Produktivitas Tebu di Bondowoso Digenjot demi Dukung Swasembada Gula Nasional

Pemkab Bondowoso mempercepat program bongkar ratoon tebu seluas 2.352 hektare untuk mendukung swasembada gula nasional. Produktivitas petani berpotensi meningkat hingga 30 persen.

18 Jun 2026 - 17:11
Produktivitas Tebu di Bondowoso Digenjot demi Dukung Swasembada Gula Nasional
Wakil Bupati Bondowoso, As'ad Yahya Syafi'i (tengah) bersama jajaran Forkopimda dan Kadis Pertanian dan Perkebunan saat panen tebu bongkar ratoon yang digelar di Desa Mangli, Kecamatan Tapen, Kamis (18/6/2026). (Foto : Rizqi/SJP))

BONDOWOSO, SJP – Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus memperkuat kontribusinya dalam mendukung target swasembada gula nasional melalui program bongkar ratoon atau peremajaan tanaman tebu.

Langkah tersebut ditandai dengan kegiatan panen tebu bongkar ratoon yang digelar di Desa Mangli, Kecamatan Tapen, Kamis (18/6/2026).

Program yang menjadi bagian dari strategi nasional sektor pergulaan ini dinilai memiliki peran penting dalam meningkatkan produktivitas lahan tebu rakyat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Selain mendukung kebutuhan bahan baku industri gula, program tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani melalui hasil panen yang lebih optimal.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bondowoso, Mulyadi, mengatakan kegiatan bongkar ratoon merupakan salah satu upaya strategis untuk mengembalikan produktivitas tanaman tebu yang mengalami penurunan akibat usia tanaman yang sudah tua.

"Program bongkar ratoon ini bukan hanya soal peningkatan produksi gula, tetapi juga upaya meningkatkan kesejahteraan petani tebu Bondowoso. Dengan produktivitas yang lebih tinggi, kami berharap pendapatan petani meningkat dan sektor perkebunan tebu semakin menjadi penggerak ekonomi masyarakat desa," ujarnya.

Menurut Mulyadi, gula merupakan salah satu komoditas strategis yang berpengaruh terhadap ketahanan pangan nasional, stabilitas harga pangan, serta kesejahteraan petani. Karena itu, pemerintah terus mendorong percepatan program peremajaan tanaman tebu di berbagai daerah sentra produksi.

Ia menjelaskan, tanaman ratoon yang telah mengalami penurunan produktivitas perlu diremajakan melalui kegiatan bongkar ratoon. Berdasarkan berbagai kajian teknis, langkah tersebut mampu meningkatkan produktivitas tebu antara 15 hingga 30 persen apabila didukung penggunaan varietas unggul, pemupukan berimbang, serta penerapan budidaya yang baik.

Kabupaten Bondowoso sendiri menjadi salah satu wilayah pengembangan tebu yang memiliki peran penting dalam memasok kebutuhan bahan baku industri gula, khususnya bagi PG Prajekan. Pada tahun 2026, Bondowoso mendapatkan target pelaksanaan bongkar ratoon dan perluasan areal tebu seluas 2.352 hektare.

"Hingga pertengahan Juni 2026, progres bongkar ratoon dan perluasan areal tebu di Bondowoso telah mencapai 797,789 hektare atau sekitar 33,92 persen dari target 2.352 hektare. Capaian ini akan terus kami percepat melalui pendampingan intensif kepada petani dan penguatan sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan," kata Mulyadi.

Meski menunjukkan perkembangan positif, pelaksanaan program tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya masih terdapat petani yang mempertahankan tanaman ratoon tua karena keterbatasan modal usaha, kebutuhan percepatan penyediaan benih varietas unggul, penyesuaian jadwal tanam dengan kondisi iklim, hingga penguatan kelembagaan petani.

Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bondowoso terus melakukan pendampingan oleh penyuluh pertanian, verifikasi dan validasi Calon Petani Calon Lokasi (CPCL), memperkuat koordinasi dengan PG Prajekan, mendorong penerapan teknologi budidaya yang lebih efisien, serta memperkuat kelompok tani dan kemitraan usaha.

Di sisi lain, sektor pergulaan Bondowoso pada musim giling 2026 menunjukkan prospek yang cukup menjanjikan. PG Prajekan menargetkan produksi gula mencapai 5,5 juta kuintal dengan rendemen rata-rata sebesar 7,62 persen.

Angka tersebut meningkat dibandingkan capaian rendemen tahun sebelumnya yang berada pada kisaran 7,01 persen. Peningkatan rendemen menjadi indikator membaiknya kualitas bahan baku tebu sekaligus hasil dari sinergi antara petani, penyuluh pertanian, pemerintah daerah, dan industri gula.

"Kami optimistis target program ini dapat tercapai. Apalagi musim giling tahun 2026 menunjukkan prospek yang cukup baik dengan target produksi gula PG Prajekan mencapai 5,5 juta kuintal dan rendemen yang meningkat menjadi 7,62 persen. Ini menjadi indikator bahwa kualitas budidaya tebu di Bondowoso terus membaik," pungkas Mulyadi. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow