Harga Emas Kian Mengkilap bikin Masyarakat Kalap, Pakar Ingatkan Risiko Dibalik Euforia
Harga emas cetak rekor Rp2 juta per gram. Publik kalap, dikuasai FOMO, hingga stok ludes. Pakar peringatkan: keputusan panik bisa berujung rugi besar.
SURABAYA, SJP - Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang (Antam) resmi menembus angka psikologis Rp 2 juta per gram dalam perdagangan Kamis, 17 April 2025 kemarin.
Di beberapa gerai Pegadaian, harga emas bahkan sempat menyentuh Rp 2.045.000 per gram, menjadikannya All Time High (ATH) dalam sejarah perdagangan emas di Indonesia.
Kenaikan tersebut mengejutkan publik dan memicu lonjakan permintaan secara tiba-tiba. Banyak masyarakat yang memborong emas dalam jumlah besar, menyebabkan kelangkaan di sejumlah Galeri 24 dan outlet Logam Mulia Antam. Fenomena ini pun ramai dibicarakan di media sosial.
Gejolak Global Jadi Latar Belakang Kenaikan Emas
Analis mengaitkan lonjakan harga emas dengan meningkatnya ketidakpastian global. Krisis ekonomi di beberapa negara besar, kenaikan inflasi dunia, hingga eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama.
Di tengah situasi tersebut, emas kembali tampil sebagai aset safe haven (stabil) yang dianggap paling aman untuk mempertahankan nilai kekayaan.
Kondisi itu bukan hanya menarik minat investor besar, namun juga menggiring investor ritel dan masyarakat umum untuk ikut membeli emas sebagai bentuk proteksi terhadap risiko ekonomi.
FOMO Jadi Penyulut Panik Beli
Dosen Finance and Investment dari Petra Christian University (PCU), Prof. Sautma Ronni Basana, menilai fenomena langkanya emas Antam dalam beberapa hari terakhir lebih banyak dipicu oleh faktor psikologis daripada rasionalitas ekonomi.
Masyarakat, katanya, sedang mengalami FOMO atau Fear of Missing Out, yakni ketakutan ketinggalan momentum ketika harga emas melesat.
"Perilaku ini lebih dipengaruhi oleh efek menular dan kepanikan kolektif, bukan karena perhitungan rasional yang matang," ujar Prof. Sautma saat dikonfirmasi pada Jumat (18/4/2025).
Ia menjelaskan, masyarakat terdorong untuk membeli emas bukan karena analisis fundamental bahwa harga sedang murah, tetapi karena mengikuti arus massa yang terlihat membeli dalam jumlah besar.
"Kenaikan harga emas yang mencetak rekor All Time High memang menggoda. Tapi memilih emas dalam kondisi seperti ini lebih banyak dilandasi rasa panik, bukan keputusan rasional," tegasnya.
Fenomena Herding Behavior di Tengah Masyarakat
Dalam kacamata psikologi keuangan, apa yang terjadi disebut sebagai herding behavior, yakni kecenderungan individu untuk meniru perilaku kolektif tanpa kajian mendalam.
Ketika satu kelompok masyarakat mulai membeli emas secara agresif, kelompok lain cenderung mengikuti langkah tersebut meski belum memahami risiko yang menyertainya.
"Herding ini mirip seperti efek domino. Begitu satu orang mulai beli, yang lain ikut, dan akhirnya pasar bergerak bukan karena logika ekonomi, tapi karena persepsi dan tekanan sosial," jelas Prof. Sautma.
Ia menekankan bahwa kondisi seperti ini berbahaya apabila tidak segera disertai edukasi publik terkait investasi dan pengelolaan risiko.
Kelangkaan Emas Bisa Ganggu Stabilitas Ekonomi
Fenomena panik beli emas dalam jangka pendek memang bisa terlihat sepele. Namun, jika terjadi secara masif dan berkelanjutan, Prof. Sautma menyebut hal itu berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi secara umum. Ketidakseimbangan suplai dan permintaan bisa membuat pasar logam mulia terganggu, dan menciptakan gejolak harga yang lebih ekstrem.
"Kalau fenomenanya hanya temporer, pasar bisa kembali normal dengan sendirinya. Tapi kalau masyarakat terus diselimuti ketakutan tanpa edukasi, bisa menimbulkan tekanan terhadap sistem keuangan," ucapnya mengingatkan.
Jangan Beli Emas dengan Utang
Salah satu aspek yang perlu diwaspadai menurut Prof. Sautma adalah soal asal dana yang digunakan untuk membeli emas.
Ia menyebut tidak masalah apabila pembelian dilakukan dengan mengalihkan dana dari instrumen investasi lain yang kurang menguntungkan (switching). Namun, ia memperingatkan risiko jika masyarakat membeli emas dengan cara berutang.
"Kalau pembeliannya dari hasil utang, ini jelas tidak bijak. Apalagi harga emas sangat mungkin terkoreksi tajam dalam waktu dekat," katanya.
Kondisi tersebut bisa menimbulkan panic selling jika masyarakat terpaksa menjual kembali emas yang dibeli di harga tinggi, dan akhirnya mengalami kerugian finansial (cut loss).
Cerminan Rendahnya Literasi Investasi
Lonjakan permintaan terhadap emas juga dianggap sebagai indikator bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia terhadap instrumen investasi modern masih relatif rendah. Emas, meskipun memiliki peran sebagai safe haven, bukan satu-satunya pilihan untuk lindung nilai dalam menghadapi gejolak ekonomi.
"Masyarakat terlalu bergantung pada emas dan belum banyak memahami alternatif investasi jangka panjang yang berbasis tujuan," tutur Prof. Sautma.
Ia mendorong adanya upaya kolektif untuk meningkatkan edukasi finansial, terutama dalam memahami risiko investasi dan pentingnya diversifikasi aset.
Di tengah kondisi yang tidak menentu, Prof. Sautma menegaskan bahwa langkah terbaik adalah tetap tenang dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan finansial. Ia menyarankan agar masyarakat kembali ke prinsip dasar perencanaan keuangan yang sehat dan terarah.
"Kuncinya ada pada perencanaan jangka panjang yang realistis. Jangan tergoda euforia sesaat atau ketakutan yang belum tentu terbukti," tutupnya. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

