(grenengan) KEMERDEKAAN

17 Aug 2025 - 18:05
(grenengan) KEMERDEKAAN

Grenengan rasa glenyengan dari dua wong cilik yaitu Mokde Sum dan Mbah No ini seolah ndodok korining rasa kamardikan. Sebuah grenengan di warung kopi milik Mbokde Sum, mengganggu suasana kemerdekaan yang serba gegap-gempita. Sambil menyeduh kopi pesanan Mbah No, Mbokde Sum tiba-tiba gembreneng: “Lha iya, warga Pati kok isa ambyuk demo semana akehe ya Mbah”, Mbokde Sum membuka perbincangan.

Mbah No yang sejak datang sudah ngudud kretek nglinting dewe (tingwe) dengan singkat menanggapi grenengan Mbokde Sum, Ya wis ben. Ben dirasakke”. “Kok ya wis ben i ya wis kepiye ta Mbah?”, sahut Mbokde Sum. Mbah No melanjutkan, “Wong nduwuran i nek ora dielingke sok kebablasen, lali nek ana rakyat, trus sakkarep udele dewe”.

Mbokde Sum sepertinya setuju dengan pernyataan Mbah No, Lha iya. Aku ya gumun kok Mbah. Masak pajek diundakke sampek 250%, malah jarene berita ana sing diundakke 400% tekan 1000%. Rakyat kok mung dadi sapi perah sing diperesi susune kanggo wong-wong nduwuran. Sing tak rasakke, Negara kok kaya-kaya ora lila yen rakyate urip kepenak, sitik wae. Rakyate nduwe duwik, isa tuku motor, dipajeki. Rakyate nduwe duwik, isa tuku mobil, dipajeki. Rakyate nduwe usaha, padahal usahane ya cilik-cilikan, dipajeki. Rakyate nduwe lemah, nduwe omah, dipajeki. Nasibe wong cilik ya Mbah, durung rampung mrantasi tanggungan urip, wis kudu mikir nguripi nduwuran”.

Sampeyan kok sajake gela banget ta karo Negara”, tanggap Mbah No. “Lha kepiye ora gela, Mbah. Wong cilik yahene-yahana kok dikon makani wong nduwuran. Sing dipakani ora nduwe wareg, malah dikon njejeli sing luwih akeh meneh”, jawab Mbokde Sum.

“Sik, sik, sik. Aku kok dadi penasaran. Jan-jane sampeyan i urip ning Indonesia sing wis merdeka iki wis ngrasakke merdeka apa during ta?”, tanya Mbah No. “Durung”, jawab singkat Mbokde Sum. Kok isa durung? Menurut sampeyan, merdeka i sing kepiye ta, lanjut Mbah No. “Kepiye kon ngrasakke merdeka. Ket mbiyen, urip susah. Saiki rega-rega ya larang. Bayangke Mbah, wis wong cilik sembarange cupet, rega-rega larang, kepiye wong cilik isa nyukupi kebutuhan uripe? Yen kahanane kaya ngene, wong cilik ora ngrasakke aman. Sesok mangan apa, bingung. Sesok nangsibe kepiye, wong cilik ora weruh.

Dengan suara lirih, Mbah No berbisik kepada Mbokde Sum: Ya wis. Ayo ditirakati Negarane awake dewe iki, ben slamet. Mendengar bisikan Mbah No, Mbokde Sum malah kaget seolah tidak terima, Mbah, sing perlu tirakat i wong-wong nduwuran kae lo. Wong cilik i ora dikon tirakat wis tirakat sejak ning pikiran, merga kahanan. Saben wengi, aku sholat tahajud, aku ya ora lali ngumbulke donga kanggo slamete Negara iki, Mbah”.

