Hangat dan Dekat, IGTKI Wonokromo Kemas Peringatan Sumpah Pemuda Lewat Panggung Kreasi Anak
Menanamkan cinta tanah air sejak dini, para guru dan orang tua mengajak anak-anak Merayakan Sumpah Pemuda lewat cerita, permainan, dan keberanian tampil di ruang publik.
SURABAYA, SJP - Perayaan Hari Sumpah Pemuda hari ini seringkali berhenti pada bentuk formalitas, seperti sekadar upacara, menggunakan twibon di media sosial, atau membuat poster-poster bertema perjuangan pemuda.
Nilai-nilai seperti nasionalisme, keberanian, dan rasa memiliki terhadap bangsa perlahan terasa memudar, terutama di kalangan generasi paling muda. Padahal, menanamkan kecintaan pada tanah air idealnya dimulai sejak dini, melalui bahasa dan kegiatan yang dekat dengan dunia anak-anak.
Dalam semangat itulah para pendidik dari Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Kecamatan Wonokromo berkolaborasi dengan Royal Plaza Surabaya menghadirkan acara “Kumpul Bocah”, Selasa (28/10/2025).
Sebanyak 100 anak dari 10 lembaga TK tampil bergantian, mulai dari bercerita, menyanyi, hingga unjuk kreativitas lain yang dikaitkan dengan tema perjuangan pemuda.
Mengenalkan Sejarah Lewat Bahasa Anak
Ketua IGTKI Kecamatan Wonokromo, Elmin Krisnawati, menjelaskan bahwa acara ini sengaja diadakan bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda untuk membangkitkan pemahaman sejarah sejak kecil.
"Harapannya anak-anak mulai sejak dini bisa mengenal Sumpah Pemuda dan perjuangan para pahlawan," ujarnya, Selasa (28/10/2025).
Elmin menyebutkan bahwa sebenarnya peserta bisa lebih banyak, karena lembaga pendidikan yang tergabung dalam IGTKI Kecamatan Wonokromo berjumlah 35 lembaga, namun karena acaranya mendadak, jadi banyak yang berhalangan untuk ikut berpartisipasi.
"Sebenarnya pesertanya 130, tapi karena waktunya mepet jadi hanya 100 dari 10 lembaga. Alhamdulillah tetap bisa terlaksana," tambahnya.
Guru-guru dari setiap lembaga juga turut mendampingi anak-anak selama tampil, sekaligus menyampaikan cerita sederhana tentang makna Sumpah Pemuda sesuai usia mereka.
Wadah Tumbuhnya Kepercayaan Diri Anak
Tidak hanya para guru yang merasakan manfaat acara ini. Para orang tua pun melihat sisi pentingnya bagi perkembangan mental anak. Salah satunya Erky, wali murid siswa dari TK Al-Uswah 2, merasa bangga melihat anaknya tampil di panggung umum.
"Acara seperti ini itu melatih keberanian. Anak jadi lebih percaya diri tampil di lingkungan yang lebih luas," ungkapnya.
Ia berharap kegiatan semacam ini bisa dilaksanakan berkala. Baginya, kegiatan kumpul bersama antar sekolah tidak hanya bisa menambah teman tetapi juga menjadi ruang untuk saling belajar.
"Kalau bisa satu semester sekali ya. Selain tampil, anak-anak juga bisa saling mengenal dan belajar dari sekolah lain," tukasnya.
Menghidupkan Kembali Makna Sumpah Pemuda
Sementara itu dari pihak pendidik, Lia, selaku guru di TK Hasanah Jambangan, menyoroti bahwa makna Sumpah Pemuda kini sering hanya dipahami di permukaan.
"Sekarang banyak yang memperingati hanya lewat postingan. Tapi tidak memahami sejarah dan perjuangannya," katanya.
Baginya, kegiatan yang dirancang sesuai bahasa anak seperti ini jauh lebih bermakna dan membekas. Karenanya Lia berharap bahwa kegiatan seperti itu tidak berhenti hari ini saja tetapi juga rutin digelar tiap tahunnya.
"Anak-anak tampil hari ini sebagai bentuk bahwa mereka masih memegang budaya Indonesia. Itu penting sekali," tegasnya.
Membela Anak Sama dengan Membela Negara
Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA) Surabaya, Syaiful Bachri, yang turut hadir untuk memberikan dukungan dalam acara, menilai acara yang digelar oleh IGTKI Kecamatan Wonokromo mengandung nilai fundamental bagi perkembangan anak.
"Menanamkan rasa bela negara memang dimulai dari sejak kecil,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan seperti itu sekaligus memenuhi hak dasar anak untuk bermain dan mengekspresikan diri.
“Membela anak adalah membela negara. Menjaga anak adalah menjaga negara," pungkas Ketua Komnas PA Surabaya yang akrab disapa Kak Iful itu.
Kegiatan Kumpul Bocah bukan sekadar seremonial peringatan Sumpah Pemuda. Ia adalah usaha sederhana namun bermakna, yakni menanamkan rasa cinta tanah air melalui cerita, permainan, keberanian tampil, serta kebersamaan di ruang publik.
Dari panggung kecil di sebuah pusat perbelanjaan, nilai besar tentang bangsa sedang ditanam secara perlahan, lembut, dan disesuaikan dengan cara anak-anak memahami dunia. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

