Paksakan Gowes saat Tidak Sehat, Pesepeda di Blitar Meninggal Dunia di Teras Warung
Seorang pesepeda asal Pakunden, Kota Blitar ditemukan meninggal dunia saat beristirahat di teras warung kosong Desa Sumber, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar.
BLITAR, SJP - Ini pelajaran bagi kita. Perhatikan kondisi tubuh sebelum berolahraga. Jangan sekali-kali memaksakan diri berolahraga ketika sedang tidak sehat. Terlebih jika memiliki penyakit bawaan.
Nasib nahas ini dialami oleh Utomo. Laki-laki 61 tahun warga Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar ini meninggal dunia di teras warung kosong di Desa Sumber, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, Rabu (16/4/2025) siang. Padahal, sebelumnya, dia tampak bersepeda.
Dari keterangan saksi, korban beristirahat di teras warung kosong tersebut. "Saksi mata bernama Pak Ali ini sempat disapa oleh korban dan mengatakan: saya numpang istirahat di sini. Kemudian saksi salat di masjid dan selang 30 menit, keluar mendapati korban sudah tersungkur di lantai," kata Iptu Samsul Anwar, Kasi Humas Polres Blitar Kota, Kamis (17/4/2025).
Setelah mengetahui kejadian tersebut, saksi mata memberitahu warga sekitar dan perangkat desa. Selanjutnya, dilaporkan kepada kepolisian setempat.
Iptu Samsul menyebut tim kesehatan juga mendatangi lokasi melakukan pemeriksaan terhadap korban dan dinyatakan sudah meninggal dunia.
"Kemudian jenazah korban dibawa ke rumah sakit terdekat untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut dan diserahkan kepada pihak keluarga," ujar dia.
Berdasarkan keterangan istrinya, korban sebelumnya sempat mengeluh kurang enak badan. Namun, tetap memaksa untuk olahraga bersepeda atau gowes.
Iptu Samsul menambahkan dari hasil pemeriksaan tim medis kesehatan dan inafis Polres Blitar Kota tidak ditemukan adanya tanda tanda kekerasan di tubuh korban dan yang bersangkutan meninggal dunia diduga karena serangan jantung.
Waspadai Kardiovaskular
Jika melihat gejalanya, apa yang dialami oleh pesepeda di Blitar itu merupakan penyakit kardiovaskular yakni penyakit yang disebabkan adanya gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Mengutip website unair.ac.id, World Health Organization (WHO) menyebut penyakit kardiovaskular sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia dengan belasan juta korban tiap tahun.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) tersebut Mochamad Yusuf menyebut, pada serangan jantung terjadi penyumbatan tiba-tiba pada pembuluh koroner yang berada di jantung. Jika jantung tak memperoleh suplai oksigen yang cukup, maka timbul rasa nyeri pada dada. Nyeri ini juga menjadi gejala gangguan irama jantung.
“Bicara hal tersebut kematian yang sifatnya mendadak, terutama apabila 1×24 jam atau bahkan 1 jam sebelumnya keadaan fisik tidak bermasalah, sering kali yang dikambinghitamkan adalah jantung,” tutur Mochamad Yusuf.
Meski demikian, Yusuf menegaskan bahwa kemungkinan penyebab meninggalnya korban tidak hanya terbatas pada serangan, tetapi juga gangguan irama pada jantung. Lulusan doktor dari Juntendo University itu menjelaskan bahwa pola hidup dan faktor genetika menentukan tingkat kerentanan individu. Risiko meningkat pada perokok berat, obesitas, hingga kelompok usia paruh baya.
Tapi, menurut Yusuf, ada sejumlah orang yang angkanya kecil sekali, di mana mereka akan mengalami gangguan jantung tanpa penyumbatan pembuluh koroner. "Sejak awal sudah ada defect atau cacat yang kurang lebih meningkatkan risiko faktor terkena penyumbatan pembuluh koroner,” ujarnya.
Lihat Kondisi Kesehatan sebelum Olahraga!
Orang yang meninggal ketika bersepeda mengindikasikan individu aktif berolahraga. Meski demikian, Yusuf menegaskan bukan berarti olahraga memperparah risiko penyakit kardiovaskular. Sebaliknya, olahraga justru dianjurkan. Akan tetapi, tetap harus ada mawas diri.
“Konkretnya begini, ketika saya mau berolahraga namun tensi saya 190 atau saya sedang demam, ya, jangan berolahraga. Tapi kalau tidak ada keluhan, tensinya bagus, mulailah olahraga yang ringan dan bertahap,” kata Yusuf.
Yusuf memberikan tips menghindari penyakit serupa. Gangguan terhadap jantung dapat diminimalisir dengan tidak merokok serta menghindari konsumsi kolesterol dan gula berlebih. Olahraga rutin juga dapat meningkatkan kesehatan jantung dan pembuluh darah. Bagi individu yang memiliki risiko penyakit jantung bawaan, Yusuf anjurkan agar menjalani pemeriksaan rutin. (*)
Editor : Danu S
What's Your Reaction?