Grenengan sumbang Mbokde Sum dan Mbah No tersebut, entah berapa ribu, berapa ratus ribu, atau entah berapa juta juga dirasakan oleh wong cilik di negara ini—negara bernama Indonesia yang sudah berdiri 80 tahun dengan janji kesejahteraan bersama. Bangsa-bangsa Indonesia yang merdeka menyatukan diri di Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan satu harapan urip kepenak, bersama.

Di sela kibaran umbul-umbul dan bendera merah putih. Di sela pidato kenegaraan Presiden Prabowo yang memukau di Sidang Tahunan MPR RI (25 Agustus 2025). Menyembul dari dalam batin rakyat kecil tentang sebuah pertanyaan klasik namun mendasar, yaitu apa sesungguhnya merdeka itu? Apakah Bangsa Indonesia sudah sungguh-sungguh merdeka? Bagaimana dengan rakyat, wong cilik, apakah sudah merasakan kemerdekaan yang (katanya) didapatkan oleh bangsa Indonesia sejak 80 tahun yang lalu?

Negara dengan pilihan bentuk dan sistem apapun tujuan utamanya adalah rakyat. Rakyat sebagai pusat (central) kebijakan yaitu kesejahteraan. Maka, sepertinya, di momentum kemerdekaan ini kita perlu mengingat (eling) kembali bahwa bentuk negara yang disepakati oleh Indonesia adalah republik. Demikian, maka muncul Indonesia adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Republikanisme adalah kekuasaan ada pada rakyat, publik--bukan pada Penguasa (Pemerintahan).

Grenengan pembuka Mbokde Sum tentang warga Pati, Jawa Tengah yang ambyuk, saiyeg nyawiji melakukan demonstrasi kepada bupati adalah pengingat bahwa kekuasaan adalah milik rakyat. Aja dumeh kuasa, jangan mentang-mentang sedang berkuasa, lalu, melupakan rakyat dengan membuat kebijakan yang tidak berorientasi kepada rakyat. Meskipun, biasanya, para Penguasa berdalil (seolah-olah) untuk rakyat.

Republikanisme sesungguhnya klop dengan sistem demokrasi yang dipilih oleh Indonesia yaitu sama-sama bertujuan kepada rakyat. Bahwa tujuan demokrasi adalah kesejahteraan rakyat, publik. Lalu, bagaimana kabar rakyat Indonesia yang memiliki Negara dengan bentuk republik dan memiliki sistem demokrasi? Apakah rakyat Indonesia sudah sejahtera? Sekali lagi, hal-hal tersebut adalah pertanyaan klasik namun mendasar. Dan tidak salah apabila pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu muncul disetiap saat, bahkan tidak hanya disaat perayaan hari kemerdekaan. Maka, ungkapan Mbokde Sum yang lugas durungmerasakan merdeka adalah suara kebenaran dari rakyat.

Peristiwa perlawanan warga Pati, Jawa Tengah terhadap kebijakan kenaikan pajak PBB 250% oleh Pemerintah Daerah dan juga banyak peristiwa perlawanan yang dilakukan oleh rakyat terhadap Penguasa disebelum-sebelumnya adalah perwujudan dari kedaulatan rakyat. Mereka adalah anjing penjaga (watchdog) terhadap negaranya ketika para penguasa lupa diri dengan berbagai kebijakan yang tidak bertujuan kesejahteraan rakyat. Sekali lagi, meskipun, seringnya (seolah-olah) kebijakan tersebut untuk rakyat.

Rakyat menjadi anjing penjaga bagi Negara ini penting. Tidak hanya njegogi (menggonggongi) para Penguasa yang lupa atau sudah terlalu jauh dari kiblat bernegara. Tetapi, rakyat sesekali perlu nyatek Penguasa, meskipun dengan turun ke jalan dan meminta lengser dari kekuasaannya.

