Ini Alasan Penggunaan Susu Kedelai yang Diduga Jadi Pemicu Keracunan MBG di Sumberwringin Bondowoso
Pihak Koordinator SPPG Kabupaten Bondowoso menjelaskan alasan penggunaan susu kedelai dalam menu MBG yang diduga memicu keracunan 77 warga Sumberwringin. Produk baru dari UMKM digunakan tanpa konfirmasi, sementara distribusi terlambat dan tercium bau hangus sebelum dibagikan.
BONDOWOSO, SJP – Pasca keracunan massal yang menimpa 77 orang di Kecamatan Sumberwringin, usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Koordinator Kabupaten satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) Kabupaten Bondowoso, akhirnya memberikan klarifikasi.
Di hadapan Arif Sudibyo, Plt Kepala Dinas Kesehatan Bondowoso dan Probo Nugroho, Camat Sumberwringin, Mila Afriana Agustina Koordinator SPPG Kabupaten mengungkap alasan penggunaan susu kedelai yang diduga menjadi biang kerok keracunan MBG.
Saat ditemui Dinas Kesehatan di SPPG Al Hidayah 3 Desa Rejoagung, Mila angkat bicara terkait dugaan penyebab keracunan yang menimpa 77 warga setelah mengonsumsi susu kedelai dalam menu MBG di Kecamatan Sumberwringin, Rabu (3/12/2025).
Dirinya mengungkap, penggunaan susu kedelai sebenarnya telah melalui berbagai pertimbangan, termasuk rekomendasi ahli gizi dan komunikasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso.
“Kami memang meminta produk susu kedelai yang kandungan gulanya tidak terlalu tinggi. Itu yang membuat susu kedelai tidak tahan lama, sehingga sebelumnya kami tidak lagi menggunakannya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, belakangan ini pihaknya mengalami kesulitan memperoleh susu pabrikan. Hingga akhirnya muncul kembali satu produk susu kedelai bermerk Dsoy, yang dinilai masih memungkinkan dipakai setelah melalui cek rasa dan kualitas.
“Penggunaannya pun disepakati bersama Dinas Kesehatan hanya satu bulan sekali, dan hal itu sudah disampaikan di grup ahli gizi,” jelas Mila.
Namun ia mengaku belum menerima konfirmasi resmi terkait adanya pergantian produk susu ke versi yang digunakan UMKM lokal. Informasi baru diterima setelah adanya laporan kejadian dugaan keracunan pada Rabu (3/12/2025) pagi.
Mila menjelaskan, dari keterangan ahli gizi dan Kepala SPPG, sampel produk yang digunakan telah dicoba dan dicek sebelumnya, termasuk rasa dan estimasi ketahanan produk. Namun proses distribusi pada hari kejadian mengalami kendala.
“Sampai jam 3 pagi, susu itu belum datang. Ahli gizi sudah mengawasi sejak malam, lalu berpamitan istirahat. Sesuai SOP, jika ada kejanggalan di dapur, staf yang standby wajib melapor. Tapi ahli gizi tidak dibangunkan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, baru pukul 07.00 WIB, ahli gizi mendapatkan informasi kondisi susu yang sudah tercium bau sedikit hangus dari produk tersebut dan itu sudah terdistribusikan.
“Informasinya, bau itu terdeteksi saat pagi hari. Dan produk ini memang baru pertama kali digunakan,” tambahnya.
Mila juga menegaskan, seluruh proses dan keterangan sudah disampaikan kepada satgas serta menunggu hasil investigasi resmi dari Dinas Kesehatan mengenai penyebab pasti keracunan massal tersebut.
Seperti diberitakan sebelumnya, tercatat ada 77 siswa dan guru yang keracunan, sehingga harus mendapatkan perawatan intensif di Puskesmas Sumberwringin, usai menyantap menu MBG dan susu kedelai.
Informasi yang diterima suarajatimpost.com, hingga Kamis (4/12/2025) seluruh pasien sudah dipulangkan dalam kondisi sehat. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

