"Ghedisah" Tradisi Leluhur Desa Blimbing di Bondowoso untuk Memohon Keselamatan

Ritual sakral yang masih dipercaya mendatangkan kebaikan oleh mayarakat ini dilaksanakan selama 3 hari

15 Feb 2025 - 14:02
"Ghedisah" Tradisi Leluhur Desa Blimbing di Bondowoso untuk Memohon Keselamatan
Pj Bupati Bondowoso, Muhammad Hadi Wawan Guntoro saat mengikuti prosesi 'Rokat Dhebuan' atau doa bersama (foto : humas/SJP)

BONDOWOSO, SJP - Selamatan desa merupakan tradisi peninggalan nenek moyang yang memiliki tujuan tertentu. Salah satunya adalah sebagai pengungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas apa yang telah didapatkan. Seperti panen yang melimpah atau yang lainnya. 

Kegiatan masyarakat yang disakralkan ini juga diyakini bisa menjaga keselamatan desa atau menolak bala dari suatu bencana. Singkatnya, meminta perlindungan. 

Tradisi warisan leluhur seperti ini biasanya masih melekat dan masih dilaksanakan karena keyakinan serta kepercayaan masyarakat di suatu desa. 

Biasanya, ritual sakral yang masih dilestarikan seperti ini disertai dengan pembuatan sesajen dan dipersembahkan kepada kekuatan gaib yang dipercaya sebagai penjaga suatu desa dengan melarung sesajen tersebut di aliran sungai. 

Tradisi warisan nenek moyang seperti ini masih bisa kita jumpai di Kabupaten Bondowoso. Tepatnya di Desa Blimbing, Kecamatan Klabang. Upacara adat selamatan desa dan bersih desa di Desa Blimbing ini digelar selama 3 hari. 

Dari informasi yang didapat, hari pertama pelaksanaan selamatan desa di Kecamatan Klabang ini dilakukan dalam rangka mengumpulkan bahan-bahan untuk pembuatan sesajen yang biasa disebut 'sasoklan'. 

Biasanya, warga desa yang menyiapkan dan mengantarkan bahan-bahan untuk dibuat sesajen, seperti, beras, sayur-mayur hingga rempah-rempah. 

Menariknya, di hari kedua ritual sakral ini, warga yang memasak untuk menyiapkan sesajen tidak diperbolehkan berbicara antara satu dengan yang lainnya. Hanya boleh berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat.

Selanjutnya, di puncak ritual selamatan desa ini, sesajen yang telah disiapkan berupa tumpeng dan sesajen yang disebut 'Uborampe', warga desa lalu mengaraknya ke suatu tempat di tepi sungai tepatnya di sekitar mata air.

Sebelum dilarung di aliran sungai, sesajen yang berupa tumpeng serta 'Uborampe' tersebut dibacakan doa terlebih dahulu oleh tetua adat Desa Blimbing. Doa bersama itu disebut 'Rokat Dhebuan'. 

Kepala Desa (Kades) Blimbing, Samin mengatakan, tradisi leluhur atau 'Ghedisah' ini dipercaya bisa menjaga desa dari mara bahaya. Masyarakat di sana masih meyakini, apabila ritual tersebut tak dilaksanakan, dapat mendatangkan bencana kepada desanya. 

"Akan ada tanda-tanda. Seperti angin kencang hingga warga yang kesurupan," jelasnya, Jumat (14/2/2025). 

Dengan melestarikan ritual warisan leluhur ini, imbuhnya, diharapkan anak cucu penerus bangsa bisa mengenali tradisi yang ditinggalkan oleh nenek moyang sebagai kebudayaan yang patut dilestarikan. 

"Agar Desa Blimbing juga selamat dari mara bahaya," pungkasnya. 

Tak berakhir di situ, ritual selamatan dan bersih desa ini masih dilanjutkan dengan menggelar kesenian daerah. Seperti, tari ojung, tari topeng konah, tari tandek binik hingga arak-arakan kesenian singo ulung yang diiringi dengan alunan musik saronen. Semua kesenian tersebut dimainkan oleh warga Desa Blimbing. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow