Bersama Komnas PA, SMPK Untung Suropati Sidoarjo Latih Siswa Miliki Jiwa Pemimpin Ramah Anak
LDKS di SMPK Untung Suropati tak sekadar membentuk pengurus OSIS, tetapi menanamkan kepemimpinan berempati agar sekolah tumbuh sebagai ruang belajar yang aman dan ramah anak.
SURABAYA, SJP - Di tengah derasnya arus persaingan dan tekanan akademik, ada upaya kecil tapi bermakna yang sedang tumbuh di Sekolah Menengah Pertama Katolik (SMPK) Untung Suropati Sidoarjo yang saat ini tengah berupaya menyiapkan para siswa menjadi pemimpin muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga berjiwa ramah dan searas terhadap sesama khususnya kepada anak.
Upaya menanamkan kepemimpinan tersebut, tentunya tak hanya dilakukan SMPK Untung Suropati sendiri. Dengan menggandeng Integral Sarana Media Surabaya dan Komnas Perlindungan Anak (PA), SMPK Untung Suropati membekali para calon pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) melalui Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) berbasis nilai-nilai kemanusiaan dan empati.
Wakil Kepala SMPK Untung Suropati, Lusia Marian menjelaskan, kegiatan ini bertujuan membentuk OSIS yang mampu menjadi pusat kegiatan siswa dengan Konsep diri, Kepemimpinan dan Organisasi. Sehingga mampu mengelola maupun manajemen waktu dengan baik supaya memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat serta bertanggung jawab.
"Latihan dasar kepemimpinan ini kegiatan rutin diperuntukkan bagi calon pengurus OSIS, dan kemudian berkembang menjadi upaya membentuk organisasi siswa yang lebih baik dan terstruktur," jelas Lusia, Selasa (28/10/2025).
Ajang Peningkatan Disiplin Siswa
LDKS ini, bagi Lusia juga dilaksanakan sebagai ajang untuk meningkatkan disiplin serta kepatuhan terhadap peraturan bagi para siswa, khususnya yang terpilih menjadi pengurus OSIS. Dia berharap, para siswa dapat bekerja sama dengan baik serta memiliki jiwa kepemimpinan yang lebih kuat.
"Peserta LDKS merupakan siswa kelas tujuh dan delapan yang telah lolos seleksi. Total ada 30 siswa yang terpilih sebagai pengurus OSIS tahun ini," ungkap Lusia.
"Kegiatan ini merupakan kali kedua pemilihan pengurus OSIS disertai dengan LDKS yang menghadirkan instruktur dari Komite Nasional Perlindungan Anak," sambungnya.
Alih-alih menonjolkan kedisiplinan kaku, bagi Lusia, pelatihan ini menekankan kepemimpinan yang berangkat dari rasa hormat dan empati.
"Siswa diajak mengenali potensi diri, belajar mengelola konflik dengan bijak, dan mempraktikkan komunikasi yang inklusif," ujar Lusia.
Keberhasilan program ini, dinilai Lusia, bukan diukur dari seberapa baik OSIS menjalankan acara, melainkan dari perubahan kecil yang muncul.
Seperti siswa yang lebih peduli terhadap teman, lebih berani berbicara, dan lebih sadar akan perannya dalam mewujudkan lingkungan belajar yang ramah anak.
“Kalau mereka bisa memimpin dengan empati, kami yakin sekolah ini akan tumbuh sebagai ruang yang aman dan menyenangkan bagi semua,” tambah Lusia dengan senyum.
Kepemimpinan yang Aman Bagi Anak
Di sisi lain, hadir sebagai instruktur dalam sesi pendidikan kepemimpinan pada kegiatan tersebut, Ketua Komnas PA Suarabaya Syaiful Bachri mengatakan, melalui pelatihan kepemimpinan ini seharusnya dapat membuka ruang aman bagi anak untuk berpendapat dan berekspresi tanpa takut dihakimi.
“Pemimpin yang ramah anak adalah pemimpin yang bisa mendengar dan memahami teman sebayanya. Itu yang kami tanamkan di sini,” kata Syaiful.
Dia menjelaskan, dengan pendekatan yang mengombinasikan teori, refleksi diri, dan aktivitas interaktif dalam kegiatan ini para siswa diajak belajar menjadi pemimpin dengan hati, bukan dengan otoritas semata.
"Dari sesi public speaking hingga mini praktik kepemimpinan, setiap momen diarahkan agar siswa mampu mengasah kepekaan sosial sekaligus tanggung jawab," ungkap Syaiful.
Dari ruang kelas hingga halaman sekolah, benih-benih kepemimpinan searas itu mulai tumbuh. Di tangan mereka, masa depan pendidikan ramah anak bukan lagi sekadar wacana, tapi sedang nyata dibangun pelan-pelan, tapi pasti. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

