Dari Langgar Sederhana, Masjid Agung KH Anas Mahfudz Jadi Ikon Baru Lumajang
Masjid Agung KH Anas Mahfudz di Lumajang menyimpan sejarah panjang sejak 1833. Bermula dari langgar sederhana, kini menjadi ikon religi sekaligus pusat aktivitas keagamaan masyarakat Kota Pisang.
LUMAJANG, SJP – Azan berkumandang dari menara ramping yang menjulang di pusat Kota Lumajang. Di bawah kubah besar yang berdiri kokoh, jemaah perlahan memadati saf, menunaikan ibadah di Masjid Agung KH Anas Mahfudz. Bagi masyarakat setempat, masjid ini bukan sekadar tempat salat, melainkan saksi bisu perjalanan panjang sejarah Islam di Kota Pisang.
Tak banyak yang mengetahui, bangunan megah ini berawal dari sebuah langar sederhana. Berdasarkan catatan Sejarah lokal, langar tersebut didirikan oleh pasukan Pangeran Diponegoro sekitar tahun 1833, pada masa perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Dari tempat ibadah kecil yang bersahaja itulah syiar Islam terus berkembang di Lumajang.
Jejak Sejarah yang Terus Bertumbuh
Seiring waktu, langar tersebut mengalami sejumlah pemugaran. Perubahan demi perubahan dilakukan mengikuti kebutuhan Jemaah yang kian bertambah. Dari bangunan sederhana, masjid ini tumbuh menjadi masjid agung dengan arsitektur yang lebih representatif dan mampu menampung ribuan jemaah.
Kini, desainnya memadukan arsitektur Islam modern dengan sentuhan khas Nusantara. Ornamen kayu bermotif Jawa menghiasi beberapa bagian interior, menghadirkan nuansa hangat sekaligus kental dengan identitas lokal. Kubah besar berdiri di tengah bangunan, sementara menara tinggi menjadi penanda visual yang mudah dikenali dari kejauhan.
Konsepnya sederhana namun elegan. Tata ruangnya dirancang fungsional agar jemaah tetap nyaman, baik saat salat lima waktu maupun ketika pelaksanaan ibadah skala besar seperti Salat Id.
Simbol Dakwah dan Pendidikan
Masjid ini tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga ruang pembinaan umat. Takmir masjid sekaligus putra KH Anas Mahfudz, Abdul Kafi, menjelaskan bahwa nama masjid diambil sebagai bentuk penghormatan kepada ulama yang memiliki peran besar dalam perkembangan dakwah Islam di Lumajang.
“Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol perjuangan dakwah dan pendidikan Islam di Lumajang. Nama KH Anas Mahfudz diabadikan sebagai bentuk penghormatan atas jasa beliau,” ujarnya.
Menurut Abdul Kafi, berbagai kegiatan rutin digelar di kompleks masjid, mulai dari pengajian setiap ahad, kegiatan sosial, hingga event-event tahunan bertema keislaman.
“Agenda rutinan banyak mulai dari pengajian setiap ahad, kegiatan sosial, hingga event-event tahunan dengan tema keislaman,” katanya.
Ikon Religi Kota Pisang
Kini, Masjid Agung KH Anas Mahfudz tak hanya berdiri sebagai bangunan fisik, melainkan simbol perjalanan sejarah dan perkembangan Islam di Lumajang. Keberadaannya mempertegas identitas religius masyarakat sekaligus menjadi pusat aktivitas sosial yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Dari langgar sederhana yang lahir di masa perjuangan, masjid ini tumbuh menjadi ikon kebanggaan daerah mengikat sejarah, dakwah, dan kehidupan masyarakat dalam satu ruang yang sama. (**)
Sumber: Beritasatu.com
Penulis: Rainila Otek, Mahasiswa Magang Unitri Malang
Editor: Danu
What's Your Reaction?

