Hangatnya Berbagi di Awal Ramadan, Ponpes Al-Islah Bondowoso Salurkan 4,5 Ton Kurma hingga Pelosok Desa
Ponpes Al-Islah Dadapan, Grujugan, Bondowoso menyalurkan 448 kotak atau sekitar 4,5 ton kurma kepada 273 lembaga pendidikan Islam, santri, masjid, dan mushala menjelang Ramadan 1447 Hijriah. Kegiatan rutin lima tahunan ini menjadi simbol ukhuwah Islamiyah dan kepedulian terhadap masyarakat, termasuk di daerah terpencil.
BONDOWOSO, SJP – Menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, suasana haru dan bahagia menyelimuti Masjid Kembar Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Islah, Desa Dadapan, Kecamatan Grujugan, Kabupaten Bondowoso, Rabu (18/2/2026).
Sebanyak 448 kotak atau sekitar 4,5 ton kurma dibagikan kepada santri dan ratusan lembaga keagamaan sebagai bekal menyambut bulan penuh berkah.
Kurma yang dibagikan merupakan sumbangan dari Singapura serta para donatur dari berbagai daerah di Indonesia. Setiap penerima memperoleh 10 kilogram kurma, baik untuk pondok pesantren, Raudatul Athfal, majelis taklim, masjid, mushala, maupun jamaah pengajian.
Pimpinan Ponpes Al-Islah, Kiai Toha Yusuf Zakaria, menyampaikan, jumlah kurma yang disalurkan tahun ini menjadi yang terbesar dalam lima tahun terakhir.
“Total yang kita bagikan sebanyak 448 kotak. Setiap kotak berisi 10 kilogram, sehingga keseluruhannya mencapai 4 ton 480 kilogram,” ujar Kiai Toha.
Sebanyak 273 lembaga pendidikan Islam menerima bantuan tersebut. Selain itu, kurma juga dibagikan kepada para santri dan digunakan untuk mendukung kegiatan pesantren Ramadan yang diikuti sekitar lima sekolah.
Menurut Kiai Toha, tradisi berbagi kurma ini telah rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk kepedulian dan syiar kebaikan menjelang Ramadan.
“Tahun-tahun sebelumnya biasanya di atas tiga ton. Tahun lalu hampir 400 kotak atau sekitar empat ton. Tahun ini yang paling banyak, hampir empat setengah ton,” tuturnya.
Lebih dari sekadar pembagian bantuan, kegiatan ini menjadi simbol persaudaraan tanpa sekat. Ponpes Al-Islah, kata Kiai Toha, membuka diri bagi seluruh kalangan tanpa memandang latar belakang organisasi maupun golongan.
“Al-Islah berdiri untuk semua golongan. NU, Muhammadiyah, Al-Irsyad, Jamaah Tabligh, semuanya kami ayomi. Tidak boleh ada sekat-sekat,” ungkapnya.
Ia berharap, pembagian kurma ini dapat mempererat ukhuwah Islamiyah serta menghadirkan kebahagiaan Ramadan, terutama bagi masyarakat di daerah terpencil.
“Ada saudara-saudara kita di daerah pegunungan yang bahkan belum pernah merasakan kurma. Ketika kami beri, mereka sangat senang. Alhamdulillah, itulah kebahagiaan yang ingin kami bagikan,” katanya.
Di tengah kesederhanaan, manisnya kurma menjadi simbol manisnya berbagi. Ramadan pun terasa lebih hangat ketika kepedulian dan persaudaraan tumbuh tanpa batas. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

