Fakta tentang 10 Pantangan Adat Jawa Kuno yang tidak Boleh Dilanggar
Masyarakat Jawa mengenal sebuah istilah pamali yang merupakan sebuah tindakan yang tidak boleh dilakukan karena melanggar sebuat adat dan tradisi
SUARAJATIMPOST.COM—Masyarakat Indonesia, terutama di Pulau Jawa, masih sangat menjunjung tinggi warisan budaya kuno hingga saat ini. Orang zaman dahulu pasti banyak memberikan pitutur, nasihat, atau pun larangan yang harus ditaati oleh anak cucunya.
Bagi orang Jawa, banyak sekali pantangan-pantangan yang tidak boleh dilanggar. Berikut beberapa pantangan tersebut menurut orang Jawa dan faktanya.
1. Makan dan minum sambil berdiri
Sering dijumpai larangan makan dan minum sambil berdiri tidak hanya bagi orang Jawa saja. Khususnya pada masyarakat Jawa dahulu sering mengatakan jika makan atau minum sambil berdiri akan mengubah orang tersebut menjadi kuda.
Faktanya, makan sambil berdiri mengarah kepada sopan santun baik dikarenakan makan sambil berdiri dianggap tidak sopan dan tidak baik untuk pencernaan.
2. Menyapu tidak bersih
Ucapan “nyapu sing resik” atau dalam bahasa Indonesia berarti menyapu yang bersih, sering terdengar dari orang tua. Adanya nasihat tersebut karena masyarakat Jawa dahulu meyakini jika menyapu tidak bersih maka pasangan atau jodohnya akan tumbuh brewok.
Faktanya, jika kita menyapu tidak bersih mengarah pada kebersihan, kesehatan udara, dan kurang sedap jika dipandang. Hal ini juga bertujuan agar si anak dapat menjalankan tugasnya dengan benar. Yaitu menyapu dengan bersih.
3. Suami membunuh hewan saat istri hamil
Banyak orang Jawa percaya membunuh hewan ketika sang istri hamil adalah sebuah pantangan besar. Itu dikarenakan ketika sang anak lahir akan menyerupai hewan yang dibunuh tersebut. Contohnya ketika sang suami membunuh hewan berbulu lebat, maka sang anak pun akan memiliki bulu lebat.
4. Keluar rumah waktu Magrib
“Jangan keluar waktu Magrib nanti di bawa setan wewe gombel”. Kalimat itu tidak asing bagi masyarakat Jawa dahulu dan mungkin masih ada di zaman modern ini.
Zaman dulu, pada waktu petang memang pencahayaan di luar ruangan kurang baik dan sumber cahaya seperti semprongan atau cemprong pun tidak bekerja secara maksimal dikarenakan masih adanya cahaya matahari sedikit terlihat.
5. Makan sambil tiduran
Malas gerak menjadi faktor utama makan sambil tiduran. Orang-orang Jawa zaman dahulu sering mengatakan jika makan sambil tiduran maka akan berubah menjadi ular atau buaya.
Faktanya, makan sambil tiduran dapat membuat seseorang tersedak dan dapat mengganggu pencernaan. Sebab, makanan atau minuman yang dikonsumsi belum benar-benar masuk ke dalam pencernaan dan membutuhkan waktu sekitar 20 menit.
6. Menabrak kucing
Menabrak kucing sering dianggap sebagai simbol malapetaka. Banyak orang Jawa beranggapan hal tersebut masih dapat dipercaya dan masih banyak ritual digunakan.
Sebagai contoh, ketika menabrak kucing dan kucing tersebut mati di tempat, maka si penabrak harus melepas baju yang dipakai saat itu untuk menjadi kain kafan si kucing dan menguburnya sama seperti manusia.
Dengan begitu maka dianggap simbol dari kesialan tersebut sudah hilang. Pada dasarnya menabrak hewan apa pun sebagai manusia yang berakal kita harus bertanggung jawab sepenuhnya.
7. Dilarang memotong kuku malam hari
Di zaman dulu ada larangan memotong kuku di malam hari dengan alasan akan menghambat rezeki. Jika alasan itu digunakan, memang ada beberapa waktu yang dianggap baik untuk memotong kuku seperti hari Jumat pagi karena dianggap dapat memperlancar rezeki.
Faktanya, adanya larangan memotong kuku di malam hari pada zaman dulu dikarenakan pencahayaan kurang terang. Karena alat yang digunakan adalah gunting kertas. Sehingga ada kemungkinan dapat melukai jari-jari tangan.
8. Kupu-kupu masuk rumah
Memang sangat banyak keyakinan masyarakat Jawa pada zaman dahulu tentang hewan. Ada yang meyakini bahwa seekor hewan adalah suatu pertanda. Salah satunya adalah kupu-kupu.
Apabila ada kupu-kupu masuk ke dalam rumah maka diyakini akan kedatangan tamu. Tamu yang di maksud pun sudah dapat diketahui dari cantik atau tidaknya warna kupu-kupu tersebut.
Apabila warna dari kupu-kupu tersebut cantik maka bisa disimbolkan tamu yang datang adalah tamu punya niat baik begitu pun sebaliknya. Hal ini masih dipercaya hingga kini.
9. Bersiul di malam hari
Siulan biasanya digunakan untuk memancing suara burung berkicau. Namun pada zaman dahulu, bersiul bermakna lain apabila dibunyikan pada malam hari.
Masyarakat Jawa dahulu meyakini bersiul di malam hari dapat mengundang setan. Fakta tentang ini masih belum dapat seutuhnya di percaya di zaman sekarang. Pantangan ini mengajarkan akan asas sopan santun. Yaitu untuk tidak bersiul di malam hari karena dapat mengganggu orang lain yang sedang istirahat.
10. Makan menggunakan tutup wadah
Keyakinan pada zaman dahulu tentang menggunakan tutup wadah sebagai alas makan akan mendapatkan hal buruk. Di sisi lain tutup wadah berfungsi untuk menutupi makanan dari debu maupun hewan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap barang harus digunakan sesuai fungsinya.
Itulah 10 pantangan dan fakta yang ada pada masyarakat Jawa. Semua kebiasaan baik maupun buruk sejatinya sudah ada pada zaman dahulu. Kita sebagai penerus generasi selanjutnya harus dapat mengolah setiap pantangan-pantangan tersebut apakah benar masih dapat dipercaya atau tidak. (**)
Sumber: Superradio.id
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

