Indonesia Negara Mega-Biodiversity, Tapi Dua Satwa Ini Terancam Punah

Dua spesies endemik Indonesia, pesut Mahakam dan badak Kalimantan tinggal hitungan jari, Menteri LH peringatkan Indonesia bisa kehilangan biodiversitas jika tak segera bertindak.

07 May 2025 - 19:32
Indonesia Negara Mega-Biodiversity, Tapi Dua Satwa Ini Terancam Punah
Menteri LH Hanif prihatin atas kondisi kritis dua spesies endemik Indonesia (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Sebagai negara mega-biodiversity, Indonesia menjadi rumah bagi ribuan spesies fauna unik yang tidak ditemukan di belahan dunia lain, mulai dari komodo, orang utan, harimau Sumatera, dan banyak spesies lainnya.

Namun, di balik kekayaan tersebut, sejumlah spesies justru berada dalam kondisi kritis dan hampir punah.

Dua di antaranya bahkan disebut langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup (MenLH) / Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq saat melakukan kunjungan kerja ke PDTS Kebun Binatang Surabaya (KBS), yakni Pesut Mahakam dan Badak Kalimantan.

Dalam pernyataannya, Menteri Hanif menekankan bahwa konservasi saat ini tidak hanya berbicara tentang penangkaran atau fasilitas kebun binatang, tetapi juga penyelamatan spesies yang nyaris punah di alam liar.

"Kalau itu nggak ada, kita akan kehilangan kembali biodiversitas kita,” tegas Hanif, Rabu (7/5/2025).

Pesut Mahakam: Mamalia Sungai yang Terjerat Tambang

Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) adalah spesies lumba-lumba air tawar yang hanya dapat ditemukan di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Hewan tersebut merupakan salah satu mamalia air paling langka di dunia.

Hanif mengungkapkan keprihatinan terhadap kondisi sungai yang semakin rusak oleh aktivitas pertambangan batu bara, yang memengaruhi habitat dan pola hidup pesut.

"Pesut Mahakam ini kan dia punya karakter fisiologis, dia akan kembali ke laut kemudian masuk lagi ke sungai. Saat ini sungainya kan penuh dengan batu bara, sehingga bentuk-bentuk kepala terindikasi pesut Mahakam ini kurang dari 50 ekor," ungkapnya.

Populasi pesut Mahakam diperkirakan hanya tersisa sekitar 67–75 ekor, berdasarkan data dari para peneliti dan pemerhati lingkungan. Ancaman utama datang dari polusi, kebisingan kapal, hingga degradasi ekosistem sungai yang tidak lagi layak sebagai habitat alami mereka.

Badak Kalimantan: Dua Ekor Tersisa di Dunia

Spesies lain yang mendapat sorotan adalah badak Kalimantan, juga dikenal sebagai Badak Mahakamulu, yang merupakan subspesies dari badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Spesies itu sempat dianggap punah hingga ditemukan kembali secara mengejutkan di hutan Kalimantan pada 2013.

Namun kenyataan hari ini sangat memprihatinkan. Hanya dua ekor badak Kalimantan yang diketahui masih hidup di dunia, satu telah berhasil diamankan di pusat konservasi, sementara satu lagi masih berkeliaran di alam liar tanpa perlindungan taman nasional.

"Ini juga sedunia itu cuma ada dua ekor, satunya sudah bisa kita amankan, satunya masih hidup di tengah-tengah yang tingkat bahayanya cukup tinggi karena tidak berada di taman nasional," ujar Hanif.

Ancaman terbesar bagi badak Kalimantan berasal dari perambahan hutan, perburuan liar, dan isolasi genetik karena tidak adanya populasi lain yang tersisa.

Upaya Kementerian Lindungi Satwa

Kementerian Lingkungan Hidup bersama Kementerian Kehutanan berkomitmen untuk terus mengevaluasi dan memperkuat upaya perlindungan satwa, termasuk dengan pengembangan strategi nasional dan pembentukan standar konservasi berbasis ekosistem. 

Kasus pesut dan badak menjadi pengingat bahwa Indonesia tidak hanya kaya fauna, tetapi juga rentan kehilangan kekayaan tersebut jika tidak dikelola dengan serius. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow