Harmoni Bahasa dan Budaya Warnai Peringatan Bulan Bahasa di SMAN 9 Surabaya
Semarak Bulan Bahasa di SMAN 9 Surabaya menghadirkan harmoni bahasa dan budaya, siswa menari, berdebat, hingga berbusana adat dalam perayaan yang meneguhkan identitas dan kreativitas pelajar muda.
SURABAYA, SJP - Semarak peringatan Bulan Bahasa 2025 belum juga usai meski kalender sudah berganti ke November. Di SMA Negeri 9 Surabaya, peringkatan tahunan itu justru mencapai puncaknya pada awal pekan ini dengan angkat tema “Harmony in Diversity - Suara, Bahasa dan Budaya”.
Bulan Bahasa sendiri merupakan agenda nasional yang diperingati setiap Oktober sebagai bentuk penghormatan terhadap bahasa persatuan, Bahasa Indonesia, sekaligus penguatan literasi dan pelestarian bahasa daerah serta penguasaan bahasa asing.
Melalui peringatan tersebut, pelajar diharapkan mampu mengenali akar budaya sendiri sembari membuka diri terhadap keragaman bahasa dunia. Semangat itulah yang dihidupkan kembali oleh SMAN 9 Surabaya dengan cara yang kreatif dan menyenangkan.
Tiga Bahasa, Satu Semangat
Ketua panitia kegiatan sekaligus guru Bahasa Jawa SMAN 9 Surabaya, Jefri Dadang Triyoso, menjelaskan bahwa Bulan Bahasa tahun 2025 ini menjadi momentum untuk berkolaborasi antarbidang bahasa dan seni.
"Bulan Bahasa rutin kami gelar tiap tahun. Guru bahasa Indonesia, Jawa, dan Inggris berkolaborasi dengan guru seni budaya. Jadi dalam perayaannya tidak hanya soal bahasa tapi juga ada seni rupa, tari-tarian, dan pameran karya siswa," ujarnya, Selasa (11/11/2025).
Tahun 2025 menjadi tahun ketiga penyelenggaraan dengan antusiasme yang semakin meningkat. Kegiatan tersebut semula hanya diinisiasi oleh guru-guru bahasa, namun sejak dua tahun terakhir telah menjadi bagian dari program kesiswaan sekolah.
Pelaksanaan Bulan Bahasa 2025 di SMAN 9 Surabaya berlangsung selama dua hari, Senin–Selasa (10–11 November 2025). Kegiatan itu sengaja diundur dari Oktober karena bertepatan dengan ujian Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa kelas XII, dan digabungkan dengan peringatan Hari Pahlawan.
Pada hari pertama, acara yang juga bertepatan dengan Hari Pahlawan dibuka dengan Tari Gandrung khas Banyuwangi. Siswa tampil mengenakan busana tradisional dan mengikuti berbagai lomba seperti debat Bahasa Indonesia, pidato Bahasa Jawa, MC Bahasa Indonesia, serta vlog Bahasa Inggris.
"Senin kemarin anak-anak sudah memakai baju adat dan mengikuti lomba-lomba berbahasa. Semua berlangsung meriah dan penuh semangat," kata Jefri.
Sementara itu, hari kedua dibuka dengan Tari Remo khas Jawa Timur dan penampilan Reog Ponorogo oleh siswa, lengkap dengan dadak merak seberat 80 kilogram. Sementara ajang perlombaan dilanjutkan dengan lomba menyanyi campursari.
"Anak-anak yang menari Reog itu benar-benar luar biasa. Mereka itu sampai membawa Dadak Merak yang beratnya itu hampir 80 kilogram," tuturnya.
"Dan untuk yang Campursari itu diadakan agar anak-anak kenal dan mengetahui budaya kita," sambung Jefri.
Selain lomba bahasa dan seni, panitia juga menambahkan kategori Best Dress Code bagi siswa dan guru, serta Best Supporter bagi kelas yang paling kompak dan meriah dalam mendukung teman-teman mereka yang mengikuti perlombaan.
Sekolah Berhenti Belajar, Tapi Tidak Berhenti Berkarya
Selama dua hari kegiatan berlangsung, proses belajar mengajar di kelas ditiadakan sementara. Seluruh area sekolah berubah menjadi ruang ekspresi, mulai dari aula, laboratorium, hingga lapangan utama.
"Kegiatan ini memang dibuat agar anak-anak lebih fresh setelah TKA. Jadi pembelajaran kami hentikan dulu dua hari, baru besok kembali normal," terang Jefri.
Suasana sekolah terlihat hidup. Guru dan siswa sama-sama mengenakan baju adat dari berbagai daerah, mulai dari Jawa, Sumatera, hingga Kalimantan. Tak sedikit orang tua turut mendukung dengan membantu penyewaan kostum adat untuk anak-anaknya.
Membiasakan Berbahasa, Menanamkan Identitas
Dalam keseharian, SMAN 9 Surabaya memiliki pembiasaan penggunaan bahasa sesuai konteks pelajaran. Bahasa Indonesia digunakan dalam komunikasi umum, sementara saat pelajaran bahasa daerah atau bahasa asing, seluruh interaksi dilakukan dalam bahasa pengantar tersebut.
"Kalau pelajaran Bahasa Jawa, semua komunikasi harus pakai bahasa Jawa, mulai dari komunikasi di dalam kelas hingga izin keluar. Begitu juga Bahasa Inggris, semuanya full English," jelas Jefri.
"Bahasa Jawa mencerminkan identitas kita, Bahasa Indonesia jati diri bangsa, dan Bahasa Inggris jembatan untuk berinteraksi dengan dunia," imbuhnya.
Ia berharap melalui kegiatan Bulan Bahasa, siswa semakin menyadari pentingnya bahasa sebagai alat komunikasi yang membentuk kepribadian dan karakter positif.
"Dari bahasa, literasi anak-anak bisa meningkat. Mereka belajar memilih kata yang baik, berbicara sopan, dan berpikir positif," tambahnya.
Peringatan Bulan Bahasa di SMAN 9 Surabaya juga mendapat dukungan dari pihak luar. Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Surabaya, Syaiful Bachri, turut hadir memberikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut.
"Kegiatan seperti ini baik sekali, tidak hanya menumbuhkan kesadaran berbahasa, tapi juga menjadi wadah kegiatan positif bagi remaja," tandas Syaiful.
Peringatan Bulan Bahasa di SMAN 9 Surabaya bukan sekadar lomba tahunan, tetapi menjadi ruang pembelajaran yang menyatukan tiga dimensi penting, meliputi bahasa, seni, dan karakter. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

