Ibu-Ibu Tambaksari Surabaya Ikuti Pelatihan Menjahit: Harapan di Balik Jarum dan Benang

Dari tidak bisa menjahit hingga siap terima pesanan, 20 ibu rumah tangga di Surabaya kini punya harapan baru berkat program pelatihan intensif

16 Mar 2025 - 22:47
Ibu-Ibu Tambaksari Surabaya Ikuti Pelatihan Menjahit: Harapan di Balik Jarum dan Benang
Para peserta bangga mengenakan seragam hasil jahitan sendiri setelah enam hari mengikuti pelatihan menjahit dari Pemkot Surabaya. (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Di sebuah ruangan yang dipenuhi suara mesin jahit, puluhan ibu rumah tangga dengan tekun menyusuri benang di atas kain. Ada yang baru pertama kali menyentuh mesin jahit. Ada pula yang sudah lebih mahir. Namun semuanya memiliki semangat yang sama untuk belajar dan berkembang. 

Itulah pemandangan yang terlihat selama enam hari pelatihan menjahit dalam program bimbingan teknis (bimtek) menjahit seragam tahun 2025 yang digelar oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disnaker) di Kantor Kelurahan Kapas Madya Baru.

Kegiatan yang tiap harinya berlangsung dari pukul 09.00 WIB hingga 16.00 WIB ini diikuti oleh 20 ibu-ibu dari Kecamatan Tambaksari. Khususnya dari Kelurahan Kapas Madya Baru. Mereka mendapatkan pelatihan langsung dari dua instruktur berpengalaman. Yakni Siti Amina dan Novita Rahayu Purwaningsih, pemilik toko busana Vira Collection.

Dari Nol Menjadi Terampil

Novita Rahayu Purwaningsih, selaku salah satu mentor bimtek menjelaskan, kegiatan tersebut awalnya diinisiasi oleh Kelurahan Kapas Madya Baru yang mengajukan program ke Disnaker. Menurutnya, itu adalah visi dari pihak kelurahan untuk melatih ibu-ibu di wilayahnya semakin kreatif. 

"Jadi pihak kelurahan ingin warganya tidak cuma berdiam diri di rumah, tapi bisa bikin sesuatu. Akhirnya saya dipercaya buat jadi mentor. Karena saya sendiri adalah contoh ibu rumah tangga yang bisa kerja dari rumah," ucap Novita saat dikonfirmasi pada Ahad (16/3/2025).

Menariknya, dari 20 orang peserta, hanya 4 sampai 5 orang yang sudah memiliki dasar menjahit. Sementara sisanya benar-benar pemula. Bahkan ada yang belum pernah memegang mesin jahit sebelumnya.

"Saya lihat di hari pertama, ada yang pegang mesin jahit itu masih takut-takut, tangannya gemetar. Tapi saya selalu bilang, sabar, pelan-pelan, nanti pasti bisa," tambah Novita.

Ketika Jahitan Tak Selalu Lurus, Tapi Semangat Tetap Utuh

Hari pertama menjadi tantangan tersendiri. Novita menceritakan, salah satu peserta bahkan ada yang sampai menangis di malam pertama setelah pelatihan dan hampir mundur karena merasa tidak mampu. Untungnya, dukungan dari sesama peserta dan motivasi dari Novita berhasil membangkitkan semangatnya. 

"Besoknya saya ajari pelan-pelan, eh malah jadi senang sendiri. Itu yang bikin saya terharu," kata Novita sambil tersenyum.

Dari Seragam Sekolah hingga Harapan Masa Depan

Disnaker tidak hanya ingin peserta bisa menjahit, tetapi juga berharap mereka bisa memanfaatkannya sebagai peluang usaha. Fokus utama pelatihan ini adalah membuat seragam sekolah. Khususnya untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

"Siapa tahu nanti bisa jadi usaha mereka. Jadi kalau ada pesanan seragam sekolah, ibu-ibu di sini bisa ambil bagian. Jadi tidak hanya belajar, tapi bisa langsung menghasilkan," papar Novita.

Semangat yang Diganjar Penghargaan

Di hari terakhir pelatihan, diselenggarakan penilaian untuk memilih peserta paling tekun dan berusaha keras sebagai wujud apresiasi.

Novita menegaskan, penilaian bukan berdasarkan siapa yang paling rapi menjahit, melainkan siapa yang paling giat belajar. Dari 20 peserta, Ibu Ariana terpilih sebagai peserta terbaik.

