DLH Bondowoso Fasilitasi Pengolahan Limbah MBG untuk Pakan Maggot

Saat ini pembudidaya ulat maggot bisa menggunakan limbah makanan di SPPG untuk pakan.

22 Jan 2025 - 21:29
DLH Bondowoso Fasilitasi Pengolahan Limbah MBG untuk Pakan Maggot
Bak sampah yang disediakan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bondowoso di lokasi SPPG eks Markas 514 (Foto : DLH/SJP)

BONDOWOSO, SJP – Sejak dilaksanakannya program unggulan Presiden Prabowo Subianto, makan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Bondowoso, memang masih memerlukan banyak evaluasi.

Bahkan, saat launching pertama kali pada tanggal 13 Januari 2025 lalu, ada beberapa kekurangan yang harus dievaluasi, mulai dari penyediaan menu, sampai kesiapan peralatan makan siswa.

Selain itu, dampak dari MBG ini, adalah sampah organik yang dihasilkan oleh satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang ada di eks markas 514 di jalan Saliwiryo, Kelurahan Badean.

Oleh sebab itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat ikut berpartisipasi memberikan sarana bak sampah organik di lokasi dapur masak MBG atau SPPG. Bahkan, DLH juga memberikan edukasi agar petugas SPPG bisa memilah sampah yang akan dibuang.

Kepala DLH Bondowoso, Aries Agung Sungkowo, melalui Ervan Rendy Wibowo, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 mengatakan, pihaknya sudah mempertemukan pihak SPPG dengan bank sampah yang ada di Kelurahan Kota Kulon.

“Ini kan hal baru. SPPG sudah kami komunikasikan dengan bank sampah induk di Kota Kulon yang kebetulan memiliki mitra yang bergerak dalam budidaya maggot,” ucapnya, Rabu (22/1/2025) kepada suarajatimpost.

Menurut Ervan, sisa makanan atau sampah organik yang dihasilkan di dapur masak MBG ini, bisa dijadikan bahan dasar untuk pakan maggot. Oleh sebab itu, pihak SPPG diharapkan bisa memilih dan memilah sampah yang akan dibuang.

“Untuk sisa-sisa makanan bisa menjadi bahan baku atau pakannya ulat maggot, cuma harus terpilah. Karena di lapangan, di tempat sampah yang kita sediakan masih belum murni terpisah, masih ada beberapa yang tercampur,” ungkapnya.

Dirinya berharap selanjutnya ada petugas SPPG yang menangani limbah domestiknya agar terpilah. Sehingga, pembudidaya ulat maggot bisa langsung membawa sampah tersebut untuk pakan.

“Mungkin saat ini masih awal, jadi masih belum terpisah. Kami harap nantinya sudah terpisah, mana sampah yang masih bisa didaur ulang dan mana yang tidak,” ujar Ervan.

Potensi sampah sisa makanan ini, kata Ervan, masih bernilai jika pihak SPPG bisa mengolahnya. Karena, diprediksi nantinya di Kabupaten Bondowoso akan didirikan 10-11 SPPG yang tersebar di berbagai wilayah.

Sementara, saat ini SPPG yang ada di eks markas 514 hanya meminta DLH untuk melayani pengangkutan sampahnya saja. Oleh sebab itu, dirinya berharap semua SPPG nantinya merencanakan 

“Harusnya SPPG ini memiliki perencanaan bagaimana mengolah limbah domestiknya. Kita (DLH) juga mengajak bank sampah dan siapapun untuk bisa memanfaatkan limbah makanan itu. Sementara ini kami hanya melayani pengangkutannya saja ke TPA,” pungkasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow