Festival Kampung Budaya Polowijen, Satukan Tari Epos Panji Asmorobangun
Festival Kampung Budaya Polowijen diadakan dalam rangka memperingati sewindu Kampung Budaya Polowijen. Satukan tari topeng, jaranan, dan bantengan dalam epos Panji Asmorobangun
KOTA MALANG, SJP - Festival Kampung Budaya Polowijen diadakan dalam rangka memperingati sewindu Kampung Budaya Polowijen (KBP) dan Hari Tari Sedunia. Isa Wahyudi atau lebih akrab disapa Ki Damang, menyatakan acara ini diselenggarakan secara mandiri.
"Acara ini kami adakan secara mandiri seluruhnya," ucapnya, Ahad (27/4/2025).
Ada beberapa rangkaian acara yang dilakukan, seperti lomba Tari Topeng Grebeg Sabrang, arak-arakan topeng malang, nyekar topeng malang, dan Gejug Gongseng ke-2.
Ki Damang menyatakan bahwa waktu perayaan ini ditepatkan di hari libur. Sejatinya, Hari Tari Sedunia diperingati di tanggal 29 April.
"Ini kami tepatkan di hari libur, karena 29 nanti kan hari efektif," ujar Ki Damang.
Dengan dilaksanakan di hari libur, banyak peserta yang mengikuti lomba Tari Grebeg Sabrang merupakan siswa. Jumlah peserta pada lomba ini bahkan sampai berjumlah seratus peserta.
Adanya perlombaan ini, selain untuk menunjang prestasi seni dan budaya, juga dimaksudkan sebagai bentuk rekrutmen. Ki Damang menyampaikan, dengan banyaknya anggota akan memperkaya gaya tari topeng malang.
Selain perlombaan tari topeng, juga diadakan nyekar topeng Malang. Para penari topeng diarak menuju makam yang masih di area Kampung Budaya Polowijen.
"Nyekar dan arak-arakan ini doa untuk tolak balak ya," jelas Ki Damang.
Bukan hanya tari topeng, tari jaranan dan bantengan juga tampil dan diperlombakan. Adanya beberapa tari ini merupakan bentuk kolaborasi yang digagas Ki Demang.
"Berkolaborasi bersama-sama, masing-masing menampilkan keseniannya di KBP dengan misi seduluran," kata Ki Damang.
Meski bentuj tariannya berbeda, seluruh jenis tari tersebut mengisahkan epos yang sama, yaitu epos Panji Asmorobangun.
"Mempertemukan kesenian sebagai salah satu eposnya kesenian Topeng Malang, jadi berepos panji," ujar Ki Damang.
Panji, tokoh utama dalam setiap tari ini, digambarkan dalam bentuk tari Topeng Malang, tari jaranan, dan tari bantengan. Menurut Ki Demang, semua tari tersebut merupakan satu rumpun kesenian.
"Seduluran itu mempertemuman ragam kesenian ini eposnya Topeng Malang, sehingga ini kemudian bisa menjadi yang berepos Panji dapat dihadirkan secara bersama-sama," tutup Ki Damang yang juga merupakan penggagas Kampung Budaya Polowijen. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