"Dia itu dari awal tidak bisa sama sekali, bahkan canggung banget waktu pertama kali pegang mesin jahit. Tapi saya lihat usahanya luar biasa, tekun banget," kata Novita.

Dia menyampaikan harapannya agar program seperti ini bisa terus berjalan dan melibatkan lebih banyak ibu-ibu rumah tangga.

"Daripada rumpi-rumpi tidak jelas, mending bikin produk yang bisa dijual. Kalau ibu-ibu bisa mandiri, keluarganya juga pasti lebih sejahtera," tambah Novita.

Dukungan Penuh dari Kelurahan

Keberhasilan pelatihan ini juga tak lepas dari dukungan Kelurahan Kapas Madya Baru. Pihak kelurahan melihat program ini sebagai peluang besar bagi ibu-ibu rumah tangga untuk meningkatkan keterampilan sekaligus membuka peluang usaha.

"Harapannya, ibu-ibu bisa mengembangkan bakat mereka. Mungkin ke depannya ada yang bisa membuka usaha jahitan sendiri, atau minimal bisa menjahit kebutuhan keluarga sendiri," kata Mutrofiah, Kasi Kesra Kelurahan Kapas Madya Baru.

Selain itu, kelurahan juga menyediakan fasilitas untuk mendukung kelanjutan keterampilan para peserta. Di kantor kelurahan sudah tersedia mesin jahit yang bisa digunakan secara gratis bagi warga yang ingin terus berlatih.

Bahkan, pihak kelurahan siap membantu peserta mendapatkan pesanan dari luar agar keterampilan yang diperoleh bisa segera menghasilkan pendapatan.

"Kami sudah bekerja sama dengan usaha konveksi di Tambak Wedi. Kalau ibu-ibu di sini ingin mulai menjahit seragam sekolah atau pesanan lain, kami bisa bantu bukakan jalan," jelasnya.

Dengan adanya jaminan pasar, diharapkan keterampilan yang didapatkan dalam pelatihan ini bisa langsung diterapkan dalam dunia kerja.

Lebih dari Sekadar Keterampilan

Bagi para peserta, pengalaman enam hari ini adalah campuran antara tantangan, kesulitan, dan kebahagiaan. Asma, salah satu peserta, mengungkapkan rasa syukurnya bisa belajar keterampilan baru. 

"Alhamdulillah, ada banyak manfaat yang kami ambil. Awalnya tidak bisa sama sekali. Sekarang sudah mulai paham sedikit-sedikit," ujarnya.

Meski begitu, ada momen yang menurut peserta menguji kesabaran dan bahkan membuat mereka sedih. Salah satu peserta mengatakan bahwa bagian paling sulit yang dihadapi selama bimtek adalah proses untuk memasang kancing. 

"Ngeplong (melubangi) kancing itu susah banget. Mau minta bantuan ke teman, ternyata di awal tidak ada yang bisa. Tapi setelah kerja sama dan dibantu sama Kak Novita akhirnya kita berhasil," ucap salah satu peserta yang diikuti gelak tawa.

Ariana, selaku peserta yang menerima penghargaan juga mengaku senang karena mendapatkan banyak teman baru.

"Dulu Tidak mengerti cara jahit ini-itu. Sekarang jadi tahu. Kita juga saling support, saling kerja sama. Jadi semua hasilnya bagus," katanya.

Para peserta berharap pelatihan ini bisa berlanjut dengan sesi lanjutan.

"Pak Camat sempat bilang kalau memang dibutuhkan, bisa lanjut lagi kegiatannya. Karena kami masih awam. Kalau tidak ada mentor, masih agak kesulitan," kata salah satu peserta. 

Para peserta sepakat dan antusias jika pelatih menjahit kembali diadakan. Namun para peserta juga berkelakar bahwa ada satu hal yang tidak boleh berubah di pelatihan berikutnya. Yakni mentornya harus tetap cantik dan sabar.

"Karena kalau mentornya nanti jahat ya saya tinggal pulang," tutup salah satu peserta yang kembali mengundang tawa peserta lainnya.

Dengan semangat yang terus menyala, program bimtek menjahit ini bukan sekadar pelatihan keterampilan, tetapi juga awal dari perubahan bagi banyak ibu rumah tangga.

Mereka kini memiliki harapan baru. Tidak hanya menjadi penonton dalam roda ekonomi, tetapi juga ikut berkontribusi dengan tangan mereka sendiri. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow