Embong Arab, Jejak Sejarah Komunitas Arab di Kota Malang

Di Jalan Syarif Al-Qodri, Kecamatan Klojen, terdapat kawasan yang kaya akan sejarah dan budaya, yaitu Embong Arab.

18 Jan 2025 - 18:14
Embong Arab, Jejak Sejarah Komunitas Arab di Kota Malang
Embong Arab di Kota Malang (Foto: Ongis Mbois)

KOTA MALANG, SJP - Di Jalan Syarif Al-Qodri, Kecamatan Klojen, terdapat kawasan yang kaya akan sejarah dan budaya, yaitu Embong Arab. 

Kawasan ini tidak bisa dipisahkan dari sejarah kolonialisme Belanda, yang membentuk pengelompokan sosial berdasarkan suku bangsa, seperti yang diungkapkan oleh Najib Jauhari, pakar Sejarah Islam dari Universitas Negeri Malang (UM).

Ketika pemerintah kolonial Belanda menjajah Indonesia, mereka menetapkan warga Eropa sebagai kelas atas, sementara warga keturunan Arab dijadikan kelas menengah, dan pribumi berada di posisi terendah.

“Pengelompokan sosial ini memengaruhi penempatan geografis mereka. Kelas atas ditempatkan di kawasan strategis seperti sepanjang Jalan Ijen, sedangkan warga Arab mendapat jatah di Embong Arab, kawasan perdagangan yang terletak di perbatasan kota,” jelas Najib Ketika Dihubungi pada Sabtu (18/1/2025).

Sejak zaman Belanda, Embong Arab menjadi tempat tinggal bagi keturunan Arab, yang sebagian besar berasal dari wilayah Yaman, khususnya Tarim dan Hadramaut. 

Habib Baqir bin Shalih Mauladawilah, salah satu keturunan di Embong Arab, menjelaskan bahwa kakeknya, Habib Muhammad bin Ali Mauladawilah, datang ke Indonesia sebelum kemerdekaan. Ia mengarungi lautan menuju Jawa dan setibanya di Surabaya, awalnya ditolak oleh pemerintah Belanda.

“Walaupun ditolak, kakek saya tetap bertahan dan memutuskan untuk berdagang di Singosari sekaligus mengajar ilmu agama,” ungkap Habib Baqir ditemui di Kampung Arab (18/1/2025). 

Kesuksesan dan pengaruhnya dalam mengajar, menarik perhatian pemerintahan Belanda, yang kemudian menawarkan lahan di Embong Arab. Tawaran tersebut diterima dan menjadi cikal bakal terbentuknya Kampung Arab di kawasan ini.

Seiring dengan pesatnya perkembangan Embong Arab, kedatangan orang-orang dari Yaman semakin meningkat, berkat perjalanan kakek Habib Baqir yang rutin pulang kampung.

“Dia selalu mengajak saudara-saudara dari Yaman untuk tinggal di Jawa tanpa memungut biaya perjalanan,” tambahnya.

Kini, saat pemerintahan Belanda runtuh, populasi di Embong Arab semakin beragam. Dengan sendirinya, Embong Arab tak hanya menjadi lokasi strategis bagi komunitas Arab, tetapi juga potensi daya tarik wisata yang menarik bagi pengunjungnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow