Ilustrasi Idiom dan Misi Menjaga Api Seni di Generasi Muda

Ilustrasi Idiom tak sekadar melukis di PRIMETIME 2025, mereka menjembatani generasi, memastikan seni terus berkembang tanpa kehilangan esensinya, di tengah era digital yang serba cepat.

10 Mar 2025 - 21:39
Ilustrasi Idiom dan Misi Menjaga Api Seni di Generasi Muda
Dari kiri: Ridwan SS, Roman Chuza, Nining Zaro, Reymond selaku Ketua Panita PRIMETIME 2025 dan Buggy Kupu (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Suara langkah mahasiswa bergema di lorong-lorong Gedung Q Universitas Kristen (UK) Petra. Acara tahunan PRIMETIME 2025 oleh Himpunan Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (Himavistra) UK Petra tengah berlangsung, menghadirkan berbagai instalasi, pameran, hingga demo seni yang memikat perhatian.

Namun, di salah satu sudut kegiatan, ada yang lebih dari sekadar pameran visual. Sekelompok orang sedang melukis, menarik perhatian mahasiswa untuk mendekat sembari mengamati sapuan kuas, melihat bagaimana warna-warna menyatu di kanvas, dan mendengar cerita di balik setiap karya yang sedang diciptakan.

Mereka adalah para seniman dari komunitas Ilustrasi Idiom yang sedang melakukan demo melukis untuk menghadirkan seni yang bisa dirasakan, didekati, bahkan dipelajari langsung oleh para mahasiswa. Bagi Roman Chuza, Ketua Komunitas Ilustrasi Idiom, momen itu adalah esensi dari seni yang sesungguhnya.

“Seni itu bukan sesuatu yang eksklusif, bukan milik segelintir orang. Ia harus diwariskan, terutama kepada generasi muda,” kata Roman, Senin (10/3/2025).

Roman mengungkapkan bahwa pihaknya diundang oleh panitia untuk mengisi kegiatan PRIMETIME 2025, namun kehadiran mereka bukan hanya untuk unjuk karya, tetapi juga membangun jembatan antara seniman dan generasi muda.

Bersama 3 rekan lainnya, Roman ingin menunjukkan bahwa seni bukan sekadar hasil akhir, tetapi sebuah perjalanan yang terus berkembang, terutama di era digital seperti sekarang.

Buggy Budijanto: Filosofi Kupu-Kupu, Konsistensi, dan Identitas

Salah satu seniman yang ikut ambil bagian adalah Buggy Budijanto, atau yang lebih dikenal dengan Buggy Kupu. Selama lebih dari 20 tahun, ia telah mendedikasikan dirinya melukis satu objek, yaitu kupu-kupu.

"Saya ingin menunjukkan bahwa seni adalah perjalanan panjang. Konsistensi dalam berkarya itu penting, karena di situlah kita menemukan identitas," ujar Budi.

Di hadapan mahasiswa DKV yang tengah mencari jati diri dalam seni, Buggy ingin menegaskan bahwa ketekunan adalah kunci. Kupu-kupu yang ia lukis bukan hanya sekadar objek, tetapi juga representasi dari bagaimana seorang seniman menemukan bentuk dan gayanya sendiri dalam perjalanan kreatifnya.

Ridwan SS: Menangkap Momen, Menangkap Esensi

Di sudut lain, Ridwan SS, wakil ketua komunitas Ilustrasi Idiom memilih objek lukisan yang berbeda, yakni gedung Q Petra yang menjadi lokasi kegiatan itu sendiri. Ia mengatakan bahwa saat ini dirinya sedang tertarik untuk mendalami melukis on-the-spot (OTS).

"Gedung ini saksi perjalanan mahasiswa, tempat mereka belajar, mencipta, dan berkembang. Saya ingin menangkap esensinya," kata Ridwan.

Bagi Ridwan, seni bukan sekadar teknik, tetapi bagaimana seorang seniman mampu membaca dan menerjemahkan lingkungan di sekitarnya. Ia ingin mengajarkan kepada mahasiswa bahwa inspirasi ada di mana-mana, asalkan mereka mau melihat lebih dalam.

Nining Zaro: Seni yang Bersentuhan dengan Alam

Sementara itu, Nining Zaro menghadirkan pendekatan yang berbeda dalam berkarya. Alih-alih hanya menggunakan kuas, ia juga memanfaatkan daun sebagai cetakan, menciptakan tekstur alami yang menyatu dengan warna-warna cat di atas kanvas.

"Daun punya sidik jari sendiri, tidak ada yang sama, seperti halnya manusia dan perjalanan kreatif mereka. Karena itu, seni bagi saya adalah tentang eksplorasi, dan setiap orang memiliki cara unik untuk mengekspresikannya," ucap Nining.

Nining yang merupakan alumni Akademi Seni Rupa Surabaya (AKSERA) ingin mengajak mahasiswa untuk memahami bahwa seni tidaklah terbatas pada ruang dan konsep tertentu, namun juga bisa muncul dari hal-hal sederhana di sekitar mereka, termasuk dari sehelai daun.

Roman Chuza: Seni yang Melekat pada Diri Manusia

Roman sendiri memilih medium yang berbeda saat melakukan demo, Putra dari pelukis kondang asal Surabaya yakni almarhum Achmad Chusnul itu malah menggunakan wajah dari salah satu mahasiswa Petra untuk ia lukis.

"Seni itu bukan hanya ada di kanvas atau galeri, tapi juga di dalam diri kita," jelas Roman.

Baginya, seni bukan sesuatu yang harus dijauhkan dari kehidupan sehari-hari. Justru, seni harus lebih dekat, lebih personal, dan bisa menyatu dengan siapa saja, termasuk mahasiswa yang masih dalam proses menemukan gaya dan ekspresi mereka sendiri.

Seni di Era Digital: Menyesuaikan Diri Tanpa Kehilangan Esensi

Di era serba digital seperti sekarang, Roman menekankan bahwa seni harus berkembang. Ia melihat bagaimana mahasiswa DKV saat ini semakin banyak yang berkarya lewat medium digital, mulai dari ilustrasi hingga animasi.

"Kita tidak bisa menutup mata terhadap perkembangan teknologi. Kalau kita abaikan itu, kita hanya akan tertinggal," ujarnya.

Namun, Roman juga mengingatkan bahwa teknologi bukan berarti meninggalkan akar seni tradisional. Baginya, ada keseimbangan yang perlu dijag, bagaimana seni bisa mengikuti zaman tanpa kehilangan esensi dan jiwanya.

Menjaga Seni Tetap Hidup, Bersama-Sama

Demo seni yang dilakukan oleh Ilustrasi Idiom di PRIMETIME 2025 bukan sekadar pertunjukan keterampilan. Lebih dari itu, mereka ingin menyampaikan pesan: seni harus diwariskan, dikembangkan, dan tetap hidup dalam setiap generasi.

"Yang paling penting dalam seni adalah kebersamaan. Tanpa itu, seni hanya akan menjadi kenangan," tutup Roman.

Hari itu, lebih dari sekadar lukisan yang terselesaikan, lebih dari sekadar warna yang menghiasi kanvas, ada sesuatu yang lebih besar yang mereka tinggalkan, yakni sebuah warisan.

Warisan bahwa seni bukan hanya untuk dinikmati, tetapi untuk dibagikan, agar terus tumbuh dan berkembang di tangan generasi selanjutnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow