Terkait Pengelolaan Balai Pemuda, Disbudporapar Surabaya Sebut Tak Pernah Berpolemik dengan Seniman
Plt Disbudporapar Surabaya Herry Purwadi menegaskan Pemkot tak pernah berpolemik dengan seniman, menyebut komunikasi sebagai kunci, diperkuat penyelenggara acara di Balai Pemuda.
SURABAYA, SJP - Di tengah mencuatnya isu terkait pengelolaan Balai Pemuda, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menegaskan tidak pernah memiliki polemik dengan kalangan seniman.
Hal itu ditegaskan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya, Herry Purwadi saat menghadiri kegiatan “Beauty of Balai Pemuda Surabaya” yang digelar untuk memperingati Hari Kartini pada Minggu (19/4/2026). Menurut Herry, kegiatan tersebut justru menjadi bukti bahwa hubungan antara pemerintah dan pelaku seni tetap berjalan baik.
"Kami merasa tidak pernah ada polemik ya kalau dari pemerintah. Itu kan orang-orang yang mungkin merasa," ujar Herry.
Ia menekankan bahwa kunci utama dalam menjaga hubungan antara pemerintah dan komunitas seni terletak pada komunikasi dan kolaborasi yang baik. Dengan hal tersebut, menurutnya berbagai kegiatan kesenian dapat terus berjalan tanpa hambatan.
"Kalau komunikasinya baik, kita bisa berkolaborasi dengan baik. Dengan digelarnya Beauty of Balai Pemuda Surabaya itu kan bukti bahwa kita baik-baik saja dengan para seniman," katanya.
Herry menambahkan, Pemkot Surabaya selama ini justru berupaya menjaga dan mengembangkan seluruh cabang kesenian, mulai dari seni rupa, tari, musik, hingga teater tradisional seperti ludruk dan ketoprak. Ia juga menyebut hubungan antara pemerintah dan pelaku seni tetap terjalin dengan baik.
"Kami tidak pernah ada masalah dengan seniman, dengan siapapun," ucapnya.
Lebih lanjut, Herry melihat kegiatan melukis on the spot tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi agenda tahunan. Bahkan, ia membuka peluang agar acara serupa dapat masuk dalam rangkaian Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke depan.
"Kami berharap tahun depan bisa dimasukkan dalam agenda HJKS, supaya lebih banyak lagi yang berpartisipasi," ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Galeri Merah Putih (GMP), Cak Anis, menyampaikan hal senada. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak mengalami kendala dalam menggunakan fasilitas Balai Pemuda untuk kegiatan seni.
Menurutnya, keberlangsungan acara yang diikuti ratusan pelukis tersebut menjadi bukti bahwa ruang kesenian di Surabaya masih dapat diakses dan dimanfaatkan.
"Kami nggak ada masalah, terbukti kami masih bisa mengadakan acara," ujarnya.
Ia juga mengapresiasi perhatian pemerintah kota terhadap keberlangsungan fungsi Balai Pemuda sebagai ruang seni bagi masyarakat Kota Pahlawan maupun sekitarnya
"Saya apresiasi perhatian dari Pak Wali Kota yang menyatakan Balai Pemuda tetap untuk kesenian," katanya.
Meski demikian, Anis mengakui adanya dinamika yang melibatkan pihak lain. Ia berharap persoalan yang sempat muncul dapat segera diselesaikan agar ekosistem seni di Surabaya kembali berjalan harmonis.
"Saya berharap kalau ada masalah dengan yang lain segera selesai," tuturnya.
Anis menegaskan bahwa sejak lama Balai Pemuda dikenal sebagai “oase kesenian” di Surabaya yang harus tetap dijaga fungsinya untuk berbagai cabang seni, tidak hanya seni lukis tetapi juga teater, tari, dan pertunjukan lainnya. (*)
Editor: Danu
What's Your Reaction?

