Ketika Tentara Turun ke Dermaga: Loreng di Antara Tuna dan Cat Perahu
Sementara sebagian aparat sibuk selfie saat dinas, di Sendang Biru prajurit TNI justru sibuk memanggul tuna dan mengecat perahu. Negara mungkin tak selalu hadir, tapi loreng kadang lebih dulu menyapa.
MALANG, SJP — Ahad pagi di Pelabuhan Sendang Biru, Kabupaten Malang, bukan hanya milik para nelayan. Sejumlah prajurit berseragam loreng turut hilir mudik di antara tumpukan keranjang ikan dan perahu yang bersandar. Mereka bukan datang membawa senjata, melainkan tenaga.
Tuna-tuna segar yang baru diangkat dari lambung kapal dipanggul ke timbangan. Keranjang-keranjang ikan disingkirkan. Sebagian prajurit bahkan membantu mengecat perahu. Semua dilakukan dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia.
Tidak ada sekat antara prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan warga. Mereka menyatu dalam kerja komunal. Punggung basah, pelipis berpeluh. Semua menyatu dalam denyut ekonomi pesisir yang hidup sejak dini hari.
“Bapak TNI kemarin datang bantu kami, mindahin ikan dari kapal ke timbangan. Kami terbiasa lihat mereka turun tangan langsung, enggak hanya hari ini,” ujar Rudi, nelayan yang sehari-hari mangkal di pelabuhan, Ahad (3/8/2025).
Kehadiran prajurit TNI bukan sesuatu yang asing bagi warga. Menurut Rudi dan nelayan lain, mereka merasa nyaman karena TNI tidak hanya muncul saat ada bencana atau konflik, tetapi juga saat warga membutuhkannya dalam keseharian.
Komandan Komando Resor Militer (Korem) 083/Baladhika Jaya, Kolonel Inf Kohir, turut hadir dalam kegiatan itu. Dia menjelaskan bahwa kehadiran TNI di tengah masyarakat tidak semata seremonial.
“Kami datang bukan hanya untuk bakti sosial, tetapi selalu hadir untuk masyarakat, mau di kota sampai pedalaman,” katanya.
Menurut Kohir, TNI memiliki sistem kehadiran struktural lewat Bintara Pembina Desa (Babinsa) di tiap desa. Babinsa tak hanya menjadi perpanjangan tangan militer, melainkan juga penghubung aktif dan peka terhadap dinamika sosial warga.
“Kami sudah lama hadir lewat Babinsa yang jadi penghubung aktif Korem dengan masyarakat,” tambahnya.
Kesan paling membekas justru muncul dari kerendahan hati para prajurit. Mereka bukan sekadar berdiri memantau, melainkan benar-benar ikut menurunkan hasil laut, merapikan tempat duduk para ibu, bahkan memperbaiki perahu nelayan yang rusak.
Warga menyebut TNI di Sendang Biru sebagai mitra, bukan aparat. Bukan hanya pelindung, tetapi bagian dari komunitas. Bagi mereka, kekuatan negara itu hadir dalam bentuk yang sederhana, tetapi berdampak besar.
“Kami lebih merasa aman kalau Babinsa turun dan ikut serta. Mereka bukan cuma jaga-jaga, tapi benar-benar bareng kami,” ujar Rudi kembali.
TNI di pelabuhan bukan sedang latihan tempur. Mereka sedang merawat hubungan, memperkuat ketahanan sosial, dan menyemai rasa saling percaya—di antara bau amis laut, cat perahu, dan suara anak-anak nelayan yang berlarian di sela aktivitas pagi. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

