Didongkrak Hortikultura, Jawa Timur Catat Kenaikan NTP Tertinggi di Pulau Jawa pada Juni 2025
NTP Jawa Timur naik 2,75 persen di Juni 2025, ditopang lonjakan harga cabai dan tomat, menjadikannya provinsi dengan kenaikan tertinggi se-Pulau Jawa.
SURABAYA, SJP—Kenaikan tajam harga cabai rawit, tomat, dan bawang merah membuat subsektor hortikultura melonjak hingga mencatatkan kenaikan tertinggi secara bulanan.
Imbasnya, Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur pada Juni 2025 naik signifikan hingga 2,75 persen, menjadikannya yang tertinggi di Pulau Jawa untuk penutup semester pertama tahun 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat NTP sebesar 112,39 untuk bulan Juni, naik dari 109,38 pada Mei. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa secara umum, petani di Jawa Timur menikmati peningkatan daya beli karena harga jual hasil pertanian tumbuh lebih cepat dibandingkan biaya yang mereka keluarkan.
"Kenaikan harga komoditas hortikultura sangat tajam bulan ini. Harga cabai rawit naik lebih dari 25 persen, tomat di atas 30 persen, dan bawang merah dua digit. Ini mendongkrak pendapatan petani," ujar Zulkipli, Kepala BPS Provinsi Jawa Timur, Minggu (6/7/2025).
Gabah dan Cabai Jadi Pendorong
Secara sektoral, subsektor hortikultura mencatat kenaikan NTP paling signifikan, yakni 13,68 persen, menjadi 141,68. Sementara itu, subsektor tanaman pangan juga tumbuh 2,37 persen menjadi 110,51.
Adapun sektor lainnya, seperti perkebunan rakyat (-1,35%), peternakan (-0,43%), dan perikanan (-1,05%) justru mengalami penurunan.
Kenaikan NTP itu sejalan dengan meningkatnya indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 3,34 persen, yang berasal dari lonjakan harga beberapa komoditas kunci.
"Komoditas utama yang menyumbang kenaikan It antara lain gabah dengan kenaikan 3,65 persen, cabai rawit 25,89 persen, dan tomat yang melonjak lebih dari 32 persen," jelas Zulkipli.
Gabah menyumbang andil paling besar terhadap It, yakni 1,44 persen, diikuti cabai rawit (0,88%) dan bawang merah (0,46%).
NTUP Naik, Tanda Usaha Tani Makin Layak
Selain NTP, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) juga mencatatkan peningkatan sebesar 3,10 persen, menjadi 116,94. Kenaikan NTUP mengindikasikan bahwa usaha tani di Jawa Timur semakin layak secara ekonomi, karena harga hasil pertanian tetap lebih tinggi dibandingkan biaya produksi.
"NTUP digunakan untuk melihat apakah usaha tani masih menguntungkan. Ketika NTUP naik, berarti hasil usaha masih menutup biaya modal dan produksi," papar Zulkipli.
Indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) juga mengalami kenaikan, namun tidak sebesar It, sehingga NTUP tetap meningkat.
Harga Konsumsi Petani Naik, Tapi Tidak Sekencang Harga Jual
Di sisi lain, indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan tipis, yakni 0,57 persen. Ini mencerminkan naiknya pengeluaran petani baik untuk keperluan rumah tangga maupun sarana produksi.
Beberapa komoditas yang mendorong kenaikan Ib antara lain:
- Tomat sayur naik 28,68%
- Bakalan sapi naik 4,03%
- Cabai rawit naik 30,16%
- Bawang merah naik 6,67%
Namun, karena laju kenaikan It lebih tinggi dari Ib, NTP tetap meningkat secara keseluruhan.
Jawa Timur Tertinggi se-Pulau Jawa
Jika dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Jawa, Jawa Timur mencatatkan kenaikan NTP bulanan tertinggi, yakni +2,75 persen. Disusul oleh:
- Jawa Barat (+1,85%)
- Jawa Tengah (+1,83%)
- Banten (+0,18%)
- Sementara DIY justru mengalami penurunan NTP sebesar -0,37 persen
"Tren ini menunjukkan bahwa petani Jawa Timur mendapat momentum positif di tengah fluktuasi harga, terutama karena dukungan dari sektor hortikultura," ujar Zulkipli.
Meski secara umum angka NTP meningkat dan mencerminkan daya beli petani yang membaik, BPS tetap mengingatkan perlunya stabilisasi harga komoditas penting, terutama pangan, agar tidak terjadi lonjakan yang justru merugikan konsumen atau petani kecil yang menjadi pembeli.
"Kenaikan harga memang baik untuk produsen, tapi perlu dijaga keseimbangannya agar tidak menjadi beban bagi petani lain yang juga konsumen, seperti peternak atau nelayan," tutup Zulkipli. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

