Harga Gabah Jauh dari HPP, Petani di Nganjuk Minta Bulog Turun Tangan
Petani terpaksa menjual gabahnya kepada tengkulak karena Bulog tidak kunjung mau menyerap gabah petani
NGANJUK, SJP – Rendahnya harga gabah membuat petani di Kabupaten Nganjuk merasa kecewa. Gabah hasil panen petani hanya dihargai Rp5.700 per kilogram. Sementara harga pembelian pemerintah (HPP) yaitu Rp6.500 per kilogram.
Kondisi ini membuat petani merugi dan tidak bisa menutupi biaya produksi yang telah dikeluarkan. Petani berharap Badan Urusan Logistik (Bulog) bisa menyerap hasil panen petani secara maksimal sesuai HPP yang telah ditetapkan.
Kekhawatiran petani semakin memuncak mengingat tidak lama lagi akan memasuki masa panen raya. Dikhawatirkan harga gabah akan semakin anjlok.
“Kami sudah mengetahui kalau pemerintah sudah menetapkan harga gabah naik menjadi Rp6.500. Oleh karenanya, kami berharap bisa terjual seharga HPP. Namun kenyataannya hanya dihargai Rp 5.700. Biaya yang kami keluarkan sudah sangat banyak. Kami rugi Rp 1.000 per kilogram dan nilai tersebut sangat berarti,” ungkap Edi, petani di Dusun Ketangi, Desa Kampungbaru, Senin (17/3/2025).
Edi menambahkan, selama ini para petani menjual gabah miliknya kepada tengkulak karena Bulog belum menyerap gabah milik petani di daerahnya. Dengan HPP Rp6.500, petani sangat berharap bisa mendapatkan keuntungan yang lebih baik dari sebelumnya.
“Kami terpaksa segera menjual ke tengkulak. Karena selama ini gabah kami belum pernah diserap oleh Bulog. Kebutuhan kami sangat mendesak untuk kehidupan sehari-hari. Kami bersama keluarga dan persiapan tanam berikutnya,” imbuh Edi
Edi juga mengeluhkan prosedur pembelian gabah di Bulog yang dianggap rumit. Petani harus mendaftar minimal tiga hari sebelum panen. Namun kerap kali molor hingga satu atau dua pekan. Setelah mendaftar pun, gabah mereka tetap ditolak.
Akibatnya, Edi terpaksa menjual gabahnya ke tengkulak dengan harga Rp5.700 per kilogram: jauh di bawah HPP yang telah ditetapkan yaitu Rp6.500 per kilogram. Dia mengalami kerugian sekitar Rp3 juta sampai Rp 4 juta untuk lahan seluas 166 meter persegi.
"Terpaksa saya jual ke tengkulak, mana yang bisa membeli saja. Sebab, hasil panen terjual karena petani sudah punya jadwal untuk masa tanam kedua," lanjut Edi.
Petani berharap Bulog dapat membeli hasil panen gabah petani sesuai arahan Presiden Prabowo. Mereka juga meminta pemerintah menindak tegas tengkulak yang membeli gabah di bawah HPP.
Sementara itu, Kepala Desa Kampungbaru, Susilo Dwi Prasetyo menyebut, selama ini petani di wilayahnya masih panen dengan cara manual. Meski begitu, hasilnya sangat tinggi. Dia berharap Bulog menyerap gabah petani sesuai HPP yang telah ditetapkan.
“Kami berharap petani tidak menjual gabahnya kepada tengkulak. Karena pasti akan anjlok. Dengan catatan Bulog gerak cepat serap gabah milik petani sesuai HPP,” harap Susilo.
“Kami sangat berterima kasih karena pemerintah sudah berusaha menaikkan HPP gabah dan jagung. Namun dia berharap pemerintah juga turut menekan Bulog agar menyerap gabah milik petani secara maksimal. Dengan begitu petani bisa merasakan keuntungan dan tidak terpuruk, “ tambah Susilo.
Kades Kampungbaru berharap agar pemerintah segera mencarikan solusi untuk mengatasi masalah ini. Mereka meminta agar kebijakan yang diambil lebih berpihak pada petani, terutama dalam menjaga stabilitas harga gabah agar petani tidak semakin terpuruk dalam kesulitan ekonomi. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

