Dijahili Teman, Santri Lumajang Keracunan Asam Klorida hingga Alami Luka Organ Pencernaan

Seorang santri 13 tahun di Lumajang keracunan berat setelah menenggak cairan asam klorida akibat keusilan teman. Korban mengalami luka serius pada organ pencernaan dan kini membutuhkan biaya pengobatan tinggi.

29 Sep 2025 - 21:43
Dijahili Teman, Santri Lumajang Keracunan Asam Klorida hingga Alami Luka Organ Pencernaan
Dewangga Eza Naufal Al Yusen (13), warga Desa Tempeh Tengah, Kecamatan Tempeh hanya bisa berbaring lemah di tempat tidur setelah keracunan usai meminum asam klorida. (Foto: Beritasatu.com/Ahmad Rifqi Danwanus Khalwani)

LUMAJANG, SJP – Seorang santri berusia 13 tahun asal Lumajang, Jawa Timur, mengalami keracunan berat setelah menenggak cairan asam klorida (HCl) yang disimpan dalam botol minuman kemasan. Insiden tersebut terjadi akibat keusilan teman sesama santri di pondok pesantren.

Korban diketahui bernama Dewangga Eza Naufal Al Yusen (13), warga Desa Tempeh Tengah, Kecamatan Tempeh. Kondisi Dewangga saat ini sangat memprihatinkan. Berat badannya turun drastis dari 38 kilogram menjadi 24 kilogram akibat organ pencernaannya mengalami luka serius dan tidak dapat mencerna makanan padat.

“Kami hanya bisa memberi susu khusus seperti arahan dokter. Tidak ada makanan lain yang bisa masuk. Biayanya sangat besar,” ujar Ratna Purwari, ibu Dewangga, Senin (29/9/2025).

Peristiwa tersebut terjadi pada 10 Juli 2025 di Pondok Pesantren Asy-Syarifiy, Desa Pandanwangi, Kecamatan Tempeh. Saat itu, Dewangga dan dua santri lain, Rama dan Azril, meminum cairan yang dikira minuman kemasan.

Cairan tersebut ternyata telah dicampur asam klorida oleh seorang santri lain sebagai bentuk keisengan. Dari tiga anak yang sempat meneguk cairan tersebut, Dewangga mengalami dampak paling parah.

Korban sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Akibat kerusakan pada organ dalam, Dewangga kini hanya dapat bertahan hidup dengan mengonsumsi susu medis khusus.

Pihak keluarga bersama pesantren kini membuka penggalangan dana untuk membantu biaya pengobatan yang tidak sepenuhnya ditanggung BPJS. Menurut perhitungan medis, Dewangga membutuhkan biaya sekitar Rp1 juta per hari untuk susu khusus dan obat-obatan selama enam bulan masa pemulihan.

“Kami juga menggalang dana biaya pengobatan dan susu khusus di luar tanggungan BPJS. Kami melakukan audiensi dengan pemerintah agar ikut peduli,” kata Ahmad Syaifuddin Amin, dewan pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syarifiy.

Keluarga berharap dukungan dan bantuan masyarakat dapat meringankan beban biaya serta mempercepat proses pemulihan Dewangga, yang hingga kini masih menjalani perawatan intensif di rumah. (**)

Editor : Rizqi Ardian
Sumber: Beritasatu.com

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow