DPC GMNI Mojokerto Raya Ajak Mahasiswa Pahami Bahaya Desoekarnoisasi
Desoekarnoisasi dinilai memiliki dampak negatif terhadap keutuhan sejarah Sang Proklamator. Bahkan dampak itu bisa mengubah persepsi masyarakat terhadap Soekarno.
MOJOKERTO, SJP—Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) Mojokerto Raya mengajak mahasiswa memahami sejarah Bung Karno secara utuh. GMNI juga menyinggung bahaya desoekarnoisasi.
DPC GMNI Mojokerto Raya menilai, desoekarnoisasi memiliki dampak negatif terhadap keutuhan sejarah presiden pertama Republik Indonesia itu. Bahkan, dampak itu bisa mengubah persepsi masyarakat terhadap Soekarno.
Pernyataan itu diungkapkan oleh Ketua DPC GMNI Mojokerto Raya, Mohammad Thohir, saat diwawancarai usai kegiatan seminar kebangsaan dalam peringatan Bulan Bung Karno. Kegiatan itu digelar di Aula Universitas Islam Majapahit, Mojokerto, Senin (30/6/2025).
Thohir menjelaskan, desoekarnoisasi merupakan upaya menghilangkan peran dan warisan sejarah Soekarno. Karena itu, memahami rentetan utuh tentang sejarah Bung Karno dinilai sangat penting.
Dalam kegiatan tersebut, DPC GMNI Mojokerto Raya tidak hanya mengundang mahasiswa dari kalangan aktivis GMNI saja, melainkan semua organisasi ekstra kampus juga diundang untuk berdiskusi tentang bahaya desoekarnoisasi.
"Desoekarnoisasi sangat perlu teman-teman mahasiswa pahami. Desoekarnoisasi ini adalah bagaimana penyelewengan peristiwa pada 1 Juni yang akhirnya menimbulkan banyak pertanyaan bagi yang belum tahu," ucap Thohir.
DPC GMNI Mojokerto Raya mengapresiasi langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto karena telah membangun Galeri Soekarno Kecil di SDN Purwotengah yang telah diresmikan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon beberapa pekan lalu.
"Pemkot meresmikan Galeri Soekarno Kecil, mahasiswa, kami mengapresiasi," terangnya.
Meski demikian, DPC GMNI Mojokerto Raya berharap Pemkot Mojokerto melibatkan mahasiswa untuk mengedukasi masyarakat hingga anak-anak. Sebab, ada sejarah dan hal nilai edukatif yang harus benar-benar sampai kepada masyarakat.
"Saya harapkan ketika pembentukan itu selanjutnya melibatkan teman-teman mahasiswa. Ini berkaitan dengan kalangan muda, sejarah ada di situ," ungkap Thohir.
Menurut Thohir, sejarah Soekarno semasa kecil butuh dibingkai lebih baik agar publik memahami secara utuh tentang sejarah Soekarno: baik perjalanannya maupun pemikirannya. Sehingga sejarah Bung Karno tidak kabur.
"Butuh ruang publik yang lebih luas untuk membingkai sejarah Soekarno agar tidak kabur," tandasnya.
Untuk diketahui, seminar bulan Bung Karno yang digelar oleh DPC GMNI Mojokerto Raya mengusung tema “Gerakan Pemuda melalui Pancasila sebagai Pedoman Membangun Bangsa”.
Tiga narasumber mengisi kegiatan tersebut. Yakni Wakil Wali Kota Mojokerto, Rachman Sidharta Arisandi; Kepala Bidang Ideologi, Wawasan Kebangsaan dan Karakter Bangsa Bakesbangpol Kabupaten Mojokerto, Mari Sudiastati; dan Ketua Bawaslu Kabupaten Mojokerto, Dody Faizal. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

