Harga Perak Antam Hari Ini Naik ke Rp 51.400 Per Gram, Mengekor Kenaikan Emas
Harga perak Antam naik menjadi Rp 51.400 per gram pada 25 Mei 2026. Simak mengapa perak batangan bisa menjadi alternatif investasi logam mulia yang murah meriah di tengah meroketnya harga emas.
JAKARTA, SJP – Ketika harga emas batangan semakin melambung tinggi, instrumen logam mulia perak (silver) bisa menjadi alternatif investasi yang tidak kalah menarik dan tentunya jauh lebih ramah di kantong.
Pada perdagangan awal pekan ini, Senin (25/5/2026), harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) terpantau ikut menguat mengikuti tren kenaikan harga emas. Berdasarkan data terbaru, harga perak Antam naik Rp 1.850 menjadi Rp 51.400 per gram, dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di posisi Rp 49.550 per gram.
Pergerakan positif ini menjadi angin segar setelah pada pekan sebelumnya (18-24 Mei 2026), harga perak sempat mengalami koreksi tipis sebesar Rp 100 atau 0,2%.
Perak Sebagai Alternatif "Safe Haven" Terjangkau
Bagi investor pemula atau masyarakat yang ingin melakukan diversifikasi aset namun memiliki modal terbatas, perak merupakan pilihan instrumen yang rasional. Sebagai perbandingan, pada hari yang sama, harga emas Antam tercatat naik Rp 30.000 hingga menembus level Rp 2.803.000 per gram.
Dengan gap harga yang sangat signifikan, perak menawarkan akses yang lebih mudah bagi publik untuk mulai berinvestasi pada aset fisik logam mulia.
Untuk memenuhi kebutuhan investasi ini, dalam laman resminya, Logam Mulia Antam menawarkan produk perak batangan (*silver bar*) dalam beberapa varian. Investor dapat memilih perak batangan **250 gram** dalam bentuk *casting*, atau varian klasik **500 gram** dengan *finishing* halus yang sangat cocok dijadikan simpanan jangka panjang.
Terdorong Sentimen Global
Kenaikan harga logam mulia, baik emas maupun perak, di pasar domestik sejalan dengan melesatnya harga di pasar global. Pada Senin pagi, harga emas spot dunia tercatat melonjak 1,4% menjadi US$ 4.570,88 per ons troi.
Penguatan harga logam mulia ini didorong oleh beberapa faktor makroekonomi utama. Pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dan turunnya harga minyak dunia membuat investor berbondong-bondong memindahkan dana mereka ke instrumen aset aman (safe haven).
Selain itu, sentimen geopolitik turut memainkan peran penting. Meningkatnya spekulasi akan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran memicu dinamika pasar yang membuat aset logam mulia semakin diburu oleh investor global. (**)
Sumber: Beritasatu.com
Editor: Danu
What's Your Reaction?

