Emil Dardak Sebut Balai Pemuda Episentrum Surabaya, Tegaskan Ruang Seni Milik Semua Kalangan
Emil Dardak menyebut Balai Pemuda sebagai episentrum Surabaya, ruang seni terbuka yang membentuk identitas kota dan harus menjadi milik semua kalangan.
SURABAYA, SJP - Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak menyebut Balai Pemuda sebagai episentrum Kota Surabaya yang harus menjadi ruang terbuka bagi seluruh kalangan. Pernyataan itu ia sampaikan saat menghadiri kegiatan seni lukis “Beauty of Balai Pemuda Surabaya”, sembari mendampingi sang istri yang menjadi model dalam acara tersebut.
Menurut Emil, Balai Pemuda tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk berkegiatan, melainkan juga memiliki peran penting sebagai pusat aktivitas budaya yang membentuk wajah kota.
"Balai Pemuda ini kan adalah episentrum Surabaya. Semua tentu ingin agar Balai Pemuda ini jadi milik semua kalangan," ujar Emil saat dikonfirmasi pada Minggu (19/4/2026).
Ia menilai, kegiatan yang digelar oleh Sanggar Merah Putih dengan pendekatan santai justru mampu menghadirkan suasana yang lebih hidup dan dekat dengan masyarakat. Format informal seperti dalam acara tersebut dinilai menjadi salah satu cara efektif untuk membuka ruang interaksi yang lebih luas.
"Dengan kemasan yang informal, suasananya jadi lebih gayeng, penuh rasa kekeluargaan," katanya.
Lebih jauh, Emil menekankan bahwa keberadaan ruang seni seperti Balai Pemuda memiliki peran strategis dalam membangun identitas kota. Menurutnya, nilai estetika sebuah kota tidak bisa dibentuk hanya melalui perencanaan atau teori, tetapi harus tumbuh dari pengalaman dan interaksi masyarakat di dalamnya.
"Sebuah kota akan punya nilai estetika yang tidak bisa dilahirkan hanya dengan teori, tapi harus dibangun rasa dalam kehidupan kota," ujarnya.
Ia mengapresiasi keterbukaan Balai Pemuda yang dinilai mampu menjadi wadah bagi para seniman untuk mengekspresikan karya mereka sekaligus berinteraksi dengan publik.
"Balai Pemuda membuka diri untuk menjadi wadah bagi itu," tuturnya.
Kolaborasi Lintas Daerah dan Semangat Kartini
Dalam kesempatan tersebut, Emil juga menyinggung nilai kebersamaan yang tercermin dalam kegiatan yang digelar menjelang Hari Kartini. Ia mengaku bersyukur sang istri, Arumi Bachsin, bersedia menjadi model lukisan bersama Marcella Zalianty.
“Ini mengangkat nilai-nilai Hari Kartini, dan saya bersyukur istri saya berkenan menjadi model,” ujarnya.
Kehadiran sejumlah figur dari luar daerah, termasuk budayawan Erros Djarot, juga dinilai sebagai bentuk dukungan terhadap perkembangan seni di Surabaya.
“Kita beruntung mereka dari luar Jawa Timur mau saling mendukung dengan kita,” katanya.
Emil turut menyoroti posisi Surabaya sebagai kota besar yang memiliki potensi besar untuk berkembang, tidak hanya secara ekonomi tetapi juga dari sisi budaya. Ia menilai, penguatan ruang seni menjadi salah satu kunci dalam membangun karakter kota.
“Sebagai kota besar, Surabaya harus punya kehidupan yang kuat, termasuk dari sisi budayanya,” ujarnya.
Melalui pernyataannya, Emil menegaskan bahwa Balai Pemuda bukan sekadar lokasi kegiatan seni, melainkan simpul penting yang menghubungkan kreativitas, interaksi sosial, dan identitas kota secara lebih luas. (*)
Editor: Danu
What's Your Reaction?

