DPRD Jombang Kutuk Tindak Kekerasan Seksual oleh Oknum Perangkat Desa
DPRD Jombang tegas mendukung korban kekerasan seksual oleh oknum perangkat desa, mengingatkan agar hukum ditegakkan tanpa intervensi, demi melindungi hak dan keselamatan korban.
JOMBANG, SJP — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jombang Dian Ayunita Prastumi mengecam keras dugaan tindakan bujuk rayu, ancaman, dan kekerasan seksual yang dialami SP oleh oknum perangkat desa di Kecamatan Megaluh, Jombang.
Politisi Partai Demokrat itu menilai, kasus ini bukan hanya persoalan moral, melainkan pelanggaran hukum dan penyalahgunaan kekuasaan oleh pelaku.
“Saya mendorong aparat penegak hukum untuk segera melakukan penyelidikan secara menyeluruh, objektif, dan berpihak pada korban,” tegasnya.
Anggota Komisi C DPRD Jombang itu juga mengingatkan agar kasus serupa tidak berakhir dengan pembungkaman atau penyederhanaan melalui mediasi.
“Kami di DPRD akan ikut mengawal proses ini dan memastikan tidak ada intervensi yang melemahkan hak-hak korban. Korban harus mendapatkan perlindungan, pendampingan psikologis, serta akses keadilan,” tandasnya.
Dian juga mengimbau seluruh perangkat desa dan para pemangku kebijakan agar menjaga integritas dan etika jabatan.
“Kekuasaan bukan untuk menindas, melainkan untuk melayani masyarakat dengan tanggung jawab,” tambahnya.
SP, perempuan 34 tahun asal Kecamatan Megaluh, mengaku mengalami dugaan kekerasan seksual oleh oknum perangkat desa berinisial OS. Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas teman yang membantu pekerjaan dan berbagi cerita.
“Awal mula berteman baik, tapi lambat laun saya merasakan ada yang aneh. Apa pun yang diminta selalu saya turuti, meski di hati bilang tidak mau. Tapi anehnya tetap saya lakukan,” kata SP lewat pesan tertulis kepada wartawan, Jumat (25/7/2025).
SP berusaha melepaskan diri, tetapi malah mendapat ancaman berupa penyebaran foto dan video. Dia merasa takut bila melaporkan ke polisi, karena takut keluarganya mengetahui.
“Jadi saya tidak punya pilihan lain selain menuruti dan susah lepas dari saudara OS,” ujarnya.
Tekanan dan ancaman yang terus-menerus membuat SP sempat terbersit niat bunuh diri. Bahkan saat menolak permintaan OS, dia mendapat perlakuan kasar.
“Di depan OS, saya hampir mengakhiri hidup saya, pernah juga pipi dicengkeram gara-gara saya tidak mau nurut,” akunya.
Selain itu, OS sering meminjam uang dengan nominal tidak sesuai saat pengembalian. SP bahkan rela uang yang dipinjam tidak dikembalikan asalkan bisa lepas dari jerat OS.
“Uang yang dibawa OS tidak dikembalikan tidak apa-apa asal lepaskan saya, capek, setiap hari merasa bersalah,” jelas SP.
Untuk menyuarakan nasibnya, SP didampingi suami telah melapor ke Women Crisis Center (WCC) Jombang atas dugaan kekerasan seksual yang dialaminya. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