Rakyat Indonesia yang memiliki sejarah lama dijajah oleh negara-negara asing. Perlu terus dan terus eling dan waspada terhadap berbagai bentuk penjajahan baru. Sejak 1945 bangsa Indonesia mendapatkan kemerdekaan, merdeka dari penjajahan (imperialisme) negara asing. Tetapi, benarkah bangsa Indonesia selama 80 tahun sudah merdeka dari imperialisme? Atau, jangan-jangan, penjajahannya dalam bentuk imperialisme baru?

Sepertinya, sejarah peradaban manusia adalah sejarah praktik imperialisme. Jauh sebelum ada negara-bangsa (nation state), yang ada adalah praktik imperialisme. Kemudian pasca perang dunia I dan II, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghasilkan nation state yang mendisain ulang imperialisme sehingga praktik imperialisme tidak lagi imperialis. Meskipun, pada akhirnya, kini, muncul praktik-praktik imperialisme model baru.

Dulu, bangsa Indonesia dijajah oleh negara-negara asing tidak hanya penjajahan dalam hal sumber daya alam, tetapi juga penjajahan di sumber daya manusia. Sumber daya alam dikeruk, diambil, dibawa ke negara-negara para penjajah. Pun sumber daya manusia, bangsa Indonesia dijajah sehingga sumber daya manusianya mengalami ketidakberdayaankemanusiaannya hilang sehingga menjadi setengah manusia, tidak menjadi manusia seutuhnya. Kini, apakah sumber daya alam tidak dikeruk? Siapa yang mengeruk sumber daya alam? Bagaimana dengan kondisi sumber daya manusia? Apakah masih tidak memiliki keberdayaan? Siapa yang menjadikan sumber daya manusia Indonesia tidak berdaya?

Ir. Soekarno pernah memberikan pernyataan sebagai pengeling-eling dalam menghadapi penjajah bangsa sendiri, “Perjuangku lebih mudah karena mengusir penjajah, teapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Dalam konteks ini, jangan sampai rakyat memiliki anggapan bahwa Negara melalui silih berganti Penguasa adalah penjajah bagi rakyatnya sendiri. Jangan sampai, sesama rakyat Indonesia saling menjajah dalam model baru yang tidak Nampak jelas penjajahannya. Sebab, apabila yang terjadi saling jajah menjajah sesame bangsa sendiri. Tujuan bersama didalam bernegara yaitu kesejahteraan, urip kepenak bersama, masih jauh panggang dari api.

Para elite yang sedang mendapatkan amanah untuk melaksanakan pemerintahan, sepertinya perlu lebih nimbang-nimbang rasa segingga setiap kebijakan tidak melukai rasa atau merugikan hak-hak rakyat. Secara pribadi saya khawatir, apabila para penguasa sering mengabaikan nimbang rasa dalam berkebijakan, maka, akan lahir anggapan-anggapan sebagaimana yang ada tembang talu wayang climen milik Ki Jlitheng Suparman. Demikian liriknya: Jarene negara adil makmur, kok utange dawa sak sepur, bandhane mili menyang nduwur, mulane kana sing makmur. Wis suwe sing merdeka, sak umure manungsa, sing merdeka mung wong pira”.

Katanya, negara adil dan makmur. Namun, hutangnya kok banyak? Saking banyaknya diibaratkan seperti gerbong kereta api. Kekayaan alam, bahkan pembayaran pajak dari rakyat mengalir ke atas (negara). Ternyata, justru para elite penguasa yang makmur. Bagaimana dengan rakyat? Penderitaannya sepertinya belum terlihat ujungnya, tak berujung. Sudah lama Indonesia merdeka. Namun, apabila ditelisik secara mendalam selama usia hidup manusia, diantara mereka berapa orang yang benar-benar merasakan merdeka? Jangan-jangan, banyak rakyat Indonesia yang hidup di bangsa-negara merdeka ini banyak yang selama hidunya tidak merasakan merdeka (?)

Penulis: Sunarno (Dosen Psikologi Sosial di Universitas Islam Negeri Syekh Wasil Kediri)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow