Di Balik Uji Coba 2U.CHAT x ITS, Mahasiswa S2 ITS Pimpin Sistem Testing AI Lintas Bahasa
Dalam pengujian, bahasa menjadi bagian penting dari desain pengujian karena salah satu fokus utama yang diuji ialah kemampuan penerjemahan lintas bahasa yang menjadi fitur unggulan 2U.CHAT. Tim PIC ITS rancang alur uji coba mendapatkan umpan balik tester dan menjadi data yang dapat ditindaklanjuti.
SURABAYA, SJP - Pilot Project 2U.CHAT x Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memasuki tahap uji coba. Setelah sebelumnya diluncurkan pada 9 Juli 2026, selama empat pekan kedepan tim pengelola akan membuat pengujian aplikasi agar setiap pengalaman pengguna, mulai dari pemanfaatan fitur hingga kendala teknis, dapat terdokumentasi sebagai bahan evaluasi pengembangan produk.
Tahap pengujian (masa pilot) berlangsung sejak 9 Juli hingga 6 Agustus 2026. Dalam periode tersebut, lima Person in Charge (PIC) bertugas mendampingi para tester mulai dari pembagian akun, proses onboarding, penggunaan berbagai fitur, hingga pelaporan bug dan evaluasi berkala. Koordinasi tim dipimpin oleh Azel Rizki Nasution selaku PIC Leader sekaligus Project Lead.
Selain Azel selaku leader, tim PIC juga terdiri dari Achmad Mundir Wicaksono, Sulaiman Bilal Muzakhar, Gladys Brilliant, dan Alwian. Dalam pelaksanaannya, Azel mengoordinasikan pembagian tugas, merangkum kebutuhan testing, lalu mengingatkan progres tiap PIC agar tahapan yang saling bergantung tidak terlewat.
Azel mengungkapkan bahwa tujuan utama pilot project bukan sekadar mengajak tester mencoba aplikasi yang sedang dikembangkan, melainkan juga memastikan setiap pengalaman penggunaan dapat diolah menjadi data yang bermanfaat bagi pengembang.
"Saya tidak ingin tester hanya memakai aplikasi lalu memberi komentar singkat. Kami perlu mengubah pengalaman mereka menjadi laporan yang jelas: fitur apa yang dipakai, bahasa apa yang digunakan, kendala yang muncul, dan bukti yang bisa diperiksa bersama," kata Azel, Selasa (14/7/2026).
Ia menjelaskan, proses pengujian dimulai sejak tester menerima akun dari PIC. Setiap peserta diwajibkan melakukan aktivasi akun, mengganti kata sandi awal, menyelesaikan proses Know Your Customer (KYC) pada bagian ID Document, serta mencatat perangkat, jaringan internet, bahasa ibu, hingga kendala yang ditemui selama menggunakan aplikasi.
"Data tersebut dibutuhkan agar masalah yang muncul dapat dibaca bersama konteks penggunaan, bukan hanya sebagai keluhan umum," papar Azel.
Dalam pengujian, bahasa menjadi bagian penting dari desain pengujian karena salah satu fokus utama yang diuji ialah kemampuan penerjemahan lintas bahasa yang menjadi fitur unggulan 2U.CHAT. Karena itu, para tester diminta menggunakan bahasa ibu atau bahasa yang paling sering digunakan dalam aktivitas sehari-hari agar sistem dapat diuji pada kondisi penggunaan yang nyata.
Pengujian dilakukan untuk melihat pengalaman nyata pada fitur penerjemahan, caption, AI Translation Call, AI Meeting, dan AI Classroom. Koordinasi tetap disederhanakan melalui dua grup WhatsApp, yakni Indonesian Testers dan Global Testers. Tester global menggunakan Bahasa Inggris untuk koordinasi, sedangkan penggunaan aplikasi tetap diarahkan pada bahasa yang paling natural bagi masing-masing pengguna.
Model itu sejalan dengan tujuan awal program yang melibatkan pengguna awal dari berbagai negara dan cakupan beberapa kelompok bahasa internasional. Sebelumnya, Executive Director Brightsun Group Philip Tam menyatakan bahwa teknologi perlu mendekatkan manusia tanpa dibatasi bahasa maupun budaya. Bagi tim ITS, gagasan tersebut perlu diuji pada percakapan, kelas, dan kolaborasi yang benar-benar dipakai tester.
Untuk menata proses tersebut, Azel menyusun guideline final yang menjadi panduan tunggal bagi tester. Dokumen itu memuat langkah dari login pertama hingga laporan akhir. Isinya mencakup penggunaan MyAI, undangan pengguna baru, AI Translation Call, AI Meeting, AI Classroom, Community, Translated Moments, serta pengujian batas layanan gratis.
"Seluruh pengalaman penggunaan, termasuk apabila ditemukan bug, didokumentasikan melalui laporan yang dilengkapi tangkapan layar maupun rekaman layar sebagai bukti pendukung," ujar Azel.
Panduan itu membagi masa pilot menjadi empat minggu. Pekan (Week) 1 digunakan untuk menyelesaikan KYC, mencoba MyAI, mengundang pengguna baru, menjalankan AI Translation Call, dan mengadakan AI Meeting. Pekan 2 berfokus pada pemakaian MyAI untuk kebutuhan nyata, pembuatan Community, serta pelaksanaan AI Classroom.
Berlanjut pada Pekan 3, tester mengecek perkembangan undangan, mencoba Translated Moments, dan mencatat temuan limit layanan gratis. Pekan 4 dipakai untuk meninjau Community, mengumpulkan masukan dari pengguna undangan, dan menutup laporan akhir.
Skenario teknis juga ditempatkan dalam urutan yang jelas. Round 1 dan Round 2 dikerjakan pada Week 1 untuk menguji panggilan dasar, AI Call, Interpreter Mode, delay, dan kualitas terjemahan. Round 3 dijalankan pada akhir Week 1 atau awal Week 2 ketika peserta telah siap melakukan AI Meeting dengan tiga orang atau lebih. Round 4 dilakukan pada Week 2 melalui AI Classroom untuk menguji presentasi, sesi tanya jawab, dan sinkronisasi caption.
Untuk memudahkan proses evaluasi, tim juga menyiapkan Google Form dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Formulir tersebut digunakan untuk menghimpun laporan perkembangan penggunaan, status KYC, hingga temuan bug secara lebih sistematis sehingga tidak tercampur dalam percakapan di grup koordinasi.
Azel mengatakan setiap PIC memiliki tanggung jawab berbeda, mulai dari pendampingan tester hingga penyusunan laporan. Seluruh data yang masuk kemudian diverifikasi agar sesuai dengan kebutuhan evaluasi pengembangan platform.
"Lima PIC punya bagian kerja masing-masing. Peran saya adalah menyatukan alurnya, mengingatkan target, dan memastikan catatan dari lapangan kembali dalam format yang bisa kami baca bersama. Kalau ada bagian yang belum sinkron, kami perbaiki sebelum menjadi beban tester," ujar Azel.
Sebelumnya, Kepala Pusat Studi Pengembangan Industri dan Kebijakan Publik (PSPI-KP) ITS, Dr. Ir. Arman Hakim Nasution, M.Eng., menyebut kolaborasi tersebut membuka peluang bagi mahasiswa untuk berkontribusi dalam pengembangan inovasi digital.
Pada tahap implementasi itu, kontribusi tersebut diwujudkan melalui pengujian fitur dalam kondisi nyata serta penyampaian masukan yang terukur kepada pengembang. Sedangkan pada tahap testing, kontribusi itu diterjemahkan menjadi pekerjaan yang lebih rinci, mencoba fitur dalam kondisi nyata, melaporkan masalah dengan bukti, dan menyampaikan masukan dari pengguna.
Bagi tim PIC, keberhasilan pilot project itu tidak diukur dari banyaknya tester yang berhasil masuk ke aplikasi, melainkan dari kualitas data yang berhasil dihimpun. Catatan mengenai pengalaman penggunaan, performa fitur penerjemahan, kualitas komunikasi, hingga berbagai kendala teknis diharapkan menjadi bekal bagi pengembang untuk menyempurnakan 2U.CHAT sebelum diimplementasikan lebih luas dalam kolaborasi akademik lintas negara. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

