Dilarang Gubernur Jatim, Ini Dampak Sound Horeg bagi Kesehatan

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa resmi melarang penggunaan sound horeg demi menjaga ketertiban dan melindungi kesehatan masyarakat. Kebisingan ekstrem dari perangkat ini terbukti berisiko menyebabkan kerusakan pendengaran, gangguan jantung, hingga stres berkepanjangan.

10 Aug 2025 - 10:14
Dilarang Gubernur Jatim, Ini Dampak Sound Horeg bagi Kesehatan
Kebisingan ekstrem dari sound horeg berisiko menyebabkan kerusakan pendengaran, gangguan jantung, hingga stres berkepanjangan. (Foto: berita satu.com)

SURABAYA, SJP – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa resmi melarang penggunaan sound horeg melalui Surat Edaran (SE) bersama yang diteken bersama Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto dan Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin pada 6 Agustus 2025.

Larangan ini bukan sekadar soal ketertiban umum, tetapi juga perlindungan kesehatan masyarakat dari dampak kebisingan ekstrem.

Sound horeg adalah  istilah populer untuk speaker berukuran besar dengan volume tinggi yang biasa digunakan di konvoi motor, pesta jalanan, atau hajatan. Sound ini menghasilkan tingkat kebisingan yang jauh di atas ambang aman. Paparan suara semacam ini, apalagi jika berulang, terbukti membahayakan kesehatan fisik dan mental.

Berikut dampak kebisingan sound horeg bagi kesehatan menurut sejumlah penelitian internasional dan medis:

  1. Kerusakan pendengaran permanen
    Paparan suara melebihi 85 dB dapat merusak sel rambut halus di telinga bagian dalam, memicu noise-induced hearing loss (NIHL) dan tinnitus. Kerusakan ini bersifat permanen dan tidak dapat diperbaiki, bahkan dengan alat bantu dengar.
  2. Gangguan jantung dan hipertensi
    Kebisingan kronis memicu pelepasan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Kondisi ini dapat menaikkan tekanan darah dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan strok.
  3. Gangguan tidur dan kelelahan
    Suara keras hingga larut malam mengganggu fase tidur nyenyak dan REM, membuat tubuh tidak mendapat waktu pemulihan cukup. Akibatnya, timbul kelelahan kronis, kantuk berlebihan di siang hari, hingga gangguan metabolik.
  4. Stres dan gangguan psikologis
    Paparan kebisingan terus-menerus dapat memicu stres, kecemasan, dan mudah marah. Warga yang tinggal dekat lokasi sound horeg sering merasa kehilangan kendali atas lingkungannya.
  5. Penurunan konsentrasi dan daya ingat
    Kebisingan mengganggu proses belajar dan bekerja. Pada anak-anak, paparan berkelanjutan dapat menurunkan kemampuan belajar dan prestasi akademik.
  6. Dampak lebih berat pada kelompok rentan
    Anak-anak, lansia, penderita penyakit jantung, dan pekerja malam lebih rentan terhadap efek buruk kebisingan. Kondisi medis yang sudah ada bisa memburuk, dan daya tahan tubuh menurun akibat kurang istirahat.
  7. Sakit kepala dan migrain
    Gelombang suara yang terlalu kuat dapat memicu sakit kepala, migrain, dan kelelahan sensorik, terutama di kawasan padat penduduk.
  8. Risiko penyakit kronis dan kematian dini
    WHO Eropa pada 2017 mencatat kebisingan lingkungan menyebabkan puluhan ribu kasus penyakit jantung baru dan ribuan kematian prematur setiap tahun. Tanpa pengaturan ketat, risiko serupa dapat terjadi di Indonesia.

Khofifah menegaskan, pembatasan penggunaan sound horeg adalah langkah preventif untuk melindungi masyarakat. “Bukan hanya demi ketertiban, tetapi untuk kesehatan warga Jawa Timur,” ujarnya.

Sumber : beritasatu.com 

Editor : Danu S

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow