Entung Jati di Ngawi Jadi Rebutan dan Daging Musiman Bernilai Jual Tinggi
Satu gelas entung jati biasanya dijual seharga Rp 20.000. Namun, ia menambahkan bahwa musim berburu ini berlangsung sangat singkat.
NGAWI, SJP–Peralihan musim kemarau ke musim hujan di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, membawa berkah musiman yang ditunggu-tunggu oleh warga sekitar hutan jati.
Bagi masyarakat Desa Banyubiru, Kecamatan Widodaren, momen ini menandai dimulainya musim berburu entung jati, yaitu kepompong ulat jati yang menjadi komoditas lauk unik dan memiliki nilai jual yang menggiurkan.
Setiap pagi dan sore, kawasan hutan jati milik Perhutani menjadi ramai oleh warga, didominasi oleh kaum ibu-ibu, yang menyisir tumpukan daun kering. Mereka berburu kepompong ulat jati yang bersembunyi di bawahnya. Aktivitas perburuan ini eksklusif, hanya terjadi setahun sekali, saat daun-daun jati mulai tumbuh muda, masa ketika ulat jati bermetamorfosis menjadi kepompong sebelum akhirnya menjadi ngengat.
Ketika waktunya tiba, ulat jati turun dari dahan dan berubah menjadi kepompong. Di fase inilah para warga berburu entung untuk dijual atau dimasak menjadi lauk ekstrem yang gurih dan lezat.
Sumini (51), salah satu pemburu entung jati, menjelaskan bahwa kegiatan ini telah menjadi rutinitas tahunan yang sangat dinanti. Selain untuk konsumsi pribadi, entung jati juga memiliki nilai ekonomi yang signifikan dalam waktu singkat.
"Kalau pas awal musim penghujan pasti mencari entung jati. Satu hari kalau telaten, bisa mendapatkan empat gelas," ujar Sumini, pada Ahad (9/11/2025).
Menurutnya, satu gelas entung jati biasanya dijual seharga Rp 20.000. Namun, ia menambahkan bahwa musim berburu ini berlangsung sangat singkat.
"Paling satu minggu sudah habis (musimnya). Selain dijual, entung ini biasanya diolah jadi oseng-oseng, dibuat botok, atau langsung digoreng saja sudah enak," katanya.
Kegiatan perburuan entung jati ini tidak hanya diminati oleh orang dewasa. Anak-anak yang sedang libur sekolah juga turut serta. Sifa Miftahul Jannah (9), misalnya, mencari entung bersama teman-temannya untuk diolah menjadi lauk makan siang.
Proses pengolahan entung jati terbilang sederhana. Setelah dibersihkan, entung cukup dibumbui dengan bawang putih, garam, dan penyedap rasa, lalu digoreng hingga matang dalam waktu 5–10 menit.
"Kalau waktu liburan sekolah biasa mencari bersama teman-teman. Kalau digoreng rasanya enak, gurih. Bisa untuk lauk makan siang," tutur Sifa.
Dengan nilai jual yang tinggi dan permintaan musiman, entung jati Ngawi benar-benar menjadi berkah alam yang memberikan penghasilan tambahan sekaligus lauk unik bagi masyarakat setempat. (**)
Editor: Syaiful Aries
Sumber: Beritasatu.com
What's Your Reaction?

