Perjamuan Sindhunatan di Kediri: Mengkaji Gagasan Humanistik dan Empati pada Wong Cilik

Perjamuan Sindhunatan (Sarasehan Wong Cilik) digelar di Taman Baca Mahanani, Mojoroto Kediri pada 3-4 Juni 2025.

04 Jun 2025 - 23:35
Perjamuan Sindhunatan di Kediri: Mengkaji Gagasan Humanistik dan Empati pada Wong Cilik
Romo Sindhunata dalam acara Perjamuan Sindhunatan (Sarasehan Wong Cilik) di Taman Baca Mahanani Kediri. (Foto: Dokumentasi Panitia)
suarajatimpost.com - Di tengah modernisasi yang kian menenggelamkan suara-suara wong cilik, Taman Baca Mahanani Kediri menghadirkan Perjamuan Sindhunatan (Sarasehan Wong Cilik) sebagai perhelatan yang menggugah kesadaran dan menghidupkan kembali ragam gagasan humanistik yang lahir dari pena Sindhunata.
 
Digelar pada 3–4 Juni 2025 di Taman Baca Mahanani, Mojoroto Kediri, acara ini lebih dari sekadar penghormatan terhadap tokoh, melainkan upaya menggali kembali ruh karya-karya yang telah menjelma menjadi nadi dari kesusastraan rakyat kecil. Nama Sindhunata bukan sekadar jejak dalam dunia jurnalisme dan kebudayaan, tetapi adalah gema dari keberpihakan pada wong cilik yang sering diabaikan 
 
Hari pertama diisi dengan pembacaan dan diskusi mendalam atas karya-karya sastrawi seperti Putri Cina, Anak-Anak Semar, Menyusu Celeng, hingga Bayang-Bayang Ratu Adil. Karya-karya ini bukan hanya fiksi; ia adalah gugusan tafsir sosial, spiritual, dan politis yang mengalir dari kegelisahan seorang intelektual atas ketimpangan hidup. Setiap paragrafnya menyuarakan penderitaan, harapan, dan keteguhan hati rakyat kecil, tanpa kehilangan dimensi puitik dan reflektifnya. Di sela-sela diskusi, puisi-puisi karya Sindhunata dibacakan, menghidupkan kembali lanskap batin yang menjadi sumber ilhamnya.
 
Hari kedua menjadi titik kulminasi: Sarasehan langsung bersama Romo Sindhunata, tokoh yang karya-karyanya menjembatani ruang antara langit ide dan tanah realitas. Acara dilengkapi dengan pagelaran fragmen wayang Tuku Pangarep-arep, yang digubah dari pemahaman mendalam terhadap karya-karya beliau, dan dimainkan oleh dalang cilik Madjid Panjalu—sebuah perwujudan harapan agar estafet nilai tak berhenti pada generasi lama.
 
Tak hanya itu, bazar buku dari Gramedia Kediri dan pameran foto bertajuk Potret Profesi Wong Cilik memperkaya atmosfer, memvisualkan denyut kehidupan mereka yang sering kali hanya menjadi latar dalam narasi besar bangsa.
 
Ketua pelaksana acara, Ricky, menyatakan bahwa Perjamuan Sindhunatan bukan hanya panggung peringatan, tetapi ruang penghayatan.
 
“Kami melihat karya-karya Romo Sindhunata bukan semata sastra, tapi sebagai suara dari mereka yang kerap tak terdengar. Ini upaya kami untuk menjaga agar suara-suara itu tak hilang, agar tetap menggema di hati siapa pun yang membacanya,” ujar Ricky.
Ia menegaskan, warisan nilai dari karya-karya Sindhunata harus terus dialirkan ke dalam nalar dan rasa generasi kini.
 
 “Membaca karya beliau adalah belajar menyerap empati. Bukan hanya memahami cerita, tapi memaknai kehidupan dari kacamata mereka yang memanggul beban paling berat dari realitas sosial,” tambahnya.
Perjamuan Sindhunatan merupakan ajakan untuk membaca lebih dalam, dan merenung lebih jernih. Di tengah derasnya wacana modernitas, acara ini menjadi suluh kecil yang menyalakan kembali api kesadaran bahwa sastra adalah cara paling halus untuk mengabarkan yang terpinggirkan. (**)
Editor : Danu S
 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow