Gerakan 1.000 Siswa Menulis di Gresik Dorong Anak-anak Berliterasi
Gerakan 1.000 siswa menulis dicanangkan untuk meningkatkan kemampuan literasi bagi pelajar. Ini penting bagi pelajar mengingat perkembangan era teknologi media sosial berkembang pesat menurunkan kemampuan literasi.
GRESIK, SJP — Gerakan 1.000 siswa menulis di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, mendorong anak-anak untuk berliterasi. Digelar dalam rangkaian acara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke -15 media Panjinasional, puluhan anak-anak siswa sekolah menengah atas (SMA) sederajat mengikuti pelatihan menulis guna mendukung gerakan tersebut, Selasa (23/9/2025).
Ketua Pelaksana acara, Muhammad Sholeh, mengatakan, pelatihan menulis ini penting bagi pelajar mengingat perkembangan era teknologi media sosial berkembang pesat menurunkan kemampuan literasi.
"Pentingnya ada dasar menulis bagi pelajar merupakan bagian peningkatan dari literasi. Karena kita tahu di Indonesia ini semakin lama literasi menurun. Makanya kita melakukan pelatihan menulis untuk menguatkan literasi anak-anak, agar mereka tidak hanya sekedar melihat video TikTok, instagram, dan sebagainya," kata Sholeh, seusai acara di Aula Kodim 0817 Gresik.
Sholeh menyampaikan, keikut sertakan peserta pelatihan ini diambil perwakilan SMA sederajat se-Kabupaten Gresik. Masing-masing sekolah mengirimkan dua hingga tiga siswa untuk mendukung gerakan 1.000 siswa menulis.
Menurut dia, tim literasi dari gerakan 1.000 siswa menulis sudah melakukan upaya mendukung gerakan itu ke berbagai daerah seperti Banyuwangi, Lumajang, Magetan, hingga Kabupaten Gresik ini.
Sementara itu, Anggota Bidang Pelatihan dan Penulisan Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB), Teguh Wahyu Utomo, turut hadir sebagai pemateri. Pelatihan menulis penting dalam meningkatkan kemampuan literasi pelajar.
Ia menyebut, sejumlah faktor yang membuat menurunnya kemampuan literasi diantaranya karena globalisasi dan kemajuan teknologi informasi.
"Serangan dari luar berupa produk-produk digital yang membuat kita berpikir pendek-pendek. Jadi seperti media sosial yang cenderung membuat anak-anak berfikir pendek cepat eksis," ungkap dia.
"Karena itu saya sama teman-teman membuat gerakan literasi. Bagi saya, gerakan 1.000 siswa menulis itu mendorong anak-anak untuk aktif berliterasi dengan cara menulis. Dengan menulis mereka mengasah otak. Informasi yang masuk dalam otak dikeluarkan lewat tulisan," pungkasnya. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

