Hadapi Fenomena El Nino, BPBD Jombang Siapkan Langkah Mitigasi Potensi Bencana Karhutla

Salah satu upaya yang ditempuh adalah dengan menyusun surat edaran yang akan disebarkan hingga ke tingkat desa.

19 Apr 2026 - 20:55
Hadapi Fenomena El Nino, BPBD Jombang Siapkan Langkah Mitigasi Potensi Bencana Karhutla
Sengatan matahari terik dan cuaca panas ekstrem merupakan dampak langsung dari fenomena El Nino di Indonesia. (Foto: Fredi/SJP)

JOMBANG, SJP - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jombang mulai menyiapkan langkah mitigasi untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai dampak dari fenomena El Nino. Salah satu upaya yang ditempuh adalah dengan menyusun surat edaran yang akan disebarkan hingga ke tingkat desa.

Kepala Pelaksana BPBD Jombang, Wiku Birawa Felipe Diaz Quintas, menyampaikan bahwa surat edaran tersebut akan ditujukan kepada pihak kecamatan untuk selanjutnya diteruskan ke pemerintah desa. Inti dari edaran itu adalah imbauan kepada masyarakat agar tidak membakar lahan secara sembarangan. 

"Dalam waktu dekat, sekitar pekan depan, surat edaran itu sudah mulai didistribusikan," ujar Wiku, Ahad (19/4/2026).

Wiku menambahkan, pihaknya telah mengikuti koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Berdasarkan hasil paparan, ancaman El Nino tetap harus diwaspadai meskipun intensitasnya diprediksi tidak seekstrem periode sebelumnya. 

"Potensi tetap ada, meski tidak separah yang dibayangkan. Namun kami tetap diminta siaga," imbuhnya.

Ia menjelaskan, wilayah dengan risiko kebakaran tertinggi di Jombang berada di kawasan perbukitan, seperti Kecamatan Wonosalam. Kondisi geografis yang sulit dijangkau menjadi kendala utama dalam proses pemadaman. 

"Medannya cukup berat, sehingga penanganan kebakaran di wilayah tersebut tidak mudah," ungkap Wiku.

Selain menyiapkan surat edaran, BPBD Jombang juga menindaklanjuti arahan kepolisian untuk meningkatkan sosialisasi kepada warga, terutama yang bermukim di sekitar zona rawan kebakaran. Edukasi ini dinilai krusial untuk mencegah kebakaran yang dipicu oleh aktivitas manusia.

Sementara itu, Anggota Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Jombang, Pepi Stevy Maria, mengungkapkan bahwa peristiwa karhutla terakhir di wilayah tersebut terjadi pada tahun 2023 di kawasan Wonosalam dengan luas area terdampak mencapai sekitar 40 hektare. 

Ia mengakui, keterbatasan sarana dan prasarana menjadi tantangan dalam penanganan kebakaran hutan. Upaya pemadaman masih sangat bergantung pada tenaga manusia dengan peralatan manual.

"Penanganannya masih manual. Saat itu sekitar 48 personel dikerahkan untuk membuat sekat bakar agar api tidak meluas," jelas Pepi.

Jika api tidak dapat dikendalikan dengan sumber daya lokal, BPBD Jombang akan segera berkoordinasi dengan pemerintah provinsi hingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk meminta bantuan tambahan, termasuk pemadaman melalui jalur udara. 

"Pada kejadian terakhir, sempat dilakukan pemadaman menggunakan helikopter dengan tiga kali penerbangan (sorti)," pungkasnya. (*)

Editor: Danu 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow