg Suro digelar di Petilasan Gajah Mada, Desa Lambangkuning, Nganjuk. Tradisi tahunan ini menjadi simbol pelestarian budaya, doa bersama, dan harmonisasi lintas komunitas.

18 Jun 2026 - 22:43
Grebeg Suro di Petilasan Gajah Mada, Warga Lintas Komunitas di Nganjuk Bersatu Rawat Warisan Budaya Nusantara
Mangku Ajie Sulistiono Koordinator acara grebeg Suro di Desa Lambangkuning (Foto: kuswanto/SJP)

NGANJUK, SJP – Nuansa sakral menyelimuti kawasan Petilasan Gajah Mada di Desa Lambangkuning, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, saat masyarakat bersama para pemerhati budaya menggelar ritual Grebeg Suro dalam rangka menyambut Tahun Baru Jawa 1 Suro, Kamis (18/6/2026) malam.

Tradisi tahunan yang digelar di salah satu situs bersejarah tersebut tidak hanya menjadi momentum spiritual untuk memanjatkan doa dan rasa syukur, tetapi juga menjadi ruang pertemuan berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya dan sejarah leluhur Nusantara.

Ratusan warga, tokoh adat, pegiat budaya, hingga komunitas lintas daerah tampak memadati area petilasan. Mereka mengikuti rangkaian prosesi dengan khidmat, menciptakan suasana yang sarat nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap warisan sejarah yang diyakini memiliki keterkaitan dengan sosok Mahapatih Gajah Mada.

Kehadiran berbagai komunitas lintas agama dan budaya dalam peringatan Grebeg Suro tersebut menjadi simbol kuat harmonisasi sosial di tengah keberagaman. Semangat gotong royong dan pelestarian tradisi menjadi pesan utama yang terus dijaga dari tahun ke tahun.

Sebelum prosesi inti dimulai, suasana di sekitar petilasan tampak semarak dengan suguhan seni budaya tradisional. Acara diawali dengan Tari Gambyong sebagai tarian penyambutan yang dibawakan secara apik oleh para penari. Alunan gamelan yang mengiringi pertunjukan menambah kesan khidmat sekaligus memperkuat nuansa budaya Jawa yang kental.

Berdasarkan pantauan di lokasi, para peserta duduk bersila di atas hamparan terpal di depan gerbang petilasan bernuansa kuning keemasan. Mereka mengikuti doa bersama dan rangkaian ritual yang berlangsung hingga malam hari.

Mangku Ajie Sulistiono, salah satu tokoh yang terlibat dalam kegiatan tersebut, mengatakan Grebeg Suro tahun ini dikemas secara sederhana tanpa mengurangi nilai sakral yang menjadi inti perayaan.

"Yang terpenting adalah kita memperingati Tahun Baru Suro ini dengan mengirim doa kepada para leluhur serta memohon agar segala sesuatu ke depan dapat berjalan dengan baik," ujarnya.

Menurut Ajie, Grebeg Suro di Petilasan Mahapatih Gajah Mada telah rutin dilaksanakan selama tujuh tahun terakhir. Tradisi tersebut terus berkembang dan mendapat dukungan dari berbagai kalangan masyarakat.

"Acara ini turut diikuti oleh rekan-rekan dari wihara, Komunitas Mojopahit, serta Trah Mpu Sindok. Kehadiran berbagai kelompok ini, termasuk komunitas lintas agama dan umat Islam yang tetap menjaga adat, menunjukkan kuatnya kebersamaan dalam merawat tradisi dan budaya," katanya.

Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi Grebeg Tumpeng yang dipandu cucuk lampah sebagai pembuka jalan. Selanjutnya, peserta disuguhi berbagai pertunjukan tari tradisional yang menjadi bagian dari ritual budaya tersebut.

Selain Tari Gambyong, penonton juga disuguhi Tari Puja Maheswara, tarian bedoyo khas Nganjuk yang secara khusus dipentaskan sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan dalam ritual adat.

Melalui kegiatan tersebut, Ajie berharap masyarakat, khususnya warga Desa Lambangkuning, semakin antusias terlibat dalam penyelenggaraan Grebeg Suro sehingga tradisi budaya yang diwariskan leluhur tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Sementara itu, Kepala Desa Lambangkuning, Yusuf yang diwakili Kepala Dusun Lambangkuning, Dani, menyampaikan apresiasi atas kekompakan warga dan para pegiat budaya yang telah berperan aktif menyukseskan kegiatan tersebut.

"Kami dari pihak desa sangat mengapresiasi semangat gotong royong warga dalam menyukseskan Grebeg Suro ini. Kegiatan positif seperti ini tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga menjaga identitas budaya kita. Kami berharap tradisi ini terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi mendatang agar mereka tidak melupakan akar sejarahnya," pungkas Dani. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow